Jebolnya Taktik Parkir Bus PDIP

Jebolnya Taktik Parkir Bus PDIP

Jebolnya Taktik Parkir Bus PDIP
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Taktik parkir bus bukan hanya milik sepak bola. Dunia politik juga kadang menerapkannya dengan istilah yang berbeda. Kalau dalam sepak bola ada istilah penguasaan ruang, maka politik punya istilah penguasaan teritori.

Dalam sepak bola, ada taktik yang disebut “parkir bus”. Tapi, jangan dibayangkan ini beneran memarkir bus di lapangan, ya.

Jadi, ceritanya gini. Musim 2004-05, laga derby kota London mempertemukan Chelsea vs Tottenham Hotspur. Laga berlangsung sangat sengit. Tak mau kebobolan, Tottenham menumpuk pemainnya di depan gawang.

Walhasil, hingga pertandingan berakhir, Chelsea kesulitan menemukan celah untuk memasuki area kotak penalti lawannya. Skor pun berakhir imbang 0-0.

Pelatih Chelsea kala itu, Jose Mourinho, sangat kesal dengan taktik tersebut. Saat konferensi pers, dia bilang, “seperti istilah kami di Portugal, mereka membawa bus dan menaruhnya di depan gawang.”

Secara sederhana, taktik parkir bus adalah menempatkan banyak pemain di area pertahanan untuk menutup ruang bagi pergerakan lawan. Prinsipnya: tidak boleh ada celah bagi lawan untuk memasuki ruang pertahanan kita. Tanpa celah, tak ada peluang, tak ada kebobolan.

Menariknya, meskipun sempat sinis, sejarah mencatat bahwa justru Mourinho lah yang terkenal sebagai pelatih yang mengandrungi taktik parkir bus.

Di bawah asuhannya, Chelsea identik dengan taktik pertahanan menumpuk ini. Dan di bawah “The Special One” pula, Chelsea mengangkat trofi Premier League tiga kali.

Sewaktu melatih Inter Milan dari 2008 sampai 2010, taktik ini terus menjadi senjata Mourinho. Dan hasilnya: Inter menjadi tim pertama Italia yang merebut Treble Winners. Luar biasa, ya!

Parkir Bus di Kancah Perpolitikan

Taktik parkir bus sendiri bukan hanya milik sepak bola. Dunia politik juga kadang menerapkannya dengan istilah yang berbeda. Kalau dalam sepak bola ada istilah penguasaan ruang, maka politik punya istilah penguasaan teritori.

Pada pemilu 2024, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan menggunakan taktik ini. Hanya saja, penerapan taktiknya kurang maksimal, sehingga masih sempat kecolongan.

Awalnya, pada dua pemilu sebelumnya, yaitu 2014 dan 2019, PDIP menggunakan taktik gegenpressing ala Jurgen Klopp. Dengan pemain bintangnya kala itu, Joko Widodo, PDIP benar-benar melakukan pressing habis-habisan.

Dengan taktik itu, PDIP merebut dua trofi major: Pilpres dan Pileg. Bahkan, kemenangan itu direbut pada dua Pemilu berturut-turut. Di sejumlah daerah, PDIP juga meraih “piala ciki” (pilkada).

Namun, situasi berubah setelah kubu Banteng dilanda konflik. Di luar dugaan, Joko Widodo menjauh dari PDIP, disusul kerabat dan pengikut loyalnya. Ketidakharmonisan antara sang pemain bintang dengan pemilik klub, Megawati Soekarnoputri, menjadi penyebabnya.

Kita tahu, Jokowi dan sebagian besar loyalisnya pindah mendukung rival: Prabowo Subianto. Dengan posisi sebagai Presiden, segala sumber daya dan institusi masih di tangan kendali Jokowi.

Situasi itu mengubah perimbangan kekuatan Prabowo Subianto, yang berpasangan dengan anak sulung Jokowi, Gibran Rakabuming, menjadi kekuatan besar.

Ketika menyadari kekuatan lawan menggeliat berubah menjadi Goliath pasca mendapat dukungan Jokowi, PDIP segera mengubah taktik.

Kali ini, demi menjaga dukungan yang sudah ada, terutama di kandang-kandang Banteng yang menjadi lumbung suara, mereka menerapkan taktik parkir bus.

Jokowi Bikin Parkir Bus PDIP Akhirnya Jebol Juga

Jawa Tengah, kandang Banteng yang terbesar, ditetapkan sebagai basis pertahanan utama. Semua kekuatan dan sumber daya dikonsentrasikan di sana. Bahkan kampanye paling akbar pasangan Ganjar-Mahfud dilakukan di sana.

Namun, kubu Prabowo-Gibran tak kehilangan akal. Dengan Jokowi sebagai arsitek belakang layarnya, Prabowo-Gibran justru menerapkan taktik gegenpressing yang ofensif. Mereka merangsek masuk ke wilayah pertahanan lawan.

Situasi semakin menguntungkan kubu Prabowo-Gibran manakala wasit dan hakim garis cenderung memihak mereka. Permainan keras dan pelanggaran bertubi-tubi mereka tak berbuah kartu kuning, apalagi kartu merah.

Sebaliknya, PDIP justru kehilangan pilar-pilar yang penting. Setelah Budiman Sudjatmiko, jelang laga pamuncak, mereka juga kehilangan Maruarar Sirait. Hanya tersisa satu gelandang tanggung bernama Bambang “Pacul” Wuryanto.

Tak hanya menghadirkan permainan keras serta dukungan wasit dan hakim garis, kubu Prabowo-Gibran juga menggunakan doping bernama bantuan sosial (bansos). Bansos membuat kubu Prabowo-Gibran makin kuat, tak kenal capek.

Memang, PDIP mencoba membuat beberapa counter-counter cepat, misalnya dengan isu-isu demokrasi dan pelanggaran HAM. Tetapi, semua terhenti di lapangan tengah.

Terakhir, PDIP punya strategi yang disebut “pembilasan”, yakni menetralisir dampak-dampak dari manuver-manuver Prabowo-Gibran, terutama mengunjungi Jokowi ke Jawa Tengah dan guyuran bansosnya. Namun, ini tak berhasil juga.

Menjelang injury-time, PDIP memasukkan pemain bernaluri menyerang ekstrim, Basuki Thahaja Purnama alias Ahok. Namun, tanpa support dari pemain lain, Basuki lebih banyak bermain sendiri. Dia juga sering terperangkap offside.

Akhirnya, PDIP pun kebobolan. Serapat-rapatnya pertahanan parkir bus, strategi gegenpressing yang ofensif tetap berhasil menemukan celah.

Memang, PDIP masih menjadi pemenang Pileg, yang membuat mereka mencatatkan rekor hattrick kemenangan beruntun. Namun, Pilpres bukan lagi milik mereka.

Pasangan Ganjar-Mahfud kalah telak dari Prabowo-Gibran, bahkan di kandang terbesar PDIP sendiri. Dan itu berarti, mereka terlempar dari kampiun kekuasaan, puncak tertinggi dari kompetisi politik.

Penulis

Rudi Hartono

Penulis. Sesekali menjadi Peneliti, setiap saat menjadi fans Liverpool FC
Opini Terkait
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel