Puisi-Puisi B.E. Raynangge

Puisi Puisi B.E. Raynangge

credit: indianareview.org

Matimu Rindu

 

matimu rindu

yang tak mengenal berabad air mata

dan begitulah semestinya

sejak sajak pertama tertulis di dunia

serta doa pertama pengembala yang menanti ajal di karbala

dan matimu rindu

 

serindu camar putih yang menanti kabar melalui buih

juga jejak kaki para peziarah di gurun-gurun,

yang sirna dalam tumpas halimun

 

dan matimu adalah rindu

sebab, hanya dalam mati, rindumu abadi

/2016

 


Dalam Temaram

 

sambutlah rayuan itu sayangku

untuk bertemaram dalam khayal mereka

yang membuhulkan keinginan,

diantara bayang laut dan bulan

 

sementara nelayan tua yang kembali dari barat

menambatkan sampannya

sambil sesekali bercerita

tentang pergantian musim,

belantik di utara,

dan pertarungan dewa-dewa di tengah samudra

 

dan sambutlah rayuan bertemaram itu sayangku

sejenak rasakan keabadian memudar semu di kejauhan,

yang tertelan pekat ajak rembulan

/2016

 


Tuhan Baginda

 

Bintang laut jatuh dalam belanga

Kini, siapakah tuhan baginya?

terkutuklah para pemuja!

yang mengabadikan rapalan mantra

dalam doa mereka

yang menjelma ruh diwajah karma

 

Tapi, siapakah tuhan baginya?

dalam bujuknya, ruh melayang

merengek-rengek serupa doa

sebuah siasat dalam jeda

 

Ketika jari-jarinya mulai kebas

dalam kerlingnya dia bertanya-tanya

mencoba mengingat

“Sebenarnya, siapa tuhan baginda?”

/2016

 


Sajak Galau Kontemporer

 

adakah yang tersisa dari bahagia?

sesosok kegetiran bersiap menyeruak

dari katup-katup kecemasan yang tersisa

 

maka, mari sama-sama kita nyanyikan

sebuah lagu suka cita tentang panorama

lukisan dengan bingkai daun kelapa muda

dan orang-orang yang memasang topeng bahagia,

sesekali mereka berucap

“semoga bahagia, semoga bahagia”

“terima kasih, sama-sama, cepat menyusul ya!” balasnya

 

maka, nyanyikanlah sebuah lagu suka cita

“mari berbahagia”

“mari berbahagia”

 

O, iya, kapan waktumu tiba?

/2016

 


Nyanyian Malam Sendu

 

“Tapi, bukankah nyanyian bisu

tak selamanya tentang sendu?”

Katakanlah bahwa senja telah menipu:

“Diujung ratapanmu aku akan berakhir

dan tak bangkit lagi dalam hitungan hari”

“Tapi, bukankah nyanyian bisu

tak selamanya tentang rindu?”

 

Ketika kicau burung menjelma nyanyian pengundang maut,

kau berkata:

“Sabit hitam telah datang,

ketika rahwana melahap sang rembulan!”

 

Dan kau bertanya:

“Tapi, bukankah nyanyian bisu

tak selamanya tentang keluh?”

Maka, alunkan nyanyian itu

ketika surya mulai bangkit di hari ketujuh

tiga tombak akan mematahkan sabit hitam

sampai kau temui riang kelinci di wajah rembulan

seketika membangunkanmu dari lamunan

tentang sendu

rindu

dan keluh

/2016

 

DIPUBLIKASI

B.E. Raynangge

Tinggal di Ponorogo, kumpulan tulisannya telah dibukukan dalam bentuk makalah dan skripsi.