Menengok Sejarah Toilet: Perut Longgar, Hati Riang

Menengok Sejarah Toilet: Perut Longgar, Hati Riang

Menengok Sejarah Toilet

Tak jarang kita masuk ke toilet umum sekadar untuk menelepon, merokok, atau bahkan selfie, bukan?

Coba kita telisik seluruh ruangan yang ada di dalam rumah. Menurutmu, ruangan manakah yang berkaitan erat dalam sejarah peradaban umat manusia? Jawabannya adalah toilet. Tempat kita bersemedi sembari menjalankan ritus metabolisme tubuh yang tidak bisa ditunda, yakni buang air, baik itu buang air besar ataupun buang air kecil. Toilet telah menjadi fasilitas yang harus ada, karena ia melayani kebutuhan biologis manusia yang sangat mendasar.

Augusta McMahon, seorang arkeolog, menjelaskan bahwa toilet didapuk sebagai terobosan inovasi terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Pertama kali dikenal di kalangan masyarakat Mesopotamia pada akhir abad ke-4 hingga ke-3 SM saat seorang pria bernama Habuba Kabir menggunakan saluran pipa sebagai saluran pembuangan.

Di Mesopotamia ini pula, diketahui sejarah toilet umum yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Saragon I. Dalam perkembangannya, toilet umum masih ada hingga saat ini. Selain dibangun untuk memfasilitasi penduduk yang tidak memiliki toilet pribadi, toilet umum juga menjadi indikator kelengkapan fasilitas di tempat-tempat umum. Mulai dari gedung perkantoran, tempat ibadah, sekolah, hingga SPBU, wajib memiliki toilet umum. Alasannya, tentu saja karena “panggilan alam” tidak bisa ditunda.

Bicara soal toilet umum, kebersihan adalah yang utama, selain itu toilet juga bisa jadi tempat yang nyaman. Toilet umum–tidak seperti toilet pribadi yang ada di rumah atau di kamar kost kita–adalah ruang yang unik, yang berada di antara sifat privat dan publik. Di toilet umum, kita harus berbagi dengan orang lain, bahkan orang asing yang tidak kita kenal atau pun orang lain yang tidak terlalu kita sukai.

Selain menampung kegiatan biologis, apakah toilet umum juga digunakan untuk kepentingan lain dan punya kontribusi lain dalam kehidupan manusia? Fungsi toilet umum kemudian tidak hanya untuk pipis, boker, cuci tangan dan wajah, benerin make-up, dan bercermin sambil mengagumi kegantengan atau kecantikan diri sendiri.

Tak jarang kita masuk ke toilet umum sekadar untuk menelepon, merokok, atau bahkan selfie. Selama mengantri di toilet umum, bisa saja kita juga curi amatan terhadap gerak gerik dan model pengguna toilet lainnya, bahkan mencuri dengar pembicaraan.

Zena Kamash, seorang arkeolog, memberi penjelasan bahwa toilet umum di masa Romawi kuno dikenal –bahkan populer di beberapa wilayah tertentu –sebagai elemen kehidupan urban, yaitu sebagai tempat berbincang-bincang.

Toilet umum di masa dan lokasi tersebut biasanya bersuasana sangat riuh oleh suara percakapan para penggunanya, baik para pengguna yang keluar masuk, maupun mereka yang sedang berada di dalamnya. Perbincangan barangkali dapat dengan mudah muncul, sebab unit-unit toilet dalam toilet umum di masa Romawi kuno ini sama sekali tidak dibatasi sekat (ya, tanpa sekat, tidak seperti toilet umum di zaman sekarang). Namun di sisi lain, hal ini sekaligus tampil menjadi tantangan karena, meskipun para pengguna toilet tersebut bebas berbincang, kegiatan melihat atau menatap orang lain dianggap sebagai hal yang tidak beradab. Sebab itu, menengok sejarah toilet umum di masa Romawi kuno, ada fitur dekoratif yang sengaja dibuat dan disediakan sebagai obyek tatapan.

Baca Juga: Jangan ‘Berak’ di Amerika

Ruth Barcan, seorang peneliti kajian budaya, menjelaskan bahwa toilet umum adalah tempat kesetaraan. Konsumsi makanan merupakan hal yang begitu kental ditandai oleh kelas dan status, yang menyinggung soal berapa banyak makanan yang dimakan, jenis dari makanan itu, bagaimana cara dan di mana makanan itu dimakan. Namun, akhir dari proses konsumsi makanan tersebut, yaitu pembuangan limbahnya, tidak lagi tunduk pada persoalan-persoalan ilusif yang diproduksi oleh kelas dan status. Pada poin inilah, toilet mengikatkan kita pada kebersamaan dan kesamaan kita sebagai manusia.

Poin lainnya yang dipaparkan oleh Barcan adalah soal komunikasi yang terjadi di toilet umum. Hasil wawancara Barcan terhadap para pengguna toilet umum memperlihatkan bahwa ada komunikasi yang terjadi di sana, meskipun tingkat komunikasi yang diperlukan atau pun yang dapat muncul tersebut adalah area ketidakpastian sosial.

Sejumlah laki-laki yang diwawancarai dalam kajian tersebut mengungkapkan kebimbangannya dengan bertanya-tanya, “Apakah saya harus berbicara dengan orang asing yang juga sedang menggunakan urinal di samping saya ini atau tidak?” Meski terbatas dan bersifat ketat, percakapan antar pengguna toilet sangat mungkin untuk terjadi.

Orang yang saling asing tersebut benar-benar berdiskusi, obrolan yang terjadi itu bahkan kebanyakan bukanlah obrolan ringan, atau pun seringkali juga sebenarnya adalah obrolan tentang persoalan buang air itu sendiri. Namun, hal seperti ini juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan; muncul semacam “kewajiban” untuk berbicara yang rasa-rasanya tidak menyenangkan dan menumbulkan kecanggungan. Tidak hanya obrolan saja, komunikasi di toilet umum juga dapat melibatkan siulan nada-nada tertentu. Para pengguna toilet umum tidak jarang untuk saling berbalas dan melanjutkan siulan satu sama lainnya, yang disebut Barcan sebagai “infectious cheerfulness” atau “keceriaan yang menular”.

Kebayang kan nikmatnya BAB di zaman itu? Perut longgar hati pun riang.

Penulis
woman placeholder

Wendy Wibisono

Peminat dan penikmat arsitektur
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp