Samudrasmara

Samudrasmara

Ilustrasi/Nadja Schueller (instargram.com/nadja.schueller.ost)

#1

Diujung dermaga, angin laut membelai lembut wajah duka milik Lasmini. Ia seperti wanita di ujung dermaga yang menginginkan menjadi senja : menginginkan tenggelam, menyusul suaminya yang digulung ombak.

Sebenarnya tanpa harus tenggelam pun, keayuan wajah lasmini sudah setara dengan senja. Rambutnya yang terurai panjang, wajahnya yang ayu, ditambah kebaya terawang yang ia kenakan, ia benar benar terlihat seperti senja diujung dermaga bagi para nelayan yang berlalu lalang menatap iba pada Lasmini .

“Perahu  suaminya lebih dulu karam, terbalik dihantam ombak, lalu tubuhnya tenggelam dilautan.”

“Astaga! Kapan?”

“Baru dua hari yang lalu. Orang orang sudah mencari, tetapi mayat Juna belum juga ditemukan. Hanya perahu karamnya saja yang ditemukan.”

“Kasian sekali Lasmini dan putranya.”

Bisik mereka yang berlalu lalang di pesisir pantai. Sedangkan Lasmini, ia masih setia duduk diujung dermaga. Rambutnya yang panjang, dibiarkan terurai dan tampak sedikit kusut, matanya begitu sayu nan sendu, ia begitu setia menunggu mayat suaminya mengapung, sekalipun wajahnya sudah hancur seperti tahi.

#2

Perahu Mas Juna tidak terhantam ombak! Memang benar tubuhnya tenggelam.

Sebelumnya, biarkanlah aku bercerita tentang siapa kami. Namaku Lasmini.

Di laut samudra-asmara kami adalah sepasang kekasih yang siap berlabuh menerjang ombak, juga badai. Meski perahu Mas Juna begitu ringkih, tapi aku tidak takut bila ia yang menjadi nahkodanya.

Di dermaga, Ibu sempat menangis melepaskan diriku ke tangan seorang anggota PKI yang sedang melakukan pelarian politik. Ke tangan seorang lelaki yang datang tanpa membawa harta apapun. Tapi, aku berkata bahwa berdua, aku tidak akan takut. Aku menerima segala kekurangan. Pun pergi mengarungi lautan bahtera rumah tangga dengan perahu sederhana kami. Kami menikah.

Mas Juna adalah seorang pelaut hebat. Konon, ia adalah anak dari segara kidul. Bersamanya aku yakin pasti ia akan membawa ku ke laut dimana aku akan bertemu dengan banyak lumba-lumba yang bisa terbang, paus yang menari, burung yang menyelam, mutiara yang berserakan, dan ikan yang bernyanyi.

Ombak, badai, ombak, badai, ombak, badai. Hari demi hari, tahun berganti, hingga kami memiliki seorang anak lelaki bernama Galu, perahu Mas Juna selalu menuju laut yang berombak, berbadai dan sedikit ikan. Tentu aku lelah. Perahu Mas Juna semakin ringkih melawannya. Bila terus seperti ini, pasti kami bertiga akan tenggelam atau bahkan lebih dulu mati kelaparan. Pun suatu malam saat anakku sudah tertidur lelap, ku dorong suamiku dari perahu. Barangkali ia bisa menangkap setidaknya satu dua ekor di kedalaman sana.

Aku yang mendorong suamiku. Ia tenggelam dan tidak kembali. Aku menyesal. Sungguh!!

#3

Galu Kulanang. Usianya 12 tahun. Ayahnya menghilang di kedalaman laut. Ia bingung mengapa ibunya menangis sesenggukan saat ayahnya mati. Galu  tahu bahwa ayahnya mencintai ibunya, tapi ketika ibunya ternyata juga mencintai ayahnya, Galu menjadi tidak tahu mengapa hampir setiap malam mereka kerap bertengkar.

Ayahnya sering tidur di ruang tamu, sambil diam-diam menuliskan puisi untuk ibunya. Pernah suatu ketika Galu melihat ibunya acuh tak acuh pada selembar kertas di meja yang ditindihi pot bunga pada suatu pagi .

“Kenapa bu?”

“Karena percuma Lu…. puluhan kertas puisi ayahmu, tidak akan pernah cukup bila ditukar bahkan dengan selembar kertas koran bekas sekalipun di warung makan. Cinta itu nomor sekian. Paling penting dalam hidup adalah makan.”

Begitulah ibunya sering berkata. Tentu hal itu berbanding terbalik dengan tanggapan ibunya saat mendengar bahwa perahu ayahnya karam, Galu pikir ibunya cuma akan menangis sebentar kemudian makan. Sebab, kehilangan suami tak akan membuatnya mati asalkan ia masih bisa makan.

Namun nyatanya, ibunya langsung menangis meraung membanting segala perkakas dapur kesayangannya, yang bahkan untuk mendapatkannya pun  ibunya harus kredit dengan harga hampir dua kali lipat. Terkadang ibunya  juga harus bertengkar dengan tukang kredit yang tak henti hentinya menagih meski dirinya sudah mengatakan akan dibayar pada tagihan selanjutnya.

Tukang kredit kerap mendapat dampratan Lasmini saat hendak menyita perkakas yang tak kunjung dibayar. Dengan muka lebih galak, Lasmini akan berkata “langkahi dulu mayatku,” tentu hal itu membuat tukang kredit tercengang, bagaimana bisa seorang wanita mempertaruhkan nyawanya hanya untuk barang perkakas?

Ibunya begitu menyayangi segala perkakas dan perabotannya, mungkin karena itu juga,  ibunya tak pernah memukul ayahnya dengan perkakas kesayangannyanya seperti yang dilakukan ibu-ibu lain ketika suaminya pulang tanpa uang. Tapi nyatanya kini ibunya membanting segala perkakas kesayangannya saat mendapati kabar kapal ayahnya karam. Tubuh ayahnya tenggelam dan tak kembali.

#4

“Tubuhku tenggelam di lautan.”

Begitu dalam.

Aku mencoba bangun, tapi aku tidak sedang bermimpi.

Aku tenggelam dan tersesat. Tidak mengenali di laut mana aku tenggelam.

Aku basah kuyup. Tapi aku sama sekali tidak kedinginan. Aku seperti sedang dipeluk. Anehnya, perahuku mendekat dengan sendirinya! Ajaib! Sungguh!

Tapi entah mengapa, aku tidak berusaha menggapai. Sempat terpikir tentang Lasmini dan putraku. Tapi tiba-tiba saja saat tenggelam seperti ini, jantungku berdegup kencang.

Aku merasakan sesuatu yang berbeda

Aku mulai nyaman dalam ketersesatan ini. Pasrah, aku membiarkan diri tenggelam, melupakan segala tentang Lasmini. Aku tenggelam dan tak ingin kembali.

#5

Juna  tidak mati dibunuh, ia sendiri yang menceburkan diri ke laut.

Satu bulan yang lalu, seorang pelaut datang seorang diri dari laut seberang. Matanya sayu menahan kantuk. Tubuhnya lunglai. Bibirnya kelu kedinginan. Perahunya begitu ringkih. Tangkapannya tidak banyak.

Ombakku mana sudi, mana tega menerjangnya.

Akupun menyelimutinya agar ia tak lagi kedinginan. Aku tidak sedang jatuh cinta padanya. Aku hanyalah laut biru yang luas, pun hatiku. Sungguh tak ada ombak yang menerjang perahunya, pun karang yang menabrak. Tak ada!

Lelaki itulah yang menceburkan diri ke dalam diriku. Ia menyelam lalu terpukau.

Aku bisa merasakan detak jantungnya. Berdegup kencang. Ia seperti sedang jatuh cinta. Hari sudah sangat larut. Aku takut ia akan semakin tersesat dalam diriku. Maka dengan ombakku yang lirih, ku dekatkan perahunya dengan dirinya. Biar ia segera pulang ke pelukan istrinya. Tapi, ia menjauhi perahunya. Ku tuntun ia menuju tepi. Tapi, ia melawan.

Ia menyelam. Ia tenggelam. Semakin dalam.

#6

Aku tertegun melihat sosok yang muncul setelah mengetuk pintu rumahku. Seseorang yang begitu aku sayangi, yang sudah aku anggap seperti anak sendiri. Ia memelukku erat. Bibirku terlalu kelu menyebut namanya. Tanganku terlalu gemetar membalas pelukannya.

“Ibu,” panggilnya sembari menangis. Ia bertekuk lutut menyium kakiku. Aku menyuruhnya berdiri.

“Ibu, maafkan aku ibu. Aku tidak bisa membahagiakannya.”

Aku mulai mengerti arah pembicaraannya. Mataku terlalu sendu melihat wajahnya. Kupeluk ia, biar tak ku lihat kurus wajahnya, juga sayu matanya.

“Ibu, ku kembalikan Lasmini pada Ibu. Lasmini akan lebih bahagia bila tinggal bersama Ibu.”

Juna mencium pipiku. Mencium keningku. Juga tanganku. Aku kembali memeluknya, berbisik padanya.

“Maafkanlah juga Lasmini yang selalu menuntut kebahagiaan darimu. Yang tidak pernah bisa menerima hidup mlarat denganmu. Yang selalu menyuruhmu melaut baik di pagi, siang juga malam Jun. Jun, di malam itu, setelah Lasmini  memarahimu dan menyuruhmu pergi melaut saat hujan turun begitu deras, Lasmini sungguh menyesal dan mengurung diri dikamar. Ternyata, firasatnya benar, kau tak kunjung kembali. Lasmini selalu menunggumu di ujung dermaga.  Lasmini menyesal. Ia mengira kau benar-benar sudah mati Jun.”

“Ibu, Juna bertemu dengan gadis lain saat sedang melaut. Juna memohon restu.”

Tubuhku lunglai.

***

Wanita itu Lasmini. Wanita penghujung senja yang selalu duduk di ujung dermaga. Perahu suaminya terbalik dihantam ombak. Lalu tubuhnya tenggelam dalam lautan. Lautan wanita lain.

Wilujeng Puspita Dewi
Dalam rahim ibu,aku berhasil melawan kinerja obat KB yang hampir (membuatku tidak ada)