Bagaimanapun, Kami Masih Perlu Televisi

Oleh: Ilham Vahlevi

Bagaimanapun Kami Masih Perlu Televisi

Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

Televisi. Satu-satunya media massa yang bisa menghibur saya dan warga di kampung halaman.

Pembaca yang budiman, izinkanlah saya curhat dengan candaan yang minimal. Barangkali bisa menghibur anda semua. Meski rasanya, sediksi tidak harus berisi candaan saja. Menjadi humoris kan juga tidak mudah. Banyak sih yang bilang kalau cowok humoris itu disukai banyak cewek. Terutama kalau cowoknya juga ganteng. Hehe.

Jadi begini, saya tumbuh besar di pulau kecil yang terletak di utara pulau Bali dan sebelah timur pulau Madura. Listrik di kampung halaman saya, hanya menyala saat magrib dan mati sesudah subuh. Kalau musim angin dan hujan kencang, kapal pengangkut solar tak berani berlayar, maka masjid akan mengumumkan melalui TOA (ditenagai oleh listrik aki atau genset) bahwa sistem nyala bergilir akan dilakukan nanti malam dan desa mana saja yang akan mati listrik serta desa mana pula yang nyala.

Hanya di hari minggu listrik menyala sebentar di waktu siang, dan saya menjalani masa putih merah dengan gembira dengan tontonan untuk anak-anak di stasiun televisi. Dari serial Power Rangers yang entah sudah ada berapa versi, anime Dragon Ball yang selalu diulang, Yu Gi Oh yang dulu sempat dituduh mempromosikan praktik sihir dan juga anime One Piece yang saat ini sudah dilarang tayang karena konten kekerasan di dalamnya.

Televisi. Satu-satunya media massa yang bisa menghibur saya dan warga di kampung halaman. Saat malam, remote control televisi akan dikuasai oleh ibu-ibu yang ingin menonton sinetron kesukaan mereka atau bapak-bapak yang ingin mengikuti perkembangan politik tanah air. Maka tentu saja, hari minggu menjadi hari yang kami tunggu-tunggu agar bisa menonton televisi dengan leluasa.

Bagaimana dengan media cetak? Koran harian? Majalah mingguan atau bulanan? Ada, jika anda memesan pada orang yang sedang berada di pulau Madura dan butuh waktu sehari dua hari untuk sampai di tangan anda. Informasinya jelas sudah basi. Singkat kata, anda akan ketinggalan informasi. Maka kembali lagi, hanya televisilah media yang bisa memenuhi kebutuhan kami akan informasi dan (paling penting) hiburan.

Buku? Saya hanya mengandalkan koleksi perpustakaan sekolah. Itu pun didominasi buku-buku terbitan era orde baru.

Internet? Ah iya, saat saya SD dan SMP, hanya sedikit saja orang yang punya komputer. Itu pun tak tersambung ke jaringan internet. Telkomsel baru menanam investasi di kampung saya pada saat saya SMP, sekitar tahun 2005 kalau saya tidak salah ingat, kemudian disusul oleh provider lainnya. Saya sendiri baru megang telepon seluler sekitar tahun 2007, saat berkesempatan merantau ke Madura untuk sekolah.

Tahun 2007, di Pamekasan, warnet, toko buku, penyewaan komik, dan penyewaan DVD tersebar di beberapa titik. Saya memuaskan birahi saya akan hiburan di bilik warnet menyewa beberapa komik untuk bacaan sambil makan dan terkadang menyewa film untuk saya tonton di kamar.

Beberapa kawan yang telah lama mengikuti atau menggeluti dunia komik Jepang jadi rujukan saya dalam hal berdiskusi. Beberapa teman ada juga yang mengikuti komik Amerika. Teman yang lain ada yang menyukai musik-musik non mainstream juga sering saya jadikan panutan.

Yang jelas, dibandingkan mereka, saya jauh tertinggal soal cerita-cerita dari komik, film, musik dan produk media populer lainnya. Saya gagap budaya populer. Katrok, sekatrok-katroknya. Saat SMP, mana saya tahu apa itu Coldplay, Muse atau bahkan band musik macam Mocca. Yang saya tahu hanyalah apa-apa yang ada di televisi. Yang populer saat saya SMP adalah ST12, Ungu, Radja, Peterpan, Naff atau Kangen Band.

Saya menikmati musik-musik mereka dan terkadang menyanyikan lagu mereka saat nongkrong. Musik ‘non-televisi’ yang saya tahu lainnya adalah lagu-lagu pop Malaysia, karena kebanyakan orang di kampung saya menjadi TKI. Film? Yang sering diputar di televisi saat saya SD adalah film india. Saya lebih tahu siapa Salman Khan dan siapa Amitabh Bachan ketimbang Bruce Willis atau Harrison Ford. Film superhero? Yang sering diputar di televisilah, macam Spiderman, Hulk atau Batman. Saat SMA, mana saya tahu apa itu Elongated Man atau Thor.

Saat saya sudah melek internet, akses saya pada media lebih luas dan tidak hanya terbatas pada televisi, maka terbukalah pengetahuan saya. Barulah saya tahu bahwa Kangen Band itu dicaci bukan karena vokalisnya (maaf) buruk rupa, tapi karena musiknya dianggap murahan dan berkualitas rendah. Kalau hanya soal buruk rupa, vokalis Aerosmith juga buruk rupa (tapi anaknya cakep, Bro!), tapi musiknya bagus (kata orang). Di suatu majalah musik yang saya pernah baca, bahkan salah seorang vokalis band metal mengacungkan jari tengah dan berteriak “F*ck Kangen Band!” dan “Fu*k Ian Kasela!”.

Jelas referensi dan preferensi saya dibentuk oleh televisi. Setidaknya sampai saya SMA. Sebelum saya SMA, saya pikir saya bebas memilih saluran televisi yang saya suka dan sudah cukup mengikuti perkembangan dunia seluruhnya melalui itu. Sepuluh saluran televisi cukuplah untuk tahu soal kebudayaan populer dunia.

Saat saya SMA dan kuliah, baru saya sadari bahwa saya belum cukup gaul untuk ukuran orang kota dan modern. Teman-teman saya di kota membicarakan Warcraft, Counter Strike atau game PC lainnya di hadapan saya, maka saya berusaha membelokkan topik pada game PS 1 (satu-satunya game yang saya mainkan saat SD, itu pun menumpang pada teman saya yang kaya dan sebatas Super Mario, Tamiya dan Bloody Roar) agar saya tak kelihatan dungu dan bisa mengimbangi obrolan.

Mereka membicarakan film Iron Man terbaru, sedangkan pemahaman saya soal sistem multiverse cerita komik Amerika, tak ada sama sekali. Mereka membicarakan lagu terbaru Efek Rumah Kaca, sedangkan saya masih belum paham apa sih makna kata ‘indie’ itu.

Tidak. Saya sedang tidak mengutuki atau mengasihani diri saya sendiri. Untuk anda ketahui, di pulau kampung halaman saya, hanya separuh wilayah yang dialiri listrik. Artinya masih ada daerah di kampung saya yang belum bisa mengakses media massa bahkan televisi, apalagi internet, sampai saat ini masih begitu.

Tahun 2012, PBB menyatakan bahwa akses internet termasuk hak asasi manusia, maka saya tertawa sedih. Jangan bicarakan akses internet dulu, beri kami listrik agar malam kami di kampung bisa dihibur televisi. Sesungguhnya pemerataan listrik adalah amanat dari sila kelima Pancasila.

Maka dari itu pembaca budiman, ketika anda menemui seseorang macam saya yang tak tahu kebudayaan populer non-mainstream, maka maklumilah. Sebab kami tak seberuntung Anda dalam hal akses media atau internet. Kami katrok bukan karena selera kami buruk, tapi karena kami belum tahu. Maafkanlah! (sebentar, kenapa saya minta maaf?) Sebab televisilah yang membentuk selera kami dan televisilah satu-satunya media yang bisa menghibur kami.

sodik dan tv1
Ilham Vahlevi
Penikmat Masa Muda