Puisi-Puisi Yoga Permana Wijaya

Puisi Puisi Yoga Permana Wijaya

credit: scalar.usc.edu

Sesungging Tatapan yang Berbicara

 

Di celah pintu

Aku mencuri bola binar matamu

Untuk aku kecupi

Dalam tatapan yang melumat waktu

 

Dan detik pun berlalu

Engkau hanya berpaling

Dengan geming

Menunduk bisu

Malu-malu

 

Sedang kau pancarkan aura

Penebar mantra

Hingga lekat sekujur jiwa

Menyebut-nyebut nama

: “Kamu”

tanpa kata

 

Sukabumi, 2016


Angka yang Kau Sembunyikan

 

Aku menyulam angka-angka

Sebagai algoritma dan logika

Dimana cinta dengan liar menjabarkan rumus-rumus kehidupan,

dan menyuguhkannya sebagai sepeluk kopi hangat yang harum.

Seperti kopi yang aku minum,

Ia terlahir sebagai teman setia.

Yang mengecupi mataku hingga pagi

yang membuat kantuk jahat itu pergi.

 

Pikiranku pun bebas

menerawang jauh,

mengendarai kafein yang menjalari tubuh.

 

Sedang jiwaku,

berkutat dengan segala perhitungan rumit.

Perhitungan, tatkala aku menjatuhkan angka-angka pada kalenderku.

Angka sebagai sejarah paling memori

Angka yang belumlah aku temukan.

Dan kukira, kau sembunyikan.

Entah sampai kapan,

kan kau ungkap.

 

Aku hanya berharap.

 

Sukabumi, 2016

 


Melukis Angin

 

Aku ingin

Memberi warna pada angin

Agar bisa

Melukis indahmu

Untuk aku hirup

Di setiap napasku

 

Dan aku ingin

Mencium harum

Setiap dekapan

Yang mengisi segala hampa

Dengan kehangatan

 

Sukabumi, 2016

 


Daun Pintu

 

dari sela pintu

ada sesungging senyum mengetuk

dan aku menunggu,

tak berbentuk

sampai pintu itu terbuka seluruh

menyambut hangat asmara membunuh

yang singgah dari balik jendela

pada dadaku menganga

 

pucuk daun muda

begitu ceria

melambai malu-malu

kepadaku yang menua

ditelan kerinduan

dan waktu

telah terlalu

lama memisahkan usia

 

entah, akankah ada penyatuan?

meski ada paut tatapan

aku sangsi dengan takdir

juga dengan segala getir

tapi kuyakin,

kau kan tumbuh bahagia

bersinar lewat celah daun pintu

menunggu seseorang membukanya

selebar senyuman bahagia itu

yang malu-malu

 

dan aku,

bahagia menunggu

meski selamanya,

hanya menatap

lewat celah pintu

 

Sukabumi, 2016

 


Jadilah Ragaku

 

Aku ingin kau disini,

menjelma pundak sebagai tempatku bersandar

menjelma mata yang tak berkedip menikmati pancaran semesta

menjelma hidung yang mencium harumnya udara musim semi penuh bunga

menjelma mulut yang mengucap puisi romansa pelipur lara

menjelma dada yang merangkul hangat pada penghujung senja

menjadi jantung; menjadi hati; menjadi seluruh raga

menjelma menjadi apa saja, sekujur tubuhku,

untuk menjadi lekat denganmu dalam tiap hembus napasku,

dalam tiap detak nadiku.

 

Karena aku,

terlalu merindu

Terlalu.

Merindu.

 

Sukabumi, 2016

 


Sebab Cinta Tak Butuh Alasan

 

Kuserahkan jiwaku pada angin

: Sebagai tiupan hangat tuk melambaikan rambutmu

 

Kuserahkan jiwaku pada air

: Sebagai tetes kesejukan yang membasuh wajah manismu

 

Kuserahkan jiwaku pada awan

: Sebagai arak-arakan yang menaungimu dari terik

 

Kuserahkan jiwaku pada hujan

: Sebagai guyuran basah yang membuat ragamu berteduh di samping ragaku

 

Lalu kuserahkan seluruh jiwaku padamu

: Sebagai sesuatu yang tak lagi memiliki alasan

 

Sukabumi, 2016

 


Gerimis Pagi Hari

 

aku menggambarmu

dari balik kaca jendela

yang mengembunkan gigil malam

 

di luar sana,

uap hujan membasahi alur-alur kamar

membuatku menghangat di dalamnya

dan dinginnya menjelma kesejukan

yang menelusup lewat celah hatiku

 

tak ada lagi kebisuan pada urat-urat kamar

karena engkau mengalir dengan riang

menggetarkan genting dengan tetesan hujan

yang berdenting menggigilkan rindu

berjatuhan,

jatuh

jatuh

sebagai harmoni

basuh laraku

 

Pangandaran, 2016

 

 


Aksara Keabadian

 

aku di sini hanya sekejap saja

dalam seonggok daging yang melapuk dimakan usia

dalam pecahan pembuluh yang dirobek ketiadaan

untuk menyisakan sekantung kenang yang tergenang lewat indera

 

tetapi aku punya cerita,

yang kususun dengan untai kata.

tuk menari, melawan derasnya arus waktu

yang senantiasa melaju.

lalu kulepas dia di sana, ditengah samudera tinta.

agar berpacu melukiskan jejak baru yang tercipta,

seiring nafas para pembaca,

selama mereka ada.

 

Bogor, 2016

 

DIPUBLIKASI

Yoga Permana Wijaya

Lahir 31 Maret 1989. Guru bidang sains dan teknologi yang mencintai puisi. Puisinya tersebar dalam puluhan antologi. Kenali dia melalui blog sederhananya di yogapermanawijaya.wordpress.com