Puisi-Puisi Rizqi Ramadhani Ali

Puisi Rizqi Ramadhani Ali

Ilustrasi/Rizqi Ramadhani Ali

Tentang Pulang

 

Apakah sudah sampai?

Kisah yang kukirim

Lewat embun dan langit yang memucat

Bercerita pada ranting-ranting yang gelisah

Dan bulan yang mengintip lewat dahan-dahan


Apakah sudah sampai?

kabar yang kubisikkan

pada waktu yang terjebak sepanjang aspal yang membiru beku

bersama berbutir gerimis yang mematuki kaca

jendelamu yg selalu basah

 

Apakah sudah sampai?

Salamku yang diantar pulang

Sepanjang kerlap-kerlip samar lampu jalan

Lalu sujud di telapakmu yg hangat

dan mengecup ujung selimutmu

Apakah sudah sampai?

Begitulah tanya yang selalu kau kirimkan

Tak perlu kau tunggu, aku bawa kunci. Selalu begitu kujawab

kalau kau terjaga dan bertanya, siapa?

cuma anakmu yang selalu pulang larut


Di Kamar Mayat

 

Di malam yang gerah

Tubuhmu kubentang

Dengan jemari kutulis empat larik haiku

Yang saat pagi lari dibawa angin kemarau

 

Sayang, diantara klimaks semalam

Desahmu dicemburui derit cendela

Yang enggan menutup dicumbu angin

Dan temaram kandelir merah tua jadi saksi

 

kuselami, matamu serupa porselen

Kulitmu manekin, sedingin etalase kaca

Jemariku angin, menyapu tengkuk, lalu lekuk lehermu

Engkau menjelma jerat

 

Aku tak bisa lepas

Llidahku lekat di rantai kalungmu

Semakin larut, semakin tajam

aromamu sayang, serupa tanah sehabis hujan

 

Di sudut ruangan lembab, kita berdua persetan

Gemeretak gigi kita membeku

Sampai tempurung lutut

Sampai memar seluruh igamu

 

Lalu kau rebah di bantal

Besi ranjang berkeriut

Kita menyatu dengan waktu

Tenggelam dalam keringat: basah!


Kepada Gadis Desa

 

Tidakkah kau ingin lelakimu beraroma pasir dan laut?

Saat kau dekap ia turun dari kapal, sandar di pelabuhanmu?

Jangan terlalu erat kau dekap

aku berbau mesiu, rum, dan bangkai camar

Sedang kau, ah, kau harum teh pegunungan dan manis tembakau

Bukan tempatku di sini

 

Ingat saat dulu kau tanya siapaku?

Aku adalah laut tenang yang tak pernah kau taklukkan

Sedang kau adalah pulau kecil

yang berdiri angkuh memecah ombak-ombakku

Sayang, kapalku kan rebah di telukmu

Tapi tidak untuk pulang

Sebab kapal diciptakan untuk menantang badai

Bukan diam di sandaran

 

Kepada gadis beraroma zaitun dan anggur

Meski kau mencintai pantai-pantai

Tapak tanganmu tak dicipta untuk temali layar dan jangkar kapal

Pun aku terhadapmu, gadisku

 

Maka kita berbagi semesta, wahai gadis petani yang pemimpi

Kau yang mencintai dongeng-dongeng tentang laut dalam

Sedang aku pelaut yang jengah dengan pesta dan perang

Terlalu banyak amis darah dan orang-orang terbakar disana

 

Kau gadis desa yang pemimpi

sedang aku pelaut yang lelah


Munajat

 

Tengah malam buta, mataku nyalang

Jahanam!

Binatang!

Bedebah!

Aku berdoa

 

Kurang apa?

 

Yang tak dirasakan Locke dan Kant

Kusuguhkan padamu

Tak seperti Hatta, tak bisa kutawarkan

Yang tak kupunya

 

Apa lagi?

 

Mereka yang mencintamu

Karena amarahmu

Karena hukumanmu

Karena kuasamu

Adalah budak

 

Maka izinkan

Cumbu dan kesalku beriring

Racau dan rayuku berseling

 

Kasihku,

Gerutu dan rinduku

Lebur jadi satu

Di haribaanmu

 

Padamu,

Aku bergairah

Sekaligus pasrah


Kampus Khusus Binatang

 

Alkisah, sebuah kampus khusus binatang

Yang dipimpin Ular culas dengan lidah bercabang

 

Disini banyak Keledai-Keledai dungu

Yang tak tahu-menahu dan lugu

 

Ada juga Onta dan Kambing berjenggot lebat

Memaki-maki Babi gemuk berpantat bantat

 

Tapi Babi tahu, rumput-rumput makanan mereka

Sudah ia kencingi kemarin lusa sambil ketawa

 

Ada juga anak Anjing lucu-lucu duduk di senat

Mereka mengonggong, juga menjilat

 

Sedang Macan-Macan ditangkapi

Taring dan cakarnya dikebiri

 

Ada juga kumpulan Banteng sangar yang mudah diadu

Yang tak sadar bahwa sebenarnya mereka adalah Lembu

 

Yang di sini tak ada

hanya Merpati-Merpati sakti

Yang katanya titisan sang Garuda

yang sudah lama mati

DIPUBLIKASI

Rizqi Nurhuda Ramadhani Ali

Ilustrator Sediksi