Lagu Hits era 80-an di Stranger Things, Lebih dari Soundtrack

Lagu Hits era 80-an di Stranger Things, Lebih dari Soundtrack

max stranger things soundtrack stranger things running up that hill kate bush

DAFTAR ISI

Sejak pertama kali tayang pada 2016, Stranger Things sering dipandang sebagai serial fiksi ilmiah tentang monster, dunia paralel, dan anak-anak bersepeda yang selalu sial. Namun, jika ditonton lebih dekat, serial karya Duffer Brothers ini sebenarnya menyimpan satu elemen yang sangat penting dan konsisten dari awal hingga sekarang: musik.

Seperti dikutip dari Deadline, Stranger Things memang dirancang sebagai kapsul waktu yang membawa penonton kembali ke era 1980-an. Era ketika kaset pita masih diputar ulang dengan pensil, radio menjadi teman setia di kamar tidur, dan lagu-lagu pop serta rock bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas.

Namun, musik dalam Stranger Things tidak berhenti sebagai pemanis nostalgia. Ia berkembang menjadi alat bercerita, penghubung emosi, simbol harapan, bahkan senjata untuk bertahan hidup.

Lagu Hits era 80-an di Stranger Things

Lagu Hits era 80-an di Stranger Things, Lebih dari Soundtrack - stranger things season 5

Salah satu kekuatan terbesar Stranger Things terletak pada kemampuannya menghidupkan kembali lagu-lagu era 1980-an dan memperkenalkannya ke generasi baru. Lagu-lagu ini bukan sekadar latar belakang, melainkan bagian penting dari cerita dan emosi karakter.

Beberapa lagu bahkan mengalami lonjakan popularitas puluhan tahun setelah pertama kali dirilis, membuktikan bahwa musik yang kuat tidak pernah benar-benar usang.

Lagu-lagu era 80-an yang paling berpengaruh di Stranger Things antara lain:

“Should I Stay Or Should I Go” – The Clash

Lagu ini menjadi simbol ikatan keluarga Will dan Jonathan Byers. Dalam cerita, lagu tersebut berfungsi sebagai pengingat rumah dan rasa aman, sekaligus penanda bahwa Will masih terhubung dengan dunia nyata meski terjebak di Upside Down.

“Time After Time” – Cyndi Lauper

Diputar dalam adegan Snow Ball musim kedua, lagu ini mewakili harapan, ketulusan, dan keinginan untuk tetap bertahan setelah melalui trauma panjang.

“Every Breath You Take” – The Police

Meski terdengar romantis, lagu ini memiliki nuansa pengawasan dan kecemasan. Penempatannya dalam serial memperkuat suasana rapuh dan penuh ketidakpastian pasca konflik besar.

“Baba O’Riley” – The Who

Lagu ini mengiringi momen-momen perubahan besar di musim ketiga. Ia menjadi penanda peralihan karakter dari masa kanak-kanak menuju dunia yang lebih dewasa dan tidak lagi sederhana.

“Running Up That Hill (Deal With God)” – Kate Bush

Lagu yang paling ikonik ini hadir di musim keempat. Di Stranger Things, lagu ini mendapatkan makna baru sebagai alat penyelamatan, simbol perlawanan terhadap trauma, dan bukti bahwa musik bisa menjadi jalan kembali ke kehidupan.

“Master of Puppets” – Metallica

Meski berada di ujung era 80-an, lagu ini memperkuat identitas Eddie Munson. Penggunaannya menunjukkan bahwa musik keras sekalipun bisa menjadi bentuk pengorbanan dan keberanian.

Sayangnya, ada yang agak miss di pilihan lagu ini. Soalnya, timeline Stranger Things seharusnya lebih awal dari ketika lagu ini dirilis.

“Heroes” – David Bowie

Sebagai penutup, “Heroes” dari David Bowie akan menjadi cara paling pas untuk mengakhiri Stranger Things. Lagu ini merangkum inti serial tersebut: orang-orang biasa yang bertahan di situasi mustahil, bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka saling peduli. 

Dengan nuansa yang reflektif dan penuh harapan, “Heroes” akan menegaskan bahwa para karakter mungkin tidak menang sepenuhnya, namun untuk satu momen penting, mereka adalah pahlawan.

Pilihan soundtrack Stranger Things

Lagu Hits era 80-an di Stranger Things, Lebih dari Soundtrack - soundtrack stranger things season 5

Melalui pilihan lagu-lagu ini, Stranger Things tidak hanya mengajak penonton bernostalgia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana musik era 80-an mampu berbicara lintas generasi. Lagu-lagu lama diberi konteks baru, emosi baru, dan makna baru, tanpa kehilangan ruh aslinya.

Singkatnya, Stranger Things membuktikan satu hal sederhana namun penting: lagu-lagu hits era 80-an bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cerita yang terus hidup selama masih ada yang mendengarkan.

Musim pertama

Hubungan antara musik dan karakter sudah terlihat jelas sejak musim pertama. Salah satu contoh paling kuat adalah relasi antara Will Byers dan kakaknya, Jonathan.

Lagu “Should I Stay Or Should I Go” milik The Clash bukan hanya lagu favorit keluarga mereka. Lagu ini menjadi pengingat rumah, cinta, dan rasa aman bagi Will saat ia terjebak di Upside Down.

Dalam konteks cerita:

  • Will berada sendirian di dunia gelap dan berbahaya
  • Ia tidak bisa melihat atau menyentuh keluarganya
  • Musik menjadi satu-satunya jembatan emosional yang tersisa

Ketika lagu itu diputar, penonton menyadari bahwa suara dan kenangan memiliki kekuatan yang mampu menembus batas dua dunia. Di sinilah Stranger Things mulai memperkenalkan ide besar mereka: musik bukan hiasan, melainkan penyelamat.

Musim kedua

Musim kedua menempatkan musik pada peran yang lebih lembut, namun sangat manusiawi. Setelah berbagai trauma, kehilangan, dan ketakutan, serial ini ditutup dengan adegan Snow Ball yang ikonis.

Snow Ball adalah pesta dansa sekolah sederhana. Tidak ada monster, tidak ada portal dimensi, hanya anak-anak yang mencoba kembali menjadi anak-anak.

Empat lagu mengiringi momen tersebut:

  • “Love Is A Battlefield” – Pat Benatar
  • “Twist of Fate” – Olivia Newton-John
  • “Time After Time” – Cyndi Lauper
  • “Every Breath You Take” – The Police

Di sini, musik berfungsi sebagai:

  • Bahasa universal untuk menyembuhkan luka
  • Simbol normalitas setelah kekacauan
  • Pengingat bahwa kebahagiaan kecil tetap mungkin ada

Bagi karakter maupun penonton, musik membantu menurunkan ketegangan dan memberi ruang bernapas setelah cerita yang gelap.

Musim ketiga

Musim ketiga membawa pendekatan yang lebih besar dan lebih lantang. Bahkan sejak trailer, Stranger Things sudah menegaskan arah ini lewat pilihan lagu.

Dua lagu yang menonjol adalah:

  • “Home Sweet Home” – Mötley Crüe
  • “Baba O’Riley” – The Who

Musik di musim ini menandai perubahan besar:

  • Karakter mulai meninggalkan masa kanak-kanak
  • Persahabatan diuji oleh jarak dan perasaan baru
  • Dunia terasa lebih kompleks dan tidak lagi aman

Lagu-lagu rock yang energik dan penuh emosi ini memperkuat tema transisi. Stranger Things tidak lagi hanya soal petualangan anak-anak, tetapi juga tentang tumbuh dewasa dan kehilangan kepolosan.

Musim keempat

Puncak hubungan antara musik dan cerita terjadi di musim keempat. Di sinilah musik benar-benar menjadi elemen naratif utama, bukan sekadar latar.

Lagu “Running Up That Hill (Deal With God)” milik Kate Bush menjadi simbol perlawanan terhadap Vecna. Dalam adegan penyelamatan Max Mayfield, musik secara harfiah digunakan untuk menarik seseorang kembali dari ambang kematian.

Makna musik di musim ini:

  • Musik membantu karakter melawan trauma terdalam mereka
  • Lagu menjadi jangkar identitas dan kenangan
  • Musik berfungsi sebagai perlindungan terakhir

Selain itu, “Master of Puppets” dari Metallica memperkuat karakter Eddie Munson. Adegan tersebut menunjukkan bahwa musik juga bisa menjadi bentuk keberanian terakhir, tindakan heroik tanpa janji keselamatan.

Musim kelima

Dengan serial yang baru saja tamat ini, peran musik kembali menjadi sesuatu yang perlu diamati. 

Ada beberapa pilihan lagu soundtrack Stranger Things season 5 yang kiranya penting buat dihighlight:

  • Running Up That Hill (A Deal With God) – Kate Bush
  • Rockin’ Robin – Michael Jackson
  • Heroes – David Bowie

Selain Running Up That Hill yang secara konsisten diputar berulang kali, Rockin’ Robin-nya Michael Jackson jadi pengantar yang brilian untuk membuka musim.

Pilihan musik buat menutup season 5 juga sukses jadi puncak segala yang terjadi di Hawkins. Lagu Heroes dari David Bowie jelas pilihan tepat buat menunjukkan bagaimana akhirnya semua tokoh penting di serial ini berakhir jadi ‘pahlawan’.

Pesan yang konsisten sejak awal terasa semakin jelas: dunia bisa runtuh, onster bisa datang dari mana saja, tapi selama masih ada musik, masih ada harapan.

Stranger Things seolah ingin mengatakan bahwa lagu bukan hanya bunyi, melainkan ingatan, emosi, dan kekuatan untuk bertahan. Dalam dunia yang penuh ketakutan, musik adalah pengingat bahwa manusia masih punya sesuatu untuk dipegang.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa serial ini begitu melekat. Karena di balik monster dan dimensi lain, Stranger Things tetap berbicara tentang hal paling sederhana: suara yang membuat kita merasa tidak sendirian.

Baca Juga

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-artikel-retargeting-pixel