Puisi-Puisi Dinda Ayu T.M.

Puisi-Puisi Dinda Ayu T.M.

Ilustrasi/Rizqi Ramadhani Ali

Klorobutana

 

Karbon membentuk skeleton, satu klor

Da duduk manis di tempat

dikuliti sampul buku, mulai dari berat badan

hingga batas tak wajar: “C4H9Cl.”

seolah dari nama, kalian tahu semua

 

Tahukah kalian, dia suka menata kursi bersebelahan

kebiasaan yang membosankan dan naif

Meski Bromo menyuruhnya memperluas sudut pandang

“Masa bodoh, untuk apa?”

zona nyaman selalu aman

 

Kuping menebal

Dan dia gampang terbakar

Andai dia mau mengubah letak kursi

api takkan mudah menjalar

 

Malang, 17 Maret 2016


 

Tangis Permen, Air Semen

Aku sudah mendengar jawaban indah

sebelum aku bertanya

di bosannya matakuliah proses industri siang itu

 

Sekarang aku membaca kabar duka

di media-media daring

bahkan aku lupa kapan terakhir kali mereka kudoakan

 

Salam untukmu, Bumi

Surga untukmu, Yu Patmi

 

Aku mendengar soal manfaat semen,

proses produksi, dan pemanfaatan lahan

di bosannya matakuliah beberapa waktu lalu

Tapi, aku memahami pentingnya air

damainya sawah, dan bersih udara

bahkan sebelum aku masuk sekolah

 

Mereka melawan untuk kebaikan masa depan

Tapi peluh mereka diludahi enteng

Tangis mereka pun dibilang permen;

tampak manis, padahal kecil

Makin dewasa orang-orang makin diabaikan

terutama oleh yang mengaku gagah

 

Kurasa, kantong air mata orang-orang itu turut disemen

demi banyaknya nol rupiah

semoga tidak dengan nuraninya

 

Kelas kosong, Maret 2017


 

Laskar Cumulonimbus

 

Penduduk awan mengeluh-ratap

bahna terik bagaskara tak teredam rayuan jarum-jarum hujan

Mereka menyesal pindah ke langit

sedang kemarin beceknya tanah dipandang jijik

 

Tuan, tetesan ini sungguh bukan tangisan

melainkan serapah ludah. Berjama’ah

sesekali banjir peluh pula

Rakyat pelan-pelan hilang nama

tinggal menunggu lelehan isi kepala

 

Dari negeri sesiklus awan

hancur, bangun, lebur, tenggelam

tak ada habis

Perubahan melahirkan perubahan

negeri awan terbuai tekanan,

temperatur, humiditi (kelembaban) dan

kepak kecil burung-burung pipit

Megah bukan jaminan bahagia

bagaimana wajah negeri ini sebenar-harusnya?

 

Malang, 16 Mei 2016


 

Anak Teknik dan Calon Simpang

Kawan, kau lebih berdaya dariku

Suaramu berwibawa, badanmu tinggi, tinjumu pasti kuat sekali

Jarak Kulon Progo hanya selemparan batu

Kenapa kau memilih tidak tahu?

 

Celotehku mungkin sulit kaupahami

Matamu berkata aku aneh

Apakah kita harus mengurus penelitian siang-malam

berinovasi cuma di lomba-lomba,

menghitung untung-rugi alat industri,

mendesain dan memantau bangun lalu digaji tinggi

Mengapa kita tidak lebih membumi

mendengar suara-suara yang dikebiri

 

Kawan, sekarang kita berdiri

di tempat yang sama, tertawa, dan berkolaborasi

Apakah kelak kita berdiri

di tempat yang sama tapi berbeda sisi?

 

Cilegon, 13 Februari 2018


 

Retoris

Apakah di sini kami damai

atau belum giliran diterpa badai?

 

Apakah di sana mereka benar

atau keberaniannya yang kurang ajar?

 

Apakah penggusuran mengenal bulu

atau hanya menunggu waktu?

 

Apakah yang digusur selalu kalah

atau negara maha segala?

 

Apakah mempertahankan tanah

berarti menjadi lawan negara?

 

Apakah aku dilarang mampir

karena membahasnya sudah sebuah dosa?

 

Apakah Ibu, Kakak, dan tetangga-tetangga benar

bahwa kita harus diam saja?

Apakah yang pantas menangis marah

atau tertawa hampa?

 

Pasuruan, Mei 2018

DIPUBLIKASI

Dinda Ayu Taufani Mahardika

Cuma makhluk random yang kerap dirisak "salah jurusan". Sedang berusaha menyelesaikan 'perang' sekaligus menyemaikan cinta terhadap jurusan. Salah satu lapak tidak jelas Diatama adalah diatamahardika.blogspot.com