Puisi-Puisi Ana Widiawati

Ilustrasi Puisi Ana Widiawati

ilustrator: Rifky Pramadani

Perempuan Kamboja

Teh lemon, wedang uwuh, angin kota tua

dan dialog senja

Kami sepakat untuk menyekap petang bersama

 

“Aku,

kamboja yang mekar dari ibu;

pohon kuburan sendu.”

ia menawarkan teh lemon

dan cerita-cerita tegang

menjatuhkan hujan

 

“Aku,

anak ibu.

Berpamitan kepada penyair

dan lelap di rahim.”

aku menawarkan setengah cerita

tetap diseduh dengan

kegetiran utuh

 

Sebelum pungkas dan kami

menuntaskan temu dengan menggenggam,

mengucap selamat tinggal pada malam yang mengaku resah,

aku menemukan kamboja mekar

di matanya,

dan mata perempuan-perempuan lain

 

Yogyakarta, 2018


Kota Asing

 

Di kota asing selamat pagi diucapkan dengan gemetar

anak-anak mengeja masa depan dengan kegagapan

dan keberanian hampir runtuh

sementara  kota semakin jenuh

keriuhan dibangun dengan angkuh

Banyuwangi,  2018


Kita Memesan Puisi Saja

Besok,

kita mendidihkan rindu saja lama-lama

di rumah tanpa gula

dengan aroma ketumbar

dan dua gelas teh hambar

mengeja kertas-kertas tagihan

menyelami pekerjaan membosankan

 

Besok,

kita menunda jalan-jalan

tidur di ranjang sambil memeluk kehidupan yang bergetar

membisikkan ketenangan

meski jam dinding menyindir

“Pecundang!”

 

Besok,

kita memesan puisi saja

di cangkir retak

dari puan berkepala krisan di ujung jalan

menyanyikan kidung-kidung harapan

dengan terpejam

Malang, 2018


Tuhan Tidak Hadir di Sini

Sejak senja menjadi diam,

ia sering mengetuk pintu dengan setangkai sajak lelah

Tuhan tidak hadir di sini, katanya

tetapi jalanan dan sandal masih cukup tabah

menerima bau mulut, rambut lepek, dan keringat apek

 

Tuhan tidak hadir

di tanah yang menghidupi

menumbuhkan bunga, jagung, padi, sawi

sampai rumput teki

 

“Ketika Tuhan tidak hadir di sini,

jemputlah pagi

agar senja tidak berdiam lama di mata mereka,”

kataku,

tabah dengan kesadaran:

ini ketukan pintu terakhirmu sebelum menjejak panjang

dan kurawat tangkai-tangkai sajakmu

diam-diam

Malang, 2018


Puisi yang Mati

Kepada pagi hari,

sempat singgah di sebuah meja kosong;

selalu bermakna: aku sedang mencintai bunga-bunga,

bau rempah-rempah, dan aroma tembakau

 

Aku menyiram pohon kamboja di matanya

dengan puisi-puisi yang mati

bahkan tak terkabar kelahirannya yang sepi

meski dini hari telah terpenggal di warung kopi

kemudian pagi hari datang sembari meneguk sepi

 

Tiada puisi,

karya klasik seorang yang jatuh hati

maupun patah hati

Aku telah mengabarkan kematian pada kekasih

melalui surat-surat yang membusuk di bawah bantal,

krisan-krisan yang patah,

secarik kertas,

“Selamat berduka atas puisiku yang mati.”

DIPUBLIKASI

Ana Widiawati

Mahasiswi yang masih suka menepi dan menyepi sambil menyeduh diksi