Puisi-Puisi Novy Eko Permono

Puisi Puisi Novy Eko Permono

(no credit image)

Salam Bahagia

Setelah senja turun kau tersenyum sendiri

Pada cahaya yang jatuh di danau belakang rumah

Dengan lempengan coklat kesukaan

Yang konon bisa mendatangkan kebahagiaan

Pada genangan cahayanya

Kau mengeluhkan luka

Cinta dan kenangan yang pongah

Menyata pada senja yang pasrah

Pada senja yang purna

Kau mengunyah coklat dengan senyuman

Menghapus segala kejengkelan-kejengkelan

Senyummu salam kebahagiaan

2016


Hari Pemungutan

penghujung sore di rumah makan

anak-anak panti asuhan

riuh tak karuan

senang tak berkesudahan

diundang pengusaha kenamaan

semoga bukan pencitraan

mengingat besok, hari pemungutan.

02/1/2017


Duka Alam: Kendeng

Ibu Bumi wes maringi

Ibu Bumi dilarani

Ibu Bumi seng ngadili

Pada jalan menuju desa dikelilingi kubangan-kubangan kerbau, kebun-kebun tebu dan senyummu yang lugu

Desa dengan sebaran pematang sawah

Burung-burung bercerecet di ranting pohon, rimbun angin yang semilir menggoyangkan dahan-dahan patah

Pandanglah udara terbuka, padanya terdapat cahaya kesegaran nyata.

Lihatlah pada langit basah itu pernah kau titipkan, gumpalan-gumpalan mega merah muda

Pada desa Watuputih, angin mengayun lirih

Melestaraikan alam hanyalah dalih

Pabrik-pabrik terbarukan dari rahim Sang Tiran

Gerimis air mata langit, datang duka tak berkesudahan

Alam tak dilestarikan

Alam menjadi liyan

Alam dukamu tak berkesudahan

 

12/12/2016


Bapak

Sesore tadi sepulangnya dari pabrik batako,

Bapak duduk di emperan rumah, melolos sebatang rokok, menyelinapkannya di bibir.

Sembari mencari-cari korek,

Lalu menyesap kopi, menghisap rokok, memandang rerumputan, ketenangannya tak berubah.

“Kenapa berdiri di belakang pintu, Nak?”

“Kemarilah duduk bersama Bapak.”

“Tidak usah. Bukankah Bapak berjanji mengajakku ke Pasar Malam nanti? Bapak harus lekas mandi.”

Pada mandinya, Bapak menemukan dirinya sendiri,

Keriput, otot-otot yang mulai kendor, dirinya tak muda lagi

Angin menggerakkan daun-daun Mahoni di halaman rumah.

Menyelinap masuk lewat kusen-kusen

Merayap ke ubin hingga loteng

Ayah berjalan santai, bercakap sebentar di teras, kami siap berjalan-jalan.

Setelah melewati tiga kelokan, tibalah kami padang rerumputan, orang bilang itu lapangan.

Disanalah Pasar Malam diadakan, ada Tong Setan, Rumah Hantu, Komedi Putar dan favoritku aneka jajanan.

Malam yang menentramkan, Bulan bergetar-getar di atas riuhnya lapang(an).

Jam sembilan malam kami memutuskan pulang, meninggalkan semua yang tampak menyenangkan

15/12/2016


Mengenal Pagi

Sejak itu aku mengenalmu, sebagai pagi: daun-daun gugur pada mulut ikan tepian kolam. Kumpulan embun nan riuh berharap tumbuh menjadi mata air, saat malam.

Sulur sinarmu lembut, pelipur lara hati yang merajuk

Cahyamu hangat, tak ingin segera beranjak

Lalu kau bercerita, tentang nama, tentang awan, tentang hujan yang selalu datang

Semua itu mengusikku, mengaburkan rasa yang pernah jatuh pada rengkuhmu

Kepada pagi: bukankah kau berjanji pada mentari untuk menantinya disini.

Kini gigil dan sepi menjalar lambat di tepi kolam

Aku berpeluk pada tubuhku

Sejak itu, sebagai pagi: pergilah,

sudah ku bilang, aku tak mau bicara lagi.

Wonogiri, 16/01/2017

DIPUBLIKASI

Novy Eko Permono

Penggemar tempe ‘mendoan’ garis keras. Saat ini aktif sebagai koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Wonogiri. Terkadang bermain peran sebagai ‘guru’ di Teater Dua Sisi SKND. Dapat disapa via email: [email protected], fb: Novy Eko Permono.