Nyeri Leher: Ketika Pikiran yang Penuh Mulai Terasa di Tubuh

Nyeri Leher: Ketika Pikiran yang Penuh Mulai Terasa di Tubuh

DAFTAR ISI

Nyeri leher: ketika pikiran yang penuh mulai terasa di tubuh

Ada masa ketika tubuh seperti tahu lebih dulu bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Bukan dalam bentuk menangis. Bukan juga selalu dalam bentuk kelelahan, sulit tidur atau kehilangan nafsu makan. Kadang tubuh hanya terasa lebih tegang.

Bahu seperti terangkat terus-menerus. Rahang tanpa sadar mengatup. Kepala terasa berat dan nyeri leher terasa. Lalu suatu pagi, kita bangun dan mendapati leher hampir tidak bisa digerakkan.

Pertanyaannya kemudian sederhana, apakah semua itu bisa ada hubungannya dengan stres? Jawabannya bisa. Tetapi bukan dalam pengertian sederhana bahwa sakit leher cuma karena pikiran.

Tubuh tidak selalu memisahkan emosi dan fisik

Ketika kita sedang berada dalam tekanan, tubuh tidak serta-merta mengetahui bahwa sumber masalahnya adalah pertengkaran, pekerjaan, kecemasan, atau pikiran yang tidak selesai. Respons stres melibatkan sistem tubuh yang memang dirancang untuk menghadapi ancaman.

Salah satu konsekuensinya adalah meningkatnya aktivitas otot. Kita bisa menjadi lebih tegang tanpa benar-benar menyadarinya. Sebuah systematic review dan meta-analysis terhadap penelitian eksperimental menemukan bahwa berbagai stresor dapat meningkatkan aktivitas otot leher dan bahu secara bermakna.

Efek ini ditemukan baik pada stres kognitif maupun emosional. Masalahnya, ketegangan semacam ini tidak selalu terasa sebagai “saya sedang tegang”.

Tubuh bisa saja sudah bekerja lebih keras sementara kita merasa hanya sedang duduk, berpikir, atau menjalani hari seperti biasa.

Kita mengangkat bahu ketika cemas. Mengencangkan rahang ketika kesal. Menahan napas ketika menghadapi sesuatu yang membuat tidak nyaman. Mempertahankan posisi tubuh tertentu ketika sedang berkonsentrasi.

Kalau berlangsung sebentar, mungkin tidak berarti banyak. Tetapi ketika tekanan berlangsung berulang selama berhari-hari, akumulasi ketegangan tersebut menjadi hal yang berbeda.

Di titik tertentu, tubuh mungkin mulai memberi sinyalnya sendiri.

Nyeri leher: bukan berarti stres adalah satu-satunya penyebab

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Leher yang sakit setelah bangun tidur tetap bisa disebabkan oleh posisi tidur, postur, aktivitas fisik, atau masalah muskuloskeletal lainnya. Tidak setiap nyeri leher adalah manifestasi dari stres.

Hubungan antara stres dan nyeri leher juga bukan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang melibatkan 28 penelitian dengan total lebih dari 39 ribu partisipan menemukan hubungan antara stres psikologis dan nyeri leher-lengan nonspesifik kronis.

Namun, penulisnya juga menekankan bahwa kualitas bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa stres secara pasti merupakan faktor penyebab. 

Dengan kata lain, kita tidak bisa mengatakan:

“Saya stres, makanya leher saya sakit.”

Yang lebih tepat mungkin:

“Stres dapat menjadi salah satu faktor yang membuat tubuh lebih rentan mengalami atau mempertahankan nyeri.”

Ini penting karena tubuh manusia tidak bekerja seperti mesin dengan satu tombol penyebab.

Nyeri adalah hasil interaksi banyak hal, entah itu jaringan tubuh, aktivitas otot, postur, tidur, pengalaman nyeri sebelumnya, kondisi psikologis, dan konteks kehidupan seseorang.

Penelitian mengenai nyeri leher nonspesifik juga menunjukkan bahwa psychological distress, termasuk stres, kecemasan, dan depresi, berkaitan dengan persistensi dan kekambuhan nyeri leher, meskipun kepastian buktinya masih bervariasi.

Mungkin tubuh sedang mengatakan: cukup

Ada sesuatu yang menarik dari cara kita sering memperlakukan stres. Ketika kepala penuh, kita masih bisa memaksa diri bekerja. Ketika sedang bertengkar, kita masih bisa memasak. Ketika sedang cemas, kita masih bisa menjalankan rutinitas.

Karena tidak ada bagian tubuh yang terlihat rusak, kita menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal tubuh mungkin tidak setuju. Bukan berarti setiap sakit kepala, pegal, atau nyeri leher harus diterjemahkan sebagai masalah psikologis. Justru sebaliknya, kita perlu berhenti meremehkan keduanya. Nyeri fisik tetap nyata meskipun stres berperan di dalamnya.

Mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan, “Ini sakit fisik atau cuma karena stres?”

Melainkan “Apa yang sedang terjadi pada tubuh, dan apa yang sedang terjadi dalam hidup ketika tubuh mulai merasakan ini?”

Karena bisa saja jawabannya adalah keduanya.

Leher yang kaku mungkin memang membutuhkan istirahat, gerakan yang tepat, atau pemeriksaan medis jika diperlukan. Tetapi kalau pada saat yang sama seseorang sedang hidup dalam ketegangan yang tidak kunjung selesai, mengatasi leher tanpa melihat sumber ketegangannya mungkin hanya menyelesaikan sebagian persoalan.

Tubuh bukan tempat terpisah dari kehidupan psikologis kita. Kadang-kadang, sesuatu yang terlalu lama ditahan secara emosional akhirnya muncul dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Dan mungkin, sebelum buru-buru menyalahkan tubuh karena terlalu sensitif, ada baiknya bertanya:

“Akhir-akhir ini, sebenarnya apa yang sedang ditahan dan mengganggumu?

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM