Puisi-Puisi Dewi R. Maulidah

no credit image has set for this picture

Langit-Langit Di Kepala Bisu

Mereka tak mati,

hanya pernah tiada dari sentuhan.

Mereka tak mati,

hanya bungkam di ruang jalan.

Mereka tak mati,

hanya sebagai ketiadaan.

Ada kata-kata yang tersimpan dalam rongga,

melangit menaiki tangga-tangga yang begitu halus pada dakian petir yang terus bersautan, ada yang berlarian di ruang-ruang udara hingga memeluk angin yang membadai dan mengawan, dan melesat menuruni bukit-bukit yang tak bernama.

Ada jiwa-jiwa yang berdiam di lorong-lorong kepala

dan dunia.

Pada dunia yang ada

dan yang akan ada.

Namun, kata-kata itu berlari terlampau tinggi, menyusuri langit-langit yang tiada henti

hingga mereka temui yang tak mampu ditemui dengan diri,

hingga pada permainan atau uji coba,

hingga diri menjadi pantas

dari apa atau siapa.

Lalu apa-apa yang tak terbentukan dalam kata

sekalipun pada yang tak mampu diisyaratkan oleh kepala.

Tak peroleh restu untuk mengungkapkan

dalam pengembaraan semesta.

Semakin pun semakin,

dan merunduk

dalam ombak-ombak ingin yang melambai.

Malang, Mei 2016

 


Lorong Bawah Awan

Di bawah lantai udara yang membumbung tinggi hingga bertumpu bunga-bunga semesta.

Di bawah lantai udara yang mengawang-awang taman harapan.

Ada yang menjadi layu bagai abu

dan menjadi padang yang tenang.

Tiap kita ada yang memandang, menengada, dan hilang

dari apa-apa yang ada.

Dalam jalan-jalan yang terlalui

terlampui

dan terhindari.

Kita bagai bakteri dan jamur-jamur yang melindap dalam bawah permukaan tanah,

menjadi tumbuh atau membusuk,

tumbuh dalam bunuh,

busuk dalam sembuh.

Suburlah apa-apa yang akan tumbuh dari kita,

untuk kita,

petaka atau sejahtera.

Dalam lorong-lorong yang terlalui

terlampui

dan terhindari.

Kita menyusuri gelapnya kepastian langkah,

dengan bintik-bintik cahaya yang tersimpan dalam keyakinan

atau jalan yang terang pada pekatnya pikiran.

Tiap kita ada yang memandang, menengada, dan hilang

dari apa-apa yang ada.

Memandang awan yang berduka

atau terlalu bahagia

dalam gelap-gelap yang tak menyesatkan

atau padang-padang yang membutakan.

Menengada pada lantai

atau atap yang menjuntai.

Hilang dari malam dan siang,

tenggelam menembus belahan

atau terbang melesap.

Dan,

atau kita memilih terhimpit,

lalu

lenyap.

Malang, Mei 2016

 


Hilangnya Sang Hari

Ke mana mata

yang padang

yang melahirkan hari?

Dia timbul hilang,

dan kembali datang

lalu tenggelam.

Ke mana nyawa

yang nyala

yang menghangatkan bumi?

Dia melambai di ujung senja

dan hadir di ufuk timur.

Ke mana dia?

Lalu, tampaklah sedewi

melahap bola api yang menyala-kala

Dia pun menelannya,

dan hilang.

Malang, Mei 2016

 


Kau

 

Pada setiap perkawinan yang kusaksikan.

Setiap ruang yang saling bertautan.

Setiap butir yang bergelombang menjadi pengabdian.

Semuanya tak sempurna sebelum kutiada.

Semuanya tak beraya.

Sebab

aku tak menjumpa

jiwa

yang

entah

apakah

ada.

Ada-tiada.

Setiap kata yang ingin kutulis dalam halaman yang menyala terang di kegelapan ruang yang padam.

Kau memagut dalam khayalku yang berlompat-lompat ingin keluar dari sumur yang begitu tak terang.

Sampai kapan kau yang tak pernah kujumpa yang adalah hanyalah kegilaan yang tak bersandar pada logika.

Hingga kudapati mimpi kau menabur benih di pekarangan belakang rumahmu yang dulu sering kulalui dan hanya berjumpa pohon jambu.

Hai,

entah namamu samar-samar teringat dalam kepalaku hingga mengendap dalam jutaan mimpi yang berulang bagai rol film tanpa jeda yang entah kapan habisnya.

Hingga kurangkai namamu dengan berbagai luang yang terisyarat dalam skenario pada buaian mimpi yang terus melambai.

Kuutak-atik tiap fungsi aljabar yang terprogram untuk menemukanmu,

hingga sederatan kata kunci yang bertambah kurang dan ganti hurufnya.

Namun, tetap kau bagai matriks yang tak pernah selesai kujumpai hasilnya.

Kau sungguh

bagai pencipta dalam Pencipta.

Kau atau aku yang adalah

siapa atau apa.

Hingga bila suatu masa kuragu,

dan kau adalah dusta,

maka aku hanyalah debu.

Dan kau,

tetap

ada

tanpa

a-ku.

Malang, Mei 2016.

 


Kembali

 

Aku akan hidup ke sedia kala, dengan bisikan-bisikan doa sederhana.

Yang menggertak-gertakkan hidup lebih bermakna.

Aku akan hidup ke sedia kala.

Tanpa hujan yang meragukan kabar.

Tanpa secangkir kopi dan pena.

Tanpa bicara senja dan fajar.

Aku akan hidup ke sedia kala.

Hingga ke daerah yang akan datang.

Dalam padangnya padang.

Malang, September 2015

DIPUBLIKASI

Dewi R. Maulidah

Alumni Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra Indonesia. “Setiap kita akan kembali bermuara pada sederhananya pertemuan. Pada sajak yang dilalui meski hanya berupa mimpi atau sapaan.”