Puisi-Puisi Asrofi Al-Kindi

Puisi Puisi Asrofi Alkindi

credit: starkinsider.com

“Merdeka yang Hakiki”

Sudah berkali kita merdeka,

Dari sperma-ovum dan rahim ibu, kita merdeka tuk pertama kali.

Melewati masa anak, yang rentan akan bahaya, kita juga telah merdeka.

Namun saat kita mengenal dunia, takdir berkata beda.

Kita mengenal politik, cinta, ideologi serta agama.

Yang membuat kita berjarak dan lupa akan Kemerdekaan kita.

 

Waktu memintal nasib, serta menglaju deras, namun kita semakin hilang.

Dalam noktah-noktah kepalsuan yang tak terbaca oleh mata keadilan

Suara sunyi kan terus bertanya,
masihkah kita Merdeka?

 


“Pendosa Pahala”

Aku tak sendiri, tuhan selalu disampingku…
tinggal aku mau mengingatnya atau tidak….

Tuhan, aku dekat-engkau dekat
Tuhan, aku jauh-engkau jauh

dan Tuhan bukanlah sekedar slogan
dan Tuhan bukanlah alat untuk menghancurkan
#sadar

 


“Hijabers Struggle”

kucing hitam dari tadi mengawasiku
suara keyboard yang kuketik tak membuatnya jengah
matanya terus mengawasiku
lambat laun aku merasa risih

saat laporanku selesai
kucing itu tiba-tiba duduk
membuka bajunya dan bertelanjang
aku bilang padanya: aku tak bernafsu

lalu ku tulis roman kehidupan
si kucing perlahan berubah menjadi wanita
karena takut dia telanjang lagi, kututup mataku
namun si kucing pergi, dengan jilbab yang terurai

malang, 20-11-14 7.36. ukm

 


“Masuk Surga Jalur Non-Formal”

ketika kecil
kudengar dongeng tentang surga

indah membahana
namun terbatas hanya untuk yang berpahala

beranjak remaja
kukira berpahala sama dengan malaikat
putih-berjanggut-selalu memuja nya

menjelang dewasa
kusadari, berpahala tak sekedar kata

banyak yang merasa
tapi lambat laun menjadi berhala

berpahala ternyata lebih dari sekedar retrorika
berpahala ternyata bisa bermuka neraka
berpahala tumbuh dari kesadaran
walau terbungkus kertas berdebu dan koyak

hingga tersadar, kita bisa masuk surga
dengan jalur non-formal

malang, 3.11.14.02:19

 


“Penjamuan dan Penistaan”

Aku telah buta
Kukira terdampar di gurun

aku telah tuli
Kukira terasing di belantara rimba

Aku telah bisu
Kukira terbenam dalam rumah tuhan

Betapa bodohnya aku…..
Aku lupa membuka mata
Aku hanya minta dan minta

Tak kusadari aku disurga
Berselimut harmoni
Tapi kututup telinga

Tuhan….
Dengan apa aku tersadar?

Masihkah kau mengundangku…
Dalam penjamuan terakhirmu….

Malang.00.00.26.10.14

 


“Terbenam dan Tersingkir di Surga”

matahari sore membakar udara
mengepisodekan merpati putih
yang melihat dikejauhan
keberagaman, kedamaian, keindahan
yang terkoyak nafsu-nafsu manusia

mengilustrasikan buruh
menghalusinasikan penderitaan nelayan
mengencingi mimpi-mimpi petani
dan merobek-robek harapan minoritas

tuhan, mengapa kau pergi?
kembalilah!, kami merindukan mu
kami merindukan harmoni
yang kau nyanyikan
saat fajar mulai tenggelam

 


“Topeng”

 

hari ini dia kehilangan topengnya
stelah topeng-topengnya terbawa oleh asap rokok

kemarin dia kehilangan topeng yang ke duabelas
topeng yang menutupinya dari syakwa sangka

lusa dia kehilangan topeng ke ke sembilanpuluh enam
topeng yang menutupi dari methodisme politik

dan besok, dia tak mau kehilangan lagi.

 

DIPUBLIKASI

Asrofi Al-Kindi

Mahasiswa Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Penulis bergiat UKM Penulis UM dan Serikat Penalaran dan Sastra ilmu Sosial (SPSS) FIS UM. Karyanya terkumpul dalam buku puisi Sunset di Tanah Anarki (2014), antologi puisi “Mata Air” Gemulo dan Gubuktulis.com