Puisi-Puisi Anatasia Anjani

Ilustrasi Sastra Puisi Anatasia Anjani

Ilustrasi/Rizqi Ramadhani Ali

Menatap Matamu

 

Menatap matamu bukanlah sebuah luka

apalagi duka

Menatap matamu bukan sengsara

apalagi derita

Menatap matamu isyarat

bahwa cinta bisa sesederhana hanya

dengan menatap matamu

Batu, 15 Februari 2017


Supaya Baik

 

Perihal buruk yang menimpa hidup

Percaya semua kan baik-baik saja

Ingin rasanya percaya kalimat itu

Memastikan dirimu baik-baik saja

Jangan biarkan pikiran itu meracuni

Apa yang belum terjadi

Bukan tak akan

Pasti akan, jika sang pemberi kepastian memastikan

 

Tapi kapan?

 

Bukankah ketidakpastian itu hal yang pasti?

Lantas kau menunggu apa?

Cukup tanganmu mengadah saat ibadah

Biarkan Tuhan yang menakar

Kapan dirimu akan tersenyum megah

Setelah resah menunggu pastimu

Batu, 26 September 2018


Sensasi Ibukota

 

Hiruk-pikuk, lalu lalang, dan kerumunan

merupa santapan sehari-hari

Berdiri, berjalan, dan mengantri

Siklus itu terjadi berkali-kali

Padat, terik, bau, dan lusuh

Sudah lama lekat dalam diri

Memang kota ini hebat dalam menempa

Tak apa, bukankah itu yang dicari?

Kuyakinkan diri saban hari

Supaya kita bertemu lagi

Apa yang membuatmu hebat

Tidak pernah mudah bukan?

September 2018


Saat Berdoa

 

Waktu itu ada perayaan kecil-kecilan

Tiap perayaan pasti menyematkan doa

Kali ini doa tidak mengadahkan tangan

Melainkan merapatkan tangan

Tak apa, nuansa baru untukku

Seraya kami semua menutup mata

Kemudian pemimpin doa mengucap kalimat

Isinya ucapan syukur dan harapan kelak

Kami masih khusyuk

Hingga dia sampai pada penutup doa

Untuk Tuhan yang kami percaya,

Dan kami ragukan

Seraya kami tertawa

Padahal doa belum menutur amin

Apa Tuhan ikut tertawa?

September 2018


Tunggu Sebentar

 

Kemarin, aku sedang bermuram durja

Menunggu rezeki bertahun-tahun lamanya

Hingga kami belum ada titik terang yang dinanti

Enggan dusta, pikiran berkecamuk

Kala senggang, kala sibuk

Selalu ada tempat untuk dia

Hati sudah pasti was was

Rasanya ingin berbagi perasaan awas

Datang kawan dengan nasehat mawas

Tak apa jika dirimu ragu

Bukankah rezeki diatur oleh hal yang tak terlihat

Dan manusia selalu meragukan itu

Percayalah hal baik datang

Dari sesuatu yang luput dilihat

Ia akan tiba

Jika telah siap dan cukup

September 2018

DIPUBLIKASI

Anatasia Anjani

Masih mahasiswa, suara adalah ciri khasku. Tertarik pada sastra, film, dan kajian media