Puisi-Puisi Ahmad Radhitya Alam

no credit image has set for this picture

Tembok Kesedihan

 

Tembok-tembok kesedihan

Kokoh membayang

Aku kan berontak

Buih kesedihan, kubuang !

Menapaki jalan hidup yang panjang

Melawan badai yang siap menerjang

Luka menggunung

Rindu bergelantung

Di lubuk hati terujung

 

Blitar, 4 April 2016


Negeri yang Kaya

 

Langit kokoh membiru

bawa harapan dunia yang baru

awan-awan sokong impian yang nyata

dalam negeri indah, di bawah khatulistiwa

 

Di bawah awan

negeri indah tersirat warna

gemah ripah lohjinawi, kaya akan segala

Negeri ini memang kaya

kaya orangnya, kaya buminya

kaya agamanya, kaya budayanya

kaya akhlaknya, kaya amarahnya

kaya pejabatnya, pun kaya pula penjahatnya

 

Ini negeri kita, negeri orang bersahaja

negeri elok penuh cerita

jagad puspa warna, untaian

zamrud khatulistiwa

Tanah tempat bersimpuh, mengaduh

Air tempat membasuh, luruskan hati yang lusuh

Gantungkan impian di atas awan

;  harapan

 

Blitar, 22 Maret 2016

 


Fragmen Rindu

 

Rinduku seteguh besi

Menunggumu di gelap sunyi

Luka elegi menggunung

Pada palung hati terujung

 

Semburat cerita luka

Segunung tinggi derita

Hancur jiwa musnah

Menunggu tanpa arah

 

Blitar, 7 April 2016

 


Muara Rindu

 

Malam tak lagi purnama

Hilang gemintang yang dahulu menyala

Sepi sunyi tanpa suara,

Hilang sudah rasa

 

Merajut satu persatu harap

Berterbangan rindu tak bersayap

Berkumpul membelenggu malam

Yang kian waktu semakin kelam

Lorong imaji angan yang sembilu

Gugurkan tanya pada muara rindu

 

Mengayuh harap pada mimpi

rindu yang api

 

Blitar, 24 April 2016

 


Perakit Kata

 

Menuangkan angan pada harapan

Kata-kata tak bertuan

Menembus ruang imaji

Hingga libas lorong persepsi

 

Para peramu bahasa

Merakit aksara menjadi kata

Tanpa ragu tanpa ambigu

Menyusunnya menjadi satu

Hingga lahir dari rahim aksara

Kalimat kuat pengubah dunia

 

Di saat para teroris merakit bom

Kau sibuk merakit kata

Di saat korupsi penguasa merajalela

Kau teguh dengan mosi tidak percaya

Kritik-kritik yang kau lempar

Seperti udara yang diumbar

Menusuk dan menyambar

Kukuh teguh dan takkan gentar

 

Blitar, 30 Mei 2016

 

DIPUBLIKASI

Ahmad Raditya Alam

Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, dan Malang Post.