Puisi-Puisi Rifky Pramadani

Ilustrasi Puisi Rifky

Ilustrasi/Rizqi Ramadhani Ali

Manten Anyar

 

Aku menikah di umur 25. Masih cukup muda

Baru mentas dari sekolah

Belum lama bekerja

Masih merepotkan orangtua

 

Istriku lebih tua. Dua tahun

Ia seorang pekerja keras

Menuntaskan kuliah dengan cepat

Karirnya juga cemerlang

 

Ada dua kebahagiaan yang pelan-pelan hilang dengan pernikahan

Pertama, melajang. Kedua, masa muda yang menyenangkan

Hanya kalau kau cukup beruntung

kau tidak kehilangan apapun meskipun tidak lagi melajang

 

Aku percaya diri dengan lidahku untuk mengecap makanan

ketimbang istriku

Itu sebabnya, tugas memasak aku ambil alih

Begitu pula tugas-tugas yang mesti dilakukan istri lainnya

Orang-orang cuma bisa geleng-geleng kepala

 

Sebagai manten anyar, kami membikin sebuah perjanjian

Tidak perlu bermaterai, dan kami merahasiakannya dari orang-orang

 

Sepulang dari kami bekerja, kau pasti tahu

apa yang kami lakukan tiap malam

Aku paling suka menghapus riasan yang istriku pakai sejak pagi

Melakukan hal-hal menyenangkan dan seterusnya

juga berebut tidur belakangan

“Sampai jumpa jam tujuh pagi,”

“Satu lagi, nanti jangan lupa matikan lampu,”

 

Malang, 2018


Sarung

 

Tiap lebaran, aku memilih duduk manis di ruang tamu

menemani Mbah putri menyambut tetangga-tetangga yang berkunjung

Sebab, ia salah satu yang tertua di kampung

 

Di meja, suguhan-suguhan berjajar, dan tampak menggiurkan

Ketan dan tape racikan Mbah selalu jadi buruan

 

Khusus untuk lebaran, penampilanku agak berbeda

Aku mengenakan sarung dan kemeja lengan pendek

Supaya pantas

 

Sarung favoritku itu berwarna hijau tua

Dengan sedikit motif dan dihias garis merah dan emas

Sarung itu adalah sekian dari sarung milikku

Di lemari, ada empat kotak sarung baru

Satu di rak alat salat, dan satunya lagi yang kupakai

 

Jumlahnya tinggal enam karena tiap lebaran,

Ibu suka memberikannya ke orang-orang yang lebih membutuhkan

Apalagi, sewaktu lebaran aku memakai sarung yang tampak kusut

 

Berkat persiapan seadanya itu, walaupun menurutku pantas,

Ibu menyindir,  “Le, kok sarungmu kucel,”

Belum selesai, “Sarung dipakai salat setahun  dua kali kok bisa sampai kucel?”

 

Cengengesan, buatku, adalah cara terbaik membalas sindiran

“Keliru,”

“Setahun sekali karena aku nggak ikut lebaran qurban,”

 

Malang, setelah lebaran 2018


Sarung (2)

 

Bermaksud menyombongkan diri

bahwa salat sering bolong

bukanlah ide bagus

 

Tapi, perihal sarung, buatku, agak sentimentil

Aku sering merasa homesick kalau jauh dari rumah

Jadi, obat penawar kangen rumah, ya, cuma sarung

Sekaligus berguna kalau terpaksa buat pengganti selimut

Kalau aku menginap

Perihal tualang, aku mengangkat bahu

 

Untuk meyakinkan Ibuku

aku bilang bahwa sarung hampir selalu ada di dalam tas

Tujuannya boleh berbeda dengan harapan Ibu

“Biar ingat rumah dan keluarga,”

“Mungkin juga agama.”

 

Ia tertawa

Seolah-olah memaafkanku

Yang tidak bisa memenuhi harapannya

dalam beragama

Mungkin juga sebentuk perasaan sedih

 

Maka pahamlah aku

Bahwa ia tetap teguh dan yakin

Iman belum habis terbakar

 

Malang, 2018


Perihal Iman

 

Apa bedanya

Jika aku mengatakan

“Aku tidak memiliki Tuhan,”

“Tapi Tuhan yang memilikiku.”

 

Dengan “Aku memiliki Tuhan.”

 

Rahang menggigil

Gigi-gigi menggeretak

 

Selat Bali, 2017


Ulang Tahunmu

 

Kita semua

Sedang menonton dunia makin tua

Sementara tugasmu

Selalu dan hanya ada satu

“Untuk tumbuh.”

 

Malang, April 2018

DIPUBLIKASI

Rifky Pramadani

Masih mahasiswa. Kadang-kadang ikut diskusi di Center for Critical Society on Media (Calism). Tertarik mengkaji ruang hidup, dan media.