Puisi-Puisi Muhammad H Heikal

no credit image has set for this picture

 Tutorial Ritus Suci

 

Begitu terbangun aku menutorial cahaya

Agar mengarah pada petikan gitar bertalikan

Tulang halus bagai dawai sebelum Azare

Menyematkan kenang juntai helai legam

Pipimu lumut sungguh lembut seketika

Bunga lili kecil malu-malu rekah menyerah

Pada hampa terbagun gigil tersuruk jiwa

Sementara berkoneksi mencari cinta gulita

Mengasap jelaga: duhai purnama kemanakah

Imajinasi aku terbangkan bersama belati

Lantas lazuardi mana yang kau minta

Bukankah tengah malam tadi kau tidur

Dibelahan payudaranya yang ranum

Dan harum menatap nafsu mata birumu

Ah, ya cengkrama itu hasil paduan buncah

Nafas pelumat bulir-bulir air suci hingga

Melahirkan ritus waktu disekelilingku

Aku tak rela matanya mengobar iris

Pedang dari balik lipatan piyama beludru

Sungguh, aku menunggu restu takdir

Dan akan berakhir.

 

Medan, September 2016

 


Pesta Ulang Tahun di Langit

 

ada pesta ulang tahun diatas langit

entah bagaimana aku bisa diundang

tentu aku berencana datang

tapi syaratnya harus membawa pasangan

aku mengadu pada linangan airmata

masih adakah bidadari yang belum terjamah

ditempuh pagutan sesat dan menyekat

 

cobalah susuri malam, disana kau bakal

temukan cahaya: dimana ia berada

anggun disinggasana seraya tersenyum

memandang purnama, menunggu kau

mengajaknya kepesta ulang tahun

diatas langit, bersamanya

 

sebelum berangkat terbang, jangan

gunakan barang sehelai benang

sebab dalam perjalanan kalian

akan bercengkrama, hingga ingatan

sepenuhnya lekang

 

pesta ulang tahun dilangit

memantulkan binar-binar bintang

sejuta gelak dan riak warna

dalam paduan aroma cita

menawan rasa

 

Medan, September 2016

 


Pembicaraan Lekas

 

Selamanya kita tak pernah pergi, selamanya kita disini

tubuh kita menjadi beton, tulang-tulang kita menduri

Menikam diri: lihatlah, tak ada yang berhenti

semua sibuk sendiri, mengusangkan letih

Sementara kita bagai linangan menghilir

antara genangan dan hamparan

Hingga terbit purnama: mewarnai rupa sebelanga

memanjat batu-batu agar melumur bibir pucat

Merintih, membakar impian tentang kepergian, atau

kita dapat menggantinya menjadi kematian

Sebab memang begitulah muasal kita disebut, atau

kadangkala menyebut lafaz-Nya, sayangnya

Ya, sayangnya kita bukanlah Kita

kita telah dituliskan sesuai apa yang terkehendak

Entah patah pada pijakan keberapa

sesekali kita menenung doa, atau sesekali asa

Selamanya kita tak pernah pergi, selamanya kita disini

Menanti.

 

Padangbulan, 2016

 


 Penjemputan

 

Berpikir, takdir, getir: kecemasan

Kesinikan kulit willow, sayap elang

Segenggam kebekuan jiwa merasa

Tiada Arti, menemukan Mati

Ini bukan persoalan karet, terlilit

Lidah ular menjalarkan bisa

Dan aroma terkira banyaknya

12 alinea, tanpa kolom, tanpa baris

Hanya prajurit minions, lengkap

Bersama pisang-pisang raja, kemuning

Betul-betul bingung, menceracau kuning

Temali yang terukir dalam gulungan

Candi-candi dan plaza-plaza

Telah runtuh dibilas airmata

Kaum-kaum berjubah hitam, melesat

Bagai kilat, seribu malaikat!

Begitulah, maka begitulah

Susunan pola numerik, topi baja

Selimut kulit kuda, yaitu: perang

Menuju arah kita, sedia membantai

Kita, ingin sendiri. Hanya darah

Dan potongan lidah, akan dibakar

Dan disantap bersama ludah

Esok malam, sungguh indah.

 

Padangbulan, 2016

 


 Mitos Kesendirian

 

Bersama-sama: kita menceburkan diri dalam

Mitos-mitos kecemasan, berdiri kaki sendiri

Memamahbiak segala yang merangkak

Sekalipun bayangan itu dirinya sendiri

Bayangan itu kemudian, diam-diam

Menyantap siang yang mengoyak, tanpa ragu

Jiwa-jiwa kelabu teronggok disudut ruang, bisu

Dan kita kembali mencemari lelehan air suci

Dalam belanga, tempat kekekalan telak, kalah

Dari segala mimpi, terjaga dikala purnama

Penuh, purnama ke 17 setelah musim salju

Digurun seribu debu, kita larutkan mitos-mitos

Agar bersatu bersama kekecewaan kekesalan

Kerisauan pisau, menyadari kemajalan mengiris

Pinggir rongga-rongga hati, kala itu sisi-sisi

Makhluk dari azali bertanya, tentang

“Bisakah kita khidmat sejenak, melafazkan

Sejuta riak yang mengganggu, dan menunggu.”

 

Medan, 2016

 

DIPUBLIKASI

Muhammad Husein Heikal

Lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Berbagai karyanya termuat Horison, The Jakarta Post, Kompas, Analisa, Waspada, Mimbar Umum, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Riau Pos, Haluan, Sumut Pos, dll. Tengah menggarap penyelesaian manuskrip puisi Ritual Luka.