Yang Terhormat Bapak Saya

Yang Terhormat Bapak Saya 1

credit image: onomonolia.com

Aku tergeragap dari tidurku semalam, ketika ibu tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. Kesadaranku belum pulih sepenuhnya saat mendapati perempuan sepuh di hadapanku ini tengah dirundung takut dengan napas yang tersengal-sengal, berdesakan—keluar-masuk dari hidung dan mulutnya. Di antara perasaan yang begitu tertekan, kulihat mulut ibu mengucapkan runtutan kata yang tak jelas bunyi dan artinya. Tak lama kemudian menangis. Ya, ibu menangis sembari merentangkan kedua tangan, sedangkan bagian belakang tubuhnya digunakan untuk menahan pintu.

Dan, benar.

Tak lama berselang terdengar suara teriakan bapak sambil menggedor-gedor pintu: “mau jadi apa kamu—hari sudah siang begini masih saja tidur, heh?!”

Sudah siang?

Belum. Hari masih siang. Bapak tidak tahu jam berapa aku tidur. Mungkin kerna itulah ibu masih mempertahankan posisinya, tak bergerak. Jikapun ada gerakan, itu disebabkan oleh guncang-guncang di bahunya kerna tak berhasil membendung tangis. Sesekali tangan kanannya mencuri sempat,  mengusap-usap dada: isyarat agar aku tetap bersabar, sebuah permintaan agar aku tak membalas satu kalimat pun yang dilontarkan bapak meskipun itu sangat menyakiti hatiku.

Pintu masih berusaha didobrak, kali ini terdengar lebih geram: “mau jadi apa kamu!”

Lho, memangnya manusia harus jadi apa lagi? Jikapun Tuhan pernah memerintah agar manusia ‘menjadi’—tak lebih dan tak kurang perintah itu berbunyi: agar manusia menjadi dirinya sendiri. Aku sedang tidak berfilsafat. Tapi memang di bagian inilah aku dan bapak sering berselisih pandang, terutama tentang bagaimana melihat hidup. Sudah lama kami tak menemukan kecocokan satu dengan yang lain: dari sejak dulu, saat aku baru berlatih mengutarakan pendapat—hingga hari ini—dan kukira sampai kapan pun kami akan terus berselisih seperti ini.

Bapakku adalah seorang tentara senior, berpangkat Sersan Mayor. Dan kini, ia hampir menginjak masa pensiunnya.

Dulu, dulu sekali—bapak hanyalah seorang warga biasa dari keluarga miskin yang hidup di pinggiran kota. Latar belakang rendah menurut strata sosial inilah yang kemudian dijadikan titik pijak untuk mengubah kehidupan keluarga hingga nasib mengantarkannya pada sebuah takdir—masuk dunia militer. Prinsip ketentaraan kemudian ia gunakan untuk mendidik dan mendisiplinkan anak-anaknya: dari model rambut yang harus cepak, gaya berpakaian yang harus selalu rapi hingga pilihan masa depan kami pun sudah ditentukan.

Dalam hal ini aku akan mencoba berpikir adil: bahwa nilai-nilai yang bapak bawa ke dalam rumah bukannya tidak baik, justru menurutku sangat baik. Jika kerap timbul perselisihan, itu lebih disebabkan oleh kami yang tidak pernah memanfaatkan kebaikan-kebaikan itu untuk  saling memahami. Maksudku, beda pendapat itu biasa. Bahkan sebentuk rahmat dari Tuhan. Tapi, setiapkali terjadi silang pendapat—bapak sering menggunakan pengalaman asam dan garamnya untuk mengecilkanku. Bahwa proses pencarianku selama ini tidak pernah dianggapnya sebagai sesuatu yang penting, minimal untuk diriku sendiri. Baik dan buruk menurut bapak, berarti baik dan juga buruk untuk kami semua.

“Sudahlah, nak, mau sampai kapan kamu akan begini?” Ibu sambil mengusap air matanya. Sedangkan di luar sana, di sebalik pintu, sudah tak terdengar keberadaan bapak lagi.

“Mudah-mudahan selamanya, bu.”

“Percayalah, tidak ada orang tua yang ingin menyesatkan anaknya.”

Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan sangat pelan sambil menatap wajah ibu yang masih berarak mendung.

Ibuku yang baik. Tentu saja aku percaya. Memang takkan ada orang tua yang ingin anaknya menempuh jalan yang keliru. Hanya saja, keliru dan tidak keliru yang dipersoalkan selama ini adalah benar dan salah menurut satu pihak. Seringkali orang merasa telah memiliki kebenaran hanya kerna telah melakukan perjalanan sekian lama dan panjang, padahal  kebenaran itu hanyalah kebenaran kecil yang mungkin hanya muat pada tubuh dan sukma si pelaku. Tidak mesti cocok dengan tubuh orang lain.

“Ini semua demi kebaikanmu,” ibu melanjutkan.

“Saya tahu, bu.”

“Agar hidupmu maju.”

“Maju ke mana?”

Kemudian kami saling diam untuk beberapa saat. Ibu tahu aku mulai terdesak meskipun di dalam kamar yang temaram ini ibu hadir sebagai bapak—dalam bentuk, sikap dan suara yang lebih halus. Tidak ada nada yang ditinggikan, tidak ada keinginan yang dipaksakan. Bahkan aku tak melihat sehelai urat pun di leher ibu ketika sedang berbicara kepadaku. Dengan begitu, mungkin ibu berpikir aku akan berubah pikiran.

Tidak, bu, tidak!

Ibu melakukan itu hanya kerna—agar aku tak tak dimarahi bapak, agar tak ada kebencian dan pertengkaran di dalam rumah setiapkali aku dan bapak bertemu. Aku yakin, sebenarnya ibu menyadari pilihan hidupku saat ini. Bahkan memakluminya. Hanya saja, sebagai istri—ibu tidak berdaya. Maka tak ada jalan lain yang bisa ibu lakukan selain mencari jalan tengah buat kami berdua yang kerap tersesat di dalam perselisihan.

“Nak,” ibu mulai membuka perbincangan lagi, “bagaimanapun kau masih muda. Maksudku begini. Apapun yang kau pilih sebagai jalan hidupmu saat ini bisa saja sebuah kebenaran, tapi juga bisa kekeliruan yang tak pernah kau sadari sebelumnya. Jika jalanmu benar, perlu kau ingat bahwa kebenaran adalah puncak dari gunung kesalahan. Sebaliknya. Jika jalan yang kau tempuh adalah kesalahan yang mutlak, bagaimana? Tentu sepenuhnya kamu berhak salah agar tahu apa yang benar. Hanya saja, hidup ini selalau dibatasi oleh waktu. Ada ambang batas. Jangan sampai kau baru menyadari kesalahanmu ketika semunya telah terlambat dan tak ada waktu untuk memperbaikinya.”

Aku diam, mendengarkan setiap kalimat ibu dengan saksama. Hampir saja pertahananku roboh. Dari perbicangan di dalam kamar yang nyaris tanpa cahaya ini aku menyadari satu hal: bahwa puncak dari segala kekuatan yang mengandung daya hancur dan gaya dobrak adalah kelembutan itu sendiri.

“Nak, kami pernah muda sepertimu. Tapi kau, belum pernah tua seperti kami. Apa yang kau alami sekarang ini, tentang pencarian jatidiri, juga pernah kami alami ketika masih seusiamu.”

“Lalu saya harus bagaimana, bu?”

“Minimal kau resapi masak-masak. Pikirkan tentang muatan yang disampaikan bapakmu, bukan caranya—yang tidak pernah kau sepakati itu. Sekali ini saja, di dalam riwayat hidupmu, buatlah orang tuamu bahagia.” Ibu sambil membuka pintu, lalu keluar dari kamar, membiarkanku sendiri.

Keadaan kembali menjadi sepi, sama seperti ketika sebelum ibu masuk ke dalam kamarku beberapa saat yang lalu. Yang membedakan hanya suasana batinku saat ini.

Baiklah kalau itu yang ibu inginkan dari perbincangan ini, sebagai anak aku akan memikirkannya baik-baik. Tapi jangan menuntutku untuk melakukan hal lebih dari itu. Sebab selama ini aku telah melakukan apapun yang telah diinginkan oleh bapak: menjadi anak penurut dan tak banyak merepotkan.

Apa bapak dan ibu masih ingat ketika aku masuk Sekolah Dasar untuk kali pertama? Di saat anak-anak seusiaku mengawali hari pertamanya dengan seragam merah-putih yang warnanya terang dan baru, aku harus rela menggunakan seragam bekas yang ibu beli dari anak tetangga yang sudah lulus:  warna seragam itu telah kusam dan pudar. Apakah saat itu aku merengek kerna berbeda dengan teman-teman yang lain? Tidak! Aku sudah paham apa arti kata melarat dan tidak mampu dalam perbendaharaanku yang masih lugu. Sebagai anak, aku tidak menuntut apa-apa selain cinta dan kasih sayang dari orang tua.

Lalu lahirlah adikku—bersamaan dengan perintah penugasan bapak untuk dinas keluar kota. Dalam waktu yang cukup lama kita terpisah. Bapak dan ibu bersepakat untuk tinggal berjauhan daripada memboyong keluarganya ke tempat dinas yang baru.

Kemudian muncullah masalah-masalah.

Selain persoalan kealphaan sosok laki-laki panutan, ada masalah lain yang lebih mendesak: ekonomi, yang kian hari semakin menuntut untuk dipenuhi seturut pertumbuhanku dan adikku.

Kekurangan itu akhirnya disiasati ibu dengan berdagang kecil-kecilan di depan rumah. Dari kegiatan belanja sebelum azan Subuh, sampai mengolah bahan makanan hingga ia siap untuk dijajakan—aku pun ikut membantu. Tak hanya itu, sebagian dagangan itu aku bawa ke sekolah untuk dipasarkan. Sepulang dari sekolah, jika kudapati ibu kelelahan menunggui dagangannya, maka aku akan menawarkan diri untuk menggantikan pekerjaannya—merelakan masa bermainku bersama kawan-kawan, merelakan masa anak-anakku yang dipenuhi keriangan dan kegembiraan.

Bapak bukannya tak pernah pulang ke rumah. Pulang, tapi tidak mesti waktunya: kadang satu bulan sekali dan seringkali lebih dari itu. Dan, setiap pulang ke rumah, perhatian bapak hanya tertuju pada adikku saja. Hubungan kami jadi berjarak. Tak sedekat dulu lagi, bahkan jarang sekali bapak mengajakku bicara. Jikapun ada kesempatan untuk berbincang, nada bicara bapak selalu berupa tuntutan-tuntutan.

Pernah suatu hari aku dinobatkan sebagai siswa terbaik di sekolah dengan nilai yang sangat memuaskan, bersamaan dengan jadwa bapak pulang ke rumah. Seperti halnya anak seumuranku, aku pun ingin disanjung oleh bapak atas pencapaianku ini. Tapi,  bukannya pujian yang kudapatkan, aku malah kena marah kerna adikku mendapat nilai yang buruk di sekolah.

“Aku tidak bangga dengan prestasimu ini,” bentak bapak sambil membanting buku raport di depanku. “Sebagai kakak, harusnya kau yang bertanggung jawab atas baik dan buruknya nilai adikmu di sekolah.”

Aku kecewa saat itu. Dan, menyusul kekecewaan-kekecewaan lain hingga lulus SMA dan mendaftar ke akademi militer seperti yang sudah direncanakan sejak lama. Sayang, aku gagal di tingkat tes kesehatan kerna mengidap buta warna parsial di mana hal tersebut tidak dapat ditolelir oleh institusi kemiliteran.

Pasca kegagalan itu kekecewaan bapak sangat nyata kurasakan. Sikapnya semakin kasar, minimal menghindar jika aku ingin mengajaknya bicara tentang keinginanku meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Lebih baik kau mendaftar (tentara) lagi saja,” kata ibu menyampaikan pesan bapak. “Jangan pasrah begitu.”

Tiba-tiba jawaban itu membuat kepalaku tertunduk lama, lama sekali. Bukankah buta warna parsial adalah kelainan genetik yang tak bisa diobati?

Baik.

Sepenuhnya bapak tidak keliru. Cuma kurang maju sejengkal. Aku memang pasrah. Tapi, yang perlu digaris bawahi: bahwa pasrah dan menyerah adalah dua hal yang berbeda. Itu kenapa sejak jauh-jauh hari aku telah mempersiapkan diri: serius belajar dan mengikuti semua kegiatan sekolah hingga meraih prestasi—baik dalam bidang akademik atau yang lain. Hal tersebut masih kutambah dengan olah fisik dan latihan psikotest. Itulah bentuk kepasrahanku.

Yang terhormat Pak Markum, bapak saya. Menurut laku jatrining dumadi, perang itu ada beberapa jumlahnya, salah satunya adalah gojali suta: yaitu perang antara Boma Narakasura dengan ayahnya sendiri Prabu Kresna. Mungkin kita ditakdirkan berada di lingkaran gojali suta, meskipun tak sejengkalpun aku menginginkan hal itu.

Yang terhormat bapak saya, Markum bin Hamdan. Mungkin bapak tidak sadar atau sudah lupa, bahwa kita pernah memiliki riwayat indah di mana bapak selalu hadir dalam hidupku sepenuhnya dan seutuhnya: yaitu ketika bapak masih sering mendongengiku setiap malam menjelang tidur. Masa itu adalah masa di mana aku merasakan cinta yang sangat luar biasa. Merasa menjadi anak yang paling beruntung kerna telah ditakdirkan hidup di dalam keluarga yang hangat. Sambil memelukku, bapak mulai berkisah tentang legenda-legenda Nusantara, bahkan tentang cerita yang mungkin bapak karang sendiri. Setiap hari. Setiap malam, meskipun bapak tampak kelelahan kerna telah bekerja seharian, tak sekalipun bapak menolak jika aku meminta untuk didongengi hingga larut malam dan kemudian tertidur.

Meskipun di kemudian hari hubungan di antara kita semakin memburuk, meskipun pengalaman cinta nan relegius itu tak pernah kurasakan lagi, sampai hari ini aku masih menjadikan bapak sebagai panutan: menjadi seorang pencerita yang baik, itu kenapa aku ingin menulis. Ya, aku ingin jadi penulis. Aku ingin menjadi seperti bapak di luar seragam yang selama ini bapak kenakan. Aku ingin menjadi seorang pencerita seperti yang pernah bapak lakukan dulu kepadaku.

Bahkan aku masih ingat cerita favorit dari bapak: kang kura karo kang bedhes (kakak kura-kura dan kakak monyet), yang bapak sadur dari Hikayat Kalilah dan Dimnah. Cerita itu berasal dari India, berisi dua belas bab, dikarang oleh Baidaba pada masa pemerintahan Maharaja Dabsyalim pada abad ke-3. Buah pemikiran Baidaba itu dapat ditemui di dalam kitab-kitab tua agama Hindu: lima cerita di dalam Pancatantra, lima cerita di dalam Mahabarata dan dua cerita di dalam Hitopadesa. Kalilah dan Dimnah kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet, bahasa Old Parsi dan bahasa Suryani dengan judul Qalilaj dan Damnaj. Lalu, oleh seorang kelahiran Basrah, Abdullah bin Muqaffa, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Kalilah dan Dimnah yang kemudian menjadi sangat populer di kalangan masarakat kita—dengan pelbagai varian cerita—seturut dengan penyebaran agama Islam di Nusantara.

Aku tidak hendak mengatakan apa yang sudah kulakukan sebagai seorang anak, sudah membayar semua jasa orang tua. Bukan! Sampai kapanpun hal itu tidak mungkin terjadi. Yang kumaksud adalah, bahwa di dalam dunia ini ada hukum timbal-balik.

Begini:

Bukankah ketika masa kecil dulu polah tingkahku pernah membuat bapak tertawa bahagia? Senyum, tawa dan tangisku bukankah pernah membangkitkan semangat bapak untuk melanjutkan hidup yang sempit dan rumit ini?

Kalau begitu biarkan aku seperti ini. Restuilah aku untuk menjadi apapun meskipun kegiatan yang kulakukan setiap malam hanya pergi ke warnet untuk mencari lomba menulis berhadiah. Dari kegiatan itu, terkadang  panitia lomba menghubungiku, menginformasikan bahwa tulisan yang kukirim dinyatakan layak terbit hanya saja harus mengirim sejumlah uang sebagai ganti biaya cetak. Kadang-kadang tulisan yang kukirim tidak ada kabar beritanya, dan paling sering ditolak. Tapi aku bahagia. Aku sangat menikmati proses ini. Bukankah puncak dari semua keinginan bapak terhadapku—agar mencapai kebahagiaan?

Kalau begitu, relakan aku seperti ini. Aku bahagia di tempat ini. Harus berapakali kukatakan hal itu?

Fajar Saputro
Fajar Saputro lahir di Surabaya, 28 Juni 1984. Dari SD, SMP, hingga SMA selalu berpindah-pindah sekolah dan akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan S1 fakultas Ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Sudah menikah, dan sudah dikaruniai seorang puteri. Pekerjaan hanya wiraswasta biasa. Kegiatan lain, sebagai Ketua Umum di Padepokan Les Kendalisodo – Gresik.