Mencurigai Performative Reading

Mencurigai Performative Reading

performative reading orang membaca buku di tempat umum

DAFTAR ISI

Aku tidak benar-benar berhenti membaca sekalipun jumlah jari di kedua tanganku lebih banyak ketimbang buku yang tuntas kubaca dalam dua tahun terakhir. Tuntas pun juga belum berarti aku paham isi bukunya.

Sekarang aku lebih sering membaca komik, status Facebook penulis-penulis yang kusukai, informasi dalam bentuk carousel Instagram maupun artikel di internet yang menurutku menarik, atau apalah bentuknya. Buku sesekali. Jurnal ilmiah sangat jarang.

Menyampul buku sangat sering. Kapan hari aku menyelesaikan pesanan menyampul dua puluh komik kurang dari dua jam.

Sesekali pula aku mengunggah gambar buku apa yang sedang kubaca. Kadang buku yang kuanggap ‘berat’, kadang buku yang kuanggap ‘ringan’. Kadang membaca di rumah, lebih sering di warung kopi.

Belakangan, mulai sering terpapar konten-konten soal buku, journaling, apa pun itu yang berkaitan dengan literasi. Juga konten-konten dari orang yang berharap diajak kencan ke toko buku maupun berkencan di toko buku.

Algoritma membantuku terhubung dengan lebih banyak orang membaca buku. Beberapa kali menemukan orang bikin konten sedang membaca buku di kereta, di taman, di kamar. Ada pula yang membaca buku di warung kopi sama sepertiku.

Ada orang yang mengaku baca 50 buku sehari. Ada yang mengaku sudah membaca sekitar 15 ribu buku selama ia hidup.

Ada orang-orang yang berniat meminjamkan buku kemudian malah ditilep. Ada orang-orang yang membuka lapak perpustakaan jalanan sembari was-was digerebek aparat.

Apa pun tujuan mereka membaca buku, buatku, tidak jadi soal. Mereka bisa saja membaca untuk dirinya sendiri, membaca untuk pamer, atau untuk keperluan finansial karena pekerjaan mereka mengharuskannya demikian. Aku tidak punya cukup alasan untuk memastikan mana yang paling benar.

Justru, kegiatan membaca ternyata tetap dilakukan orang-orang sekalipun mulai merasa harga buku sekarang lumayan menguras kantong.

Internet membuatku melihat bahwa aktivitas membaca masih berlangsung dalam banyak bentuk. Ia mengubah membaca menjadi konten. Ia memperlihatkan komunitas dan praktik membaca yang mungkin sebelumnya tidak kulihat.

Sebab terpapar konten-konten soal buku-bukuan, terpapar pula dengan istilah performative reading. Belum ada pengertian yang kuanggap memuaskan dari istilah itu, tetapi dekat dengan keinginan seorang pembaca untuk kelihatan kalcer.

Dalam pengertian yang kubikin-bikin sendiri, performative reading adalah kegiatan membaca buku di tempat umum sebagai cara menampilkan citra tertentu pada orang lain. 

Dengan pengertian itu, performative reader bisa berupa orang yang memperlakukan buku sebagai aksesori, menggunakan buku untuk membentuk citra bahwa ia cerdas, berbudaya, maupun punya waktu untuk hal-hal ‘berat’.

Sewaktu menulis pengertian performative reading di atas, justru aku curiga pada diriku sendiri, juga pada pengertian yang kubikin-bikin itu. Sedikit kecurigaanku berupa:

Apakah aku membaca karena menikmati bukunya? 

Apakah aku keberatan jika ada orang lain melihatku membaca di tempat umum?

Apakah aku merasa senang jika dianggap kalcer, intelek, berbobot?

Apakah apakah-apakah itu membatalkan pengalaman membacaku?

Bagaimana kita tahu bahwa pengalaman membaca dan keinginan untuk dilihat mesti saling meniadakan?

    Setelah mengenal istilah performative reading maupun performative reader itu, aku jadi ikutan melihat diriku dengan cara serupa. 

    Apakah aku sungguh ingin membaca atau ingin terlihat sebagai orang yang membaca?

    Sewaktu mengunggah gambar buku yang sedang kubaca, apakah aku sedang ingin berbagi atau sedang membangun citra?

    Sekiranya aku ke toko buku, apakah karena perlu membeli buku, atau berharap bertemu seseorang yang juga suka buku?

      Ada sangat banyak alasan untuk membaca. Adakah yang mengharuskan manusia hanya punya satu?

      Buatku, mempertanyakan alasan seseorang membaca di tempat umum itu melelahkan. Tidak ada yang pasti, sehingga kita mungkin tidak akan pernah tahu.

      Sebelum aku melihat orang lain membaca buku di tempat umum kemudian menyebut kegiatan membaca mereka sebagai performative reading, ada yang perlu kujawab dulu.

      Apakah aku perlu tahu alasan orang itu membaca di tempat umum?

      Apakah jika bacaannya kuanggap ‘ringan’ ia bisa dianggap remeh? Apakah jika bacaannya ‘berat’ aku merasa inferior?

      Kenapa ayam menyeberang jalan? Untuk sampai ke sisi sebaliknya? 

      Ada kemungkinan ayamnya lebih dari satu. Ada kemungkinan ayamnya punya lebih dari satu alasan.

      Mencurigai Performative Reading - menyampul buku gratis
      Posko Menyampul Buku Gratis/Dokumentasi Sediksi

      Di warung kopi temanku, aku terhubung dengan dunia literasi lagi. Aku sering melihat orang membaca buku, pernah melihat orang mengaji, sering mencuri dengar orang membincangkan buku.

      Sekarang aku lebih sering menyampul buku di sana. Beberapa kali pula membuka lapak Menyampul Buku Gratis (MBG), yang sering kali berbarengan dengan kegiatan yang dilakukan oleh komunitas literasi yang tidak kukenal.

      Program Menyampul Buku Gratis jelas bisa kukelola sesuai kemampuanku, dengan kemampuan anggaranku sendiri, dan sudah barang tentu bukan janji kampanye yang mesti ditunaikan apa pun risikonya.

      Lewat MBG, aku punya banyak motif. Orang lain bisa melihatku menyampul. Aku ingin dikenal sebagai tukang sampul buku. Aku juga ingin membikin Sekte Penyampul Buku Gemas (SPPG).

      Soal menyampul buku, ada satu motif yang bisa dengan terus terang kujelaskan, dan itu berhubungan dengan keperluan finansial.

      Aku hendak menumpang di warung kopi temanku untuk membuka jasa menyampul buku berbayar. Dua ribu rupiah per buku, lima ribu rupiah untuk tiga buku.

      Setelah melihat banyak motifku sendiri ketika menyampul buku, aku tidak punya dasar yang cukup untuk mengira-ngira motif orang lain membaca buku di tempat umum. Apalagi, ketika aku sendiri punya banyak motif ketika melakukan sesuatu.

      Kenapa pula aku perlu menebak-nebak motif orang membaca, apa pun motifnya, sementara wakil presiden negara ini terang-terangan mengaku tidak suka membaca?

      Kolaborasi Sediksi × UGM lagi cari responden penelitian.

      Kamu kerja + aktif medsos? Pas banget jadi respondennya. 🙏

      Kuesioner Berhadiah!

      Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

      Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

      Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

      Sediksi x Magister Psikologi UGM

      notix-artikel-retargeting-pixel