Bagaimana Feminisme di Mata Lelaki Porno? (Sebuah Pengakuan)

Oleh: Ahmad Kevin Alfirdaus Arief

Feminisme dan Otak Porno

Ilustrator/Oky Dwi Prasetyo

Feminisme memang punya daya, tapi apa iya lebih besar dari syahwat di kepala lelaki porno?

Saya mau membuka suatu rahasia. Jika beberapa waktu lalu publik milenial khususnya para pecinta shitpost, internet negatif, dan sejenisnya, sempat lihat meme yang bunyinya “Harga telor naik karena langka. Efek dari banyak ayam betina jadi feminis. Mereka menganut my body my authority.”

Nah, sebenarnya si pembuat meme ini adalah ….

Maaf gak jadi, biarlah tetap yang satu ini jadi rahasia. Saya takut terlalu banyak rahasia pribadi saya yang terbongkar di tulisan ini. Nanti—semoga pembaca tidak sadar—ada rahasia saya yang terpaksa saya bongkar.

Kalau boleh ditanggapi berlebihan, meme di atas menggambarkan betapa feminisme itu memiliki daya yang luar biasa dalam kehidupan. Tapi apa iya lebih besar dari syahwat dalam kepala lelaki porno?

Sebelum pertanyaan ini terjawab, kita coba mengulas lagi apa itu feminisme. Feminisme adalah sebuah kata yang mewakili perlawanan terhadap dominasi maskulinitas, entah dari sektor pekerjaan, sosial, ekonomi, sampai cangkruk-an ngopi a la kaula muda

Melihat perempuan-perempuan duduk sampai tengah malam di warung kopi, bisa jadi hal yang tidak wajar di mata masyarakat. Buktinya Omah Diksi tidak buka sampai lewat jam 11 malam. Apalagi pelanggan cewek. Katanya sih itu aturan dari warga sekitar.

Mekanisme sosial tentang pandangan masyarakat “wanita seharusnya sesuai kodratnya” sudah menjadi budaya konsumsi sehari-hari. Zaman memang berusaha mengintervensi kondisi ini. Tapi apalah daya, sampai saat ini belum terlihat terang kabar datangnya kebebasan itu. Haduh nanti penulis dikata liberal lagi, huft..

Lihat saja konsep my body my authority yang sulit berkembang di lingkungan kita. Seperti masih adanya perilaku tidak senonoh yang menimpa Ratu Dangdut-Koplo, Via Valen beberapa waktu lalu. Kejadian itu kemudian diunggah ke Instastory Mbak Via. Isinya, screenshot dari pelecehan verbal dari seorang pemain sepak bola berkebangsaan asing yang namanya tak ia sebutkan.

Tentu saja, Mbak Via memiliki maksud agar hal serupa tidak terulang, baik pada dirinya maupun perempuan lain. Mbak Via dan banyak perempuan lainnya memiliki keresahan tersendiri dengan tidak bisa serta-merta mengamini budaya frontal a la pelaku pelecehan verbal, dalam berhubungan. Jadi ini bukan hanya masalah “lebay gak lebay, atau ah biarin aja sih… lagian kan pemain bola itu orang barat,” sebagaimana respon warganet terhadap isi dari story Mbak Via.

Bahaya sekali jika kita terus mengamini budaya yang tidak baik masuk ke ranah publik. Bisa-bisa nanti Indonesia hanya akan menciptakan liberalisme gaya baru. Bisa saja muncul liberalisme atas dasar agama atau sebuah perbuatan buruk dianggap biasa karena sudah menjadi budaya.

Simone de Beauvoir yang merupakan seorang eksistensialis dan merupakan pacar abadinya Jean Paul Sarte (yang tidak peduli dengan biologis gender) pernah memperdebatkan itu lewat karya mereka masing-masing. Simone merujuk dan mengkritik keras bahwa penulis & pemikir eropa belum pernah menyinggung urusan kelas gender. Seperti yang ia tujukan pada Marx, bahwa Marx hanya merujuk kelas sosial dalam masyarakat. Nantinya, Marx memberi jawaban terhadap kritik tersebut.

Lewat salah satu tulisan, Marx yang merujuk bahwa laki-laki dan perempuan adalah layaknya suami istri yang membagi hasilnya dalam pekerjaan yaitu: laki-laki bekerja dan perempuan menjaga ladang. Memang tidak ditunjukkan gender secara subjektif, tapi cita-cita Marx selebihnya adalah kesejahteraan untuk seluruh umat manusia tanpa adanya liberalisme dan kapitalisme yang kala itu terus menjadikan manusia sebagai alat produksi tanpa peduli ia laki-laki ataupun perempuan.

Sedangkan Simone, melihat jelas kelemahan mascular perempuan yang memiliki inferioritas atau bermutu rendah. Dan tetap saja tidak ada batasan tentang eksploitasi kapasitas kaum wanita dalam pekerjaan. Kritik keras ini juga ia tujukan kepada pacarnya sendiri yang seorang pecandu kebebasan, yang menganggap kebebasan adalah asas paling tinggi dalam menjalani kehidupan.

Eksistensialis memang berangkat dari keunikan setiap individu, tapi seringkali fenomologi (kesadaran dalam diri) justru dipahami sebagai metode. Lalu, bagaimana jika negara mengintervensi manusia dalam meraih kesadaran dalam dirinya masing-masing? Bagaimana jika negara malah menciptakan hegemoni baru yang menghambat manusia meraih kesadaran dan potensi dalam diri?

Dalam kasus ini Simone menjawab dengan lugas. Lagi-lagi tentang asas feminisme yaitu “ketidakberdayaan perempuan menyebabkan kehancuran, karena laki-laki memandang perempuan dalam perspektif rencana bagi kesuburan dan ekspansi”.
Simone jelas mengkritik keras pernyataan Sarte mengenai pembagian kelas gender bahwa “Perempuan butuh dicintai dan laki-laki hanya butuh seks”. Dan Simone juga mengamini jika budaya tersebut terus terulang, hanya akan menjadikan laki-laki sebagai pihak superioritas dan perempuan hanya menjadi objek dari kebringasan laki-laki.

Dari sini saya sempat mewancarai salah seorang narasumber laki-laki yang mengaku berotak porno. Kebetulan narasumber itu saya sendiri. Ehm, saya melihat gambaran struktur sosial yang ada di lingkaran saya. Bahwa menurut awam saya dan setengah dari yang saya kenal; perempuan harus dikuasai.

Entah dijadikan bahan pamer bahwa pacarnya cantik, atau takut dicela jomblo oleh temannya namun kalkulasi tersebut memang mengamini hubungan ke arah seks. Dan lelaki belang seperti itu, iya saya juga, jika sudah ter-iyakan nafsunya bakalan nagih dan minta terus. Budaya buruk sepeti ini bahkan merambah sampai bocah-bocah di facebook yang sering kita sebut ,”Generasi Tik-tok & generasi micin”.

Bagaimana caranya mengantisipasi jika dari usia dini saja sudah dikenalkan kebiasaan buruk macam ini? Bagaimana caranya mengantisipasi jika pendidikan masalah gender tidak ditemui di pendidikan usia dini?

Siapa yang salah? Ya, laki-laki. Nafsunya gede. Seharusnya saya dan laki-laki lainnya harus lebih sering dengerin dakwah lewat hastag #pemudahijrah.

Jadi kita mengiyakan secara berjamaah apa kata Simone “Laki-laki adalah manusia seutuhnya, sedangkan perempuan adalah lainnya” ?

Jika memang nafsu kita tidak terbendung, cukuplah meyakinkan orang lain untuk tidak terjerumus dalam budaya surut yang kapan saja bisa menghempaskan perempuan sebagai objek kebringasan. Betapa jahatnya jika tidak bisa merubah diri sendiri namun membiarkan budaya buruk sekitar menjadi konsumsi masyarakat.

Feminisme a la Sodik
Ahmad Kevin Alfirdaus Arief
Seseorang remaja yang mencoba mempertanyakan segala hal yang praktis, disusupi dengan hal satire agar pembaca dapat mengerti maksud saya. Sudah, yang penting tulisan saya dibaca dengan seksama dengan tempo yang sesingkat-singkatnya