Puisi-Puisi Mohammad Aufa Marom

Puisi Mohammad Aufa Marom

Ilustrasi/Rizqi Ramadhani Ali

Takdzim Zaman

Kepada kalian

yang mengemban amanah rakyat

Kami hanyalah nurani yg menggeliat di selasar zaman

Kalian patukkan paruh tajam kalian di punggung kami

Maka geliat kami kian menjadi m’gerus tembolok kalian

 

Kepada kalian

yang tak ada pilihan menguak pintu harapan

Tak usah menyesali jalan yang dibungkam kezaliman

Tak usah pula kalian tanam dendam di antara resah yang diam

Sebab dendam: rasa yang tak pernah diiringi senyum Tuhan  

 

Kepada para bijak

yang mendiami ruang antara kami dan mereka

mari menempuh langkah dengan mengesampingkan hasrat murahan

janganlah beranda ini kalian suntuki dengan celoteh kesemuan

sebab baik buruknya sebuah generasi sangat b’gantung pada hati zaman

 

2018


Pusaran

 

Lihatlah pusaran badai itu

sungguh ini bukan sekedar sabung angin

bukan pula amuk alam

di dalamnya tampak geliat buruk sangka manusia

 

Wahai saudaraku

sisihkan dulu amarahmu

yang lahir akibat kelakar begawan negara

lalu tampilkan jiwa kasihmu demi sejuknya bumi pertiwi

 

Wahai saudaraku para pecinta

sarungkan kembali buruk sangkamu

sebab Tuhan lebih mendahulukan kasih dari amarah

Berbaik sangka tak akan pernah menggelincirkanmu

 

Ia menaklukkan segala pusaran badai

 

2018


Derap Langkah Si Kuda Liar

Seseorang bertanya: “siapa aku?”

Aku kuda liar yang lepas tali kekang

 

Ketika hutan nurani dibabat habis para pecundang

meringkik dengan mata nanar,

terbakar amarah yang nyaris membakar segala semak

 

Kaliankah itu yg merangsek di semak-semak?

Di gedung-gedung megah, ilalang menghuma dalam rimbun yang liar

mari beradu keliaran denganku, beradu derap hingga habis nafas

 

Tak usah kalian lempar seutas tali jeratan

Tak usah kalian bersusah payah menjinakkan

Sebab nurani adalah jiwa yang hanya luluh di Tangan Tuhan

 

Kalian tahu Tuhan, bukan?

atau pura-pura tidak tahu

atau Tuhan telah kalian sembunyikan

di negeri yang senyap

 

Atau lebih dari sekedar tahu dan telah kalian kenal

hingga kalian Tuhan di kedalaman hati

mengajaknya bercengkrama: “Tuhan,

di sini aku menyuntukimu, tapi di luar sana

anak bini lbih membutuhkan perhatianku”

 

Namun sungguh, si kuda liar masih melihat nyata kebijaksanaan

Di mana kasih lahir lebih dulu ketimbang amarah

Ringkikannya serupa erangan panjang

 

Kemanakah kita hendak menjejakkan kaki?

 

2018


Inikah Peradaban (Kita)?

Apa lagi yang menarik dari senyum negeri ini

Tatapan-tatapan mata penuh curiga

 

Tindakan: kini saling mengancam

jiwa terbelah oleh desakan arus peradaban

manusia menjelma burung unta yang dijegal

karena kegeraman tindakan yang tak dikenal

tertawa juga dalam kekalahan

 

Salah siapa, ini salah siapa

Dosa siapa, ini dosa siapa

Tanya dalam relung hati ini

 

2018


Kepada Saudara-Saudaraku Yang Dipinggirkan 

Saudara-saudaraku yang mulutnya terbungkam dan jiwanya memekikkan sepi

 

Ayo,

darah yg mengucur dari batinmu, tampung di tabung waktu

pahatkan di keningmu keyakinan bahwa Tuhan tidak main-main

tatkala Ia menganugrahkan kepadamu hak atas negeri ini

 

Mulutmu yg sepi dan tanganmu yg terkunci bakal mengetuk pintu

Kesetiaan dan lelaku hidupmu yang akan menentukan

kapan Ia mengucapkan satu kata yg mampu menggetarkan semesta

 

Lalu, tabung waktu itu menumpahkan darahmu

menjadi cakar-cakar suci yang menyerbu seluruh negeri

memasuki gedung-gedung, kantor-kantor, dan ruang-ruang kekuasaan

 

Ini adalah sejarah, bersembunyi, dan saksi yg abadi

 

2018

DIPUBLIKASI

Mohammad Aufa Marom

Penulis sastra beraliran sufistik, peminat puisi dan pantun, serta pengulas litersasi keagamaan dalam ranah tasawuf. Pengarang yang lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, 7 April 1995 ini tengah mendirikan paguyuban seni dan budaya "komunitas alas samper" dan telah menerbitkan buku "Ceracau alam dari Tuhan"