Tapi Saat Ini, Aku Memaksa

Cerpen Minggu

Ilustrasi/Rizqi Ramadhani Ali

Masih sore dan matahari belum benar-benar jatuh. Langit juga tidak sedang mendung. Aku baru saja mengiris pergelangan tangan kiri ku secara vertikal. Darah perlahan keluar dari kulit tipisku. Ubin yang sudah lama tidak ku-seka, kini basah oleh darahku. Tanganku kebas. Kulihat dua ekor kupu kupu menari di jendela kamarku, pandanganku semakin memudar, semakin meredup. Gelap.

Aku bersiap diri. Dari yang sering kali ku dengar dalam acara-acara agama, ketika kau mati akan ada dua malaikat, atau semacamnya, yang akan datang padamu. Yang satu malaikat pencatat amal dan satunya lagi malaikat penanya. Rasanya aku akan melalui proses kematian dengan mudah. Tentu karena aku tak punya banyak teman dan apalagi musuh. Hidupku lebih banyak kuhabiskan dengan diriku sendiri.

Berjamjam lamanya, tak juga kutemui kedua malaikat itu. Hanya ada gelap dan aku di dalamnya. Apakah aku berakhir di tempat ini? Ini lebih menyeramkan dari cerita-cerita orang tentang surga dan neraka.

Membosankan. “Lalu apa bedanya dengan hidupku selama ini?” Heran aku masih bisa menggerutu. Sampai aku melihat sebuah sinar putih muncul dari kejauhan. Sinar itu pelan-pelan mendekat dan membesar. Aku mengira itu sinar menuju dimensi lain. Aku berancang-ancang supaya lebih sigap.

Aku berada dalam ruangan rumah sakit yang begitu terang, melihat diriku sendiri yang tengah koma, berbaring di tengah ruangan. Aku melihat kedua orangtua ku duduk menatapku dengan sedih. Terutama ibuku, ia menangis tanpa henti. Tak lama seorang suster masuk dan berbicara pada mereka, lalu mereka berdua keluar dari ruangan. Meninggalkan aku seorang diri.

Aku mengamati tubuhku yang sedang terbaring. Aku masih hidup; itu jelas terlihat dari alat pengukur denyut jantung yang menyala dan menunjukkan garis naik turun. Rasanya aneh sekali, melihat diriku sendiri.

Kau cantik sekali,” terdengar suara seorang pria dibelakang. Aku terlonjak kaget. Dari mana datangnya suara itu?

Oh iya, maafkan aku, nona manis. Maaf aku tak bisa melakukan perkenalan yang menarik.” Tiba-tiba muncul sesosok pria tampan berambut coklat keemasan dengan jas dan celana putih serta sepatu kulit cokelat dari balik pintu.

K-kau bagaimana bisa?” aku terkejut melihat ia menembus pintu dari luar.

Aku sang Dewa Kematian, Nona,” ujarnya sambil membungkuk memberi salam, lalu tiba tiba sepasang sayap muncul dari balik punggungnya.

Jadi, kau datang kesini untuk mengambil nyawaku? Kenapa tak kau lakukan saja sejak sore tadi? Bukannya aku sudah dengan sukarela memberikannya?”

Kau kira mati itu mudah?” ujarnya. “Kau masih punya waktu untuk hidup, kenapa menyerah begitu saja?”

Hidupku tak menarik, lebih baik mati saja.”

Kau kira mati itu menarik?” tanyanya.

Entahlah. Kurasa lebih baik mati daripada hidup dengan hampa seperti ini”

Jadi kau merasa jika hidupmu ini hampa? Bagaimana mungkin?”

Entahlah, aku sudah tak punya alasan lagi untuk hidup. Lalu mengapa harus hidup lagi lebih lama? Untuk mengumpulkan dosa-dosa?”

Bagaimana bisa kau berpikir bahwa kau tak punya alasan lagi untuk hidup? Apa kau tak punya impian-impian dalam hidup?”

Aku terkekeh. “Aku sudah tak punya mimpi dan tujuan hidup sejak dua tahun yang lalu”

Mengapa?”

Yah, kurasa hidup itu cuma permainan Tuhan, atau Dewa, atau semacamnya. Apapun yang kulakukan, yang aku impikan pada akhirnya akan gagal jika Tuhan berkata tidak.”

Sudah seberapa sering kau gagal dalam hidup?”

Terlalu sering, aku sampai bosan,” aku merebahkan tubuhku disebelah tubuh asliku, memandang langit-langit kamar rumah sakit yang seputih awan.

Bahkan mati saja aku selalu gagal. Aku merasa, hidup sudah tak menarik lagi buatku. Begitu hampa, tak ada hal yang bisa membuatku bahagia. Bahkan orang orang yang kucintai sekalipun. Mereka hanya, membuatku menjadi seseorang yang tidak aku kenal. Aku semakin kehilangan diriku sendiri. Rasanya, semakin lama kau hidup, yang kau temui hanyalah kepahitan. Semakin kau mengenal hidup, semakin menyakitkan. “

Lalu, kau berpikir jika mati itu lebih baik dari hidup?”

Entahlah. Aku belum pernah mati. Tapi aku bisa berekspektasi kan? Semua orang selalu membayangkan hal-hal yang baik pada sesuatu yang belum pernah mereka rasakan. Tentu karena mereka belum merasakannya. Sedangkan hidup, aku sedang merasakannya dan ini begitu menyakitkan. Maka apalagi yang bisa aku harapkan? Kematian, sesuatu yang belum pernah aku rasakan.”

Pria berambut kecoklatan itu mengembangkan senyum di wajahnya. “Aku harap kau benar-benar siap untuk mati”.

Aku menganguk. “Bawalah aku. Kumohon”.

Memangnya kau tak peduli dengan orang-orang yang akan kau tinggalkan? Terutama ibu mu? Apa kau tidak sadar bahwa yang kau lakukan saat ini begitu egois?”

Aku menggeleng. “semua orang akan tergantikan dengan orang yang lain, maka ketidak-adaan ku juga tak akan berarti apa apa dalam hidup mereka. Aku hanya sebutir beras diantara beras beras yang lainnya. Mereka bisa menemukan seorang yang lain seperti aku, bahkan lebih baik dari aku. Seseorang yang bisa membuat mereka tertawa, bahagia, bersedih. Tapi aku, tak akan pernah bisa menemukan orang yang membuat diriku bahagia, kecuali diriku sendiri.”

Dan kau kira mati bisa membuatmu bahagia?”

Ya. Setidaknya aku tak akan menyakiti seseorang lagi. Setidaknya aku terbebas dari berbagai macam hal yang tak kusuka. Setidaknya aku tak lagi menambah masalah untuk oranglain”

Baik, aku akan membawamu” ujar pria berambut kecoklatan itu, ia menepuk pundakku dan tersenyum. “Kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu, kan?”

Aku tersenyum. “Aku sudah bersiap sejak tadi. Ayo, bawalah aku tuan”.

Aau tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada kedua orangtuamu?”

Aku mengerutkan dahi, “oh, aku diberi kesempatan itu ya?”

Ini khusus untukmu”.

Kau tidak sedang ingin membuatku berubah pikiran kan, Tuan?” aku mengerling padanya.

Sejujurnya, kau tahu, aku benci dengan pekerjaanku. Aku begitu sedih melihat orang orang yang kubawa pergi, biasanya mereka memohon agar aku tak membawanya. Tapi kau, kau malah dengan senang hati dan berharap agar aku membawamu”

Ini soal kepuasan diri, aku sudah puas dan merasa begitu cukup hidup di dunia ini. Tak ada lagi alasan untukku untuk berlama-lama disini. Aku hanya ingin terbebas dari segala macam hal dari kehidupan. Ingin terbebas dari takdir yang mengikat. Hidup hanya akan memberikanmu persoalan persoalan yang tidak ada habisnya, tak pernah benar benar membuatmu bahagia. Sedangkan tujuanku hidup adalah untuk berbahagia, bukankah itu suatu kesia-sia an? Tapi sejujurnya, Tuan. Aku memang ingin meminta waktu agar dapat menemui beberapa orang yang pasti akan ku rindukan di tempat hampa itu.”

Kau punya waktu lima menit.”

Aku hanya ingin kembali ke kamar tempatku berbaring disana, menanti orang orang itu datang”

Bagaimana jika orang orang itu tidak datang?”

Mereka pasti datang, Tuan. Pasti”

Pria berambut keemasan itu meraih tanganku, dan secepat kilat kami kembali ke kamar dimana aku terbaring tak sadarkan diri.

Aku melihat Ayah dan Ibuku yang tengah berpeluk dan menatap aku yang tengah terbaring dengan sedih. Kedua mata ibu ku sembab, tak henti hentinya ia menyeka mata dan hidungnya yang terus berair. Sedangkan Ayah, yang selama ini berwajah dingin, terlihat begitu lemah dan rapuh.

Kau masih yakin mau meninggalkan mereka, Nona? Mereka terlihat begitu sedih”

Suatu saat nanti, semua juga pasti akan berpisah, Tuan. Entah aku atau mereka yang pergi meninggalkan, bukankah kau sendiri sudah tau?”

Lalu tak lama pintu kamar terbuka, seorang wanita tua masuk kedalam kamar, terisak sembari membelai lembut rambutku.

Siapa dia?” Tanya pria berambut emas itu.

Pengasuhku sejak kecil, Bi Yatmi”.

Memori memoriku dengan Bi Yatmi secara otomatis muncul dalam otakku, bagaimana ia mencintai aku seperti anaknya sendiri, bagaimana ia memberitahu hal yang baik dan benar; hal-hal yang seharusnya diberi oleh kedua orangtua ku, bagaimana ia memberitahu makna kehidupan.

Tampaknya ia orang yang sangat berarti di hidupmu? Dan begitu juga sebaliknya”

Aku menganguk.

Hei, Tuan. Bisa kau bawa aku ke kota lain?” tanyaku pada pria berambut keemasan itu.

Memangnya kau mau kemana?”

Menemui seorang lagi”.

Waktu mu sudah hampir habis, Nona. Jika kau ingin bersamaku, aku tidak bisa menunggu lebih lama”.

Tidak, Tuan. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin bersamamu, tapi, aku ingin menemui seseorang lagi. Sebentar saja”.

Pria berambut keemasan itu mendengus. “Mengapa aku harus mengikuti mu, lebih baik kau ku biarkan tetap hidup agar kau bisa menemui orang yang kau mau”

Tidak, Tuan. Aku akan terus memanggilmu, sampai kau bosan”. Ia seharusnya mengerti tekadku sudah bulat.

Baiklah. Baiklah. Pikirkan orang yang ingin kau temui. Siap?”

Lalu pria berambut keemasan itu meraih tanganku lagi, dan kami melesat seperti bintang jatuh, menuju ke sebuah tempat.

Laki laki bercelana pendek dan berkaos oblong itu duduk ditepi pantai, menikmati jingga yang muncul dari matahari senja. Laki laki dengan senyum paling menawan setelah ayahku, rambutnya yang hitam legam berantakan tertiup angin pantai. Aku duduk di sebelahnya, menikmati matahari senja yang sudah setahun tak kulihat. Lalu kupandang lagi wajahnya yang sendu namun rupawan, ia seperti merasakan kehadiranku disini. Ia berpaling kearahku, menampakkan wajahnya yang begitu sedih, kurasa ia sudah diberitahu oleh Ayah bahwa aku sedang kritis.

Siapa dia?” tanyanya, yang sedang berdiri menatap deburan ombak didepan kami.

Dio. Laki-laki yang kucintai sejak setahun lalu, sampai sekarang.”

Ah, sudah kuduga, pasti akan menemui kekasih”

Bukan, Tuan. Dia bukan kekasih, dia adalah segalanya untukku. Seorang bintang yang bersinar terang di langit hatiku yang gelap. Dan aku, tak ingin menggantikannya dengan siapapun. Selamanya”

Jadi?”

Bawalah aku sekarang, aku sudah selesai dengan urusanku disini. Aku benar-benar siap,” ujarku mantap. Pria berambut keemasan itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Aku mencium bibir Dio untuk terakhir kalinya, tanpa ia ketahui. Lalu menyambut uluran tangan dewa.

Sampai jumpa”.

Bonnie
Calon Bidan yang ingin mendongengi manusia sejak dalam kandungan