Puisi-Puisi Anita Binti

Puisi Anita Binti

ilustrasi/Rifky Pramadani

Semesta Versi Bapak

Semesta baginya adalah kasih sayang
namun terkadang
semesta menjelma kisah sedih tak berkesudahan

Semesta baginya adalah bisa pulang pagi
seusai mengajar di sekolah negeri
buru-buru ke sawah merawat padi
atau sekadar mencari pakan sapi

Semesta baginya adalah bisa sholat tepat waktu
berlatih khotbah jumuah sembari membaca buku
atau menghabiskan senja didepan pintu
ditemani teh manis buatan Ibu

Semesta baginya bukan sebuah candaan
bukan sebuah lucu-lucan
apalagi olok-olokan

Ia mencintai semesta
dengan merawat baik-baik anak-anaknya
memberi pelajaran mengaji sehabis isya
menemani belajar hingga pagi pukul dua atau tiga
sesekali bercanda atau bercerita tentang dunia

Sekali waktu, ia kutanya mengapa begitu mencintai Semesta?
“Semesta adalah setapak untuk memulai perjalanan
ruang untuk tinggal dan berjuang
kalau kamu memang anak Bapak
rawatlah semesta
dengan segenap jiwa
serta memanusiakan manusia lainnya”


Apa yang Kau Tatap Lewat Jendela?

Apa yang kau tatap lewat jendela?
Anggrek yang menggantung di pohon mangga
semut yang berlomba mengusung gula
atau, langkah kaki dan gelak tawa yang tak bisa kau lupa?

Kau hanya tersenyum, dan kembali menatap lewat jendela
menghabiskan senja, dan tak mau kuajak bicara
jalanan mulai ramai seketika
anak-anak kecil pulang mengaji dari surau dekat jembatan tua
sapi mulai dihalau pulang kekandangnya
orang-orang pulang dari pekerjaan yang menguras tenaga

Ah!
Apa yang sebenarnya kau tatap lewat jendela?
selain hal-hal biasa
dan kejadian lumrah tak bermakna
aku tak tau kau sedang menunggu siapa

Hingga suatu ketika
saat sosokmu tak bisa lagi kujumpa
ada yang membuat hatiku sesak lara
bagaimana aku bisa terus bertanya
padahal yang kau tatap lewat jendela
adalah seluruh isi semesta
hal-hal yang ingin kau lakukan dengan sepenuh jiwa
namun hanya bisa kau nikmati dari balik jendela tua

Malang, 2018


Apa itu bahagia?

Temaram malam di Taman kunang-kunang
beralasakan rumput yang baru sore tadi disiram
kita berdua saja, duduk.

Mengamati penjual ceker pedas,
yang pelanggannya makin malam makin deras.

“Apa yang kau sebut bahagia?”

Jebakan untukku yang bingung
dengan sebuah kata bernama bahagia

Bahagia adalah kau bisa tertawa ;
kukarang-karang jawaban dengan tawa bernada sumbang

Kau tampak diam,
lama menatap motor-motor yang berlalu lalang
menatapku lekat dan tersenyum masam

Dalam hening,
kau menunjuk sebuah keluarga
terlihat sorot mata penuh kasih sayang
seorang Ibu yang mengusap wajah anaknya

Katamu,
kau juga tak tahu apa itu bahagia
sampai suatu saat Ibumu memelukmu berkaca-kaca
berkata bangga punya seorang anak penurut sepertimu

Entah apa itu bahagia,
mungkin definisinya tak jauh-jauh dari kasih sayang orangtua,
kebaikan sederhana.
menamatkan sebuah buku saat jadwal sedang padat-padatnya
atau mewujudkan mimpi penjual putu ayu saat kita membeli dagangannya

Bagimu apa makna bahagia?

Malang, 2018


Bangku itu Bernama Vokasi

Ku tanggalkan kantuk dan lelahku
ketika duduk di ambang akhir studiku
lewat tengah malam,
kuhitung lembar-lembar kertas dengan guratan pena
yang bercecer di lantai sedingin es tempatku terjaga

Jangan sekali-kali masuk Vokasi
bila kau gadaikan kompetensi dengan sebuah gengsi
jangan terjun ke Vokasi
bila yang kau kejar hanya reputasi

Mendadak kuingat janjiku bertoga
hutang-hutang membahagiakan orang tua
keluh kesahku pada Sang Pencipta
hingga malam-malam singkat seperti usia

Mendadak terasa :
Duduk di bangku bernama Vokasi
adalah pilihan dan takdir Tuhan
masih patutkah meragukan?
langkah yang ku pilih dan perjuangkan

Nganjuk, 2018


Idjen Boulevard

Seperti juga aku;
apakah hidupmu bermakna?
Seperti juga aku;
apakah hidupmu berhitung soal sesal?
Seperti juga aku;
apakah namamu yang selalu disebut-sebut orang
menyimpanluka, duka, pun nestapa?

Gedung dan rumah megah yang mengisi jantungmu,
tak pernah menutupi kosongnya hatimu
tak pernah menutupi kesedihan
Bapak penjaja buah dengan baju lusuh, dahi mengkerut
yang bertanya dalam benak, hari ini bisa makan apa?

Jalan aspal mulus, dan lampu malam temaram
tak pernah menutupi kegelisahan
ibu penjual gorengan
yang di temani lima orang anaknya
yang takut-takut besok telat sekolah
dan bisakah mewujudkan cita-cita?

Riuh ramai tiap festival
tak mengobati sepi-sunyi
atau muram letih petugas parkir
yang rindu minum kopi buatan isteri
sembari menonton sepak bola di  televisi

Seperti juga aku;
apakah kau
terlihat ramai dengan sorak-sorai
namun mengubur sepi di tiap ruang hati?

Malang, 2018

DIPUBLIKASI

Anita Binti

Mahasiswa vokasi tingkat akhir. Calon ahli gizi yang diam-diam mencintai indomie, menggemari karya-karya Sapardi, dan diksi-diksi magis bernama puisi.