Selamat Tinggal September “Ceria”

Oleh: Muhamad Erza Wansyah

September Ceria

Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

Sebab dibalik keceriaan seseorang yang dipamerkan, tersembunyi penderitaan mendalam dari seseorang lainnya. Terutama, bagi penganut ideologi Knowing Everything Particular Object.

Di balik layar kaca, Om Romi Rafael boleh terlihat gagah dengan kemampuan hipnotisnya. Tapi bagi saya, Tante Vina Panduwinata masih jauh di atas angin. Om Romi hanya bisa menghipnotis orang dalam hitungan menit. Jam-lah paling banter. Sedangkan Tante Vina, sudah membuktikan diri jauh lebih hebat.

Kemampuan Tante Vina menghipnotis bisa terlihat dari bagaimana masyarakat masih terperdaya oleh lagu ciptaan James F. Sundah, September Ceria.

Pengaruh lagu itu bagai Sang Surya menyinari dunia. Bertahan dan terus bertahan. Dari pertama kali dirilis tahun 1982, hingga sekarang. Mulai sejak saya bersembunyi di kuburan kala bermain petak umpat, hingga kini dimana saya lebih sering bersembunyi di balik kenyataan.

Pengaruhnya, bisa dilihat dari foto mesra sepasang kekasih yang tetiba jadi rajin dipamer-pamerkan, diskon besar-besaran atas nama “September Ceria,” atau status bernada penyambutan bulan September, seperti:

Good bye Amazing August, Welcome September”

Halah. Bila kepercayaan orang-orang mengenai September Ceria itu benar, seharusnya kan Eufroisne, sang Dewi Keceriaan dalam Mitologi Yunani itu tengah asyik-asyiknya menabur kasih dari puncak gunung tertinggi. Namun nyatanya, baik itu di dunia nyata atau sekadar di dalam mimpi, selama ini saya tak pernah melihat sosoknya di bulan September.

Inilah alasan kenapa saya merasa keceriaan September harus ditelusuri lebih jauh. Agar pengaruh lagu September Ceria tak menjalar ke anak cucu kita. Apa benar keceriaan di bulan September itu asli? Atau jangan-jangan, selama ini kita hanya termakan angan-angan?

Saya mulai dengan mencari tahu di kolom “hari ini dalam sejarah” yang saya temukan di halaman utama Wikipedia. Klik satu persatu, tanggal demi tanggal di bulan September setiap tahun demi tahun. Hasilnya? Jangankan keceriaan, saya justru mendapatkan banyak sejarah kelam dari berbagai negara di belahan dunia.

Pada awal September 1939, terjadi penyerangan oleh Jerman terhadap Polandia yang menjadi penanda Perang Dunia II. Perang paling mematikan di abad 20.

Pada masa-masa yang genting itu diperkirakan ada lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat kekejaman tentara Jerman dan Jepang. Sebagian besar diantaranya adalah kaum Yahudi. Dan hingga kini, Anda dengan mudah dapat membuat orang Eropa menangis hanya dengan membicarakan hal ini.

Masih di bulan September, tanggal 11 di tahun 2001. Gedung WTC dihantam oleh empat pesawat yang telah dibajak. Peristiwa yang lebih dikenal dengan peristiwa 9/11 (baca: nine eleven, bukan sembilan sebelas). Ya, insiden itu masih menyisakan “kode-kode”. Meski pada hakikatnya, kode pada peristiwa 9/11 tak seseram “kode” wanita saat berkata: “terserah”.

Indonesia sendiri pernah mengalami peristiwa genting di Bulan September. Yakni, pada tahun 1965. Pada tahun tersebut peristiwa G30S/PKI terjadi. Menyisakan perdebatan tiada henti. Utamanya, seputar kematian para jenderal.

Sebenarnya, saya juga heran. Kenapa kok kebenaran akan tragedi 30S/PKI hingga sekarang tak kunjung terungkap? Apa selama 53 tahun lamanya, tidak ada satu pun yang menanyakan langsung kepada bulan September? Atau jangan-jangan, sisa pemerintahan Orba juga sudah mencuci otak Bulan September, sehingga ia lupa fakta di balik peristiwa tersebut? Ah.

Lantas catatan sejarah seperti ini apa masih bisa mewakili harapan pada lagu “September Ceria”?

Dan masih di bulan September di tahun Anjing Tanah. Pak Gatot, dengan gagahnya menantang Kepala Staf Angkatan Darat agar menghimbau masyarakat kemabli nonton bareng Film G30S/PKI. Ya, sampai di penghujung bulan September tahun ini Pak Gatot tidak ingin masyarakat merasakan keceriaan tanpa harus melihat adegan seorang anak meraup darah ayahnya sendiri ke mukanya.

Padahal, tanpa menonton film tersebut kita sudah harus kembali bersedih melihat bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di Palu dan Donggala. Merespon bencana yang berupa fenomena alam dan takdir Tuhan ini saja, tidak semua orang bisa bijak; mengatakan bahwa korban bencana terlalu banyak berbuat maksiat. Yang lain justru memamerkan keceriaan dengan membagikan foto ceria di atas jembatan yang saat ini sudah hancur.

Frase September Ceria pada lagu Tante Vina, yang kemudian seolah menjadi penegasan kebahagiaan di bulan yang mungkin kelabu, barangkali tidak hendak meniadakan tragedi. Lagipula, dalam lirik pembuka lagu September Ceria, tersirat harapan agar hari-hari kemudian menjadi lebih baik dibanding hari kemarin. Sayangnya, pesan penuh harap itu tak terjawab. Tahun-tahun berikutnya, September masih menyisakan luka.

Sahabat, kawan, bung, akhi dan ukhtiku sekalian yang dirahmati oleh Tuhannya masing-masing, dengan segenap kerendahan hati, marilah kita sejenak menundukkan kepala untuk menghormati luka dunia yang pernah terjadi di setiap bulan September.

Saya barangkali hanya iri dengan keceriaan-keceriaan di bulan September yang pernah kita pamerkan di sosial media, maupun di hadapan orangnya langsung. Itu karena saya sendiri tak memiliki keceriaan, dan kalau diminta untuk pamer, hanya bisa pamer kesedihan. Dibalik keceriaan seseorang yang dipamerkan, tersembunyi penderitaan mendalam dari seseorang lainnya. Terutama, bagi penganut ideologi Knowing Everything Particular Object.

Muhamad Erza Wansyah
Belum selesai berobat jalan, tapi sudah terlanjur lulus dari jurusan psikologi di Universitas Brawijaya.