Tikus dan Proyek Percepatan Kiamat

Tikus dan Proyek Percepatan Kiamat

ilustrasi tikus kiamat baru

Google mencatat, ada lebih dari tiga juta kunjungan per detik yang menggunakan kata kunci “kapan kiamat terjadi”, dan saya satu di antaranya.

“2019 telah datang dan berlalu / seluruh dunia menjadi kacau begitu cepat / bangunkan saya ketika 2020 berakhir / semua rencana libur panjang saya telah hancur disebabkan beberapa pria di China memakan kelelawar / bangunkan saya ketika 2020 berakhir / panik mulai muncul / saya pergi ke minimarket, handsanitizer dan masker mengisi keranjang saya / saya pikir tahun ini akan menjadi tahun yang wah, tapi sekarang saya pengangguran,    stres dan gemuk / bangunkan saya ketika 2020 berakhir, ”

– Wake Me Up When 2020 Ends

Lirik di atas saya terjemahkan seadanya dari parodi lagu Green Day yang bulan ini juga sedang in, Wake Me Up When September Ends. Kini tak cukup bulan September, kalau ada teknologi yang mempuni banyak orang akan memilih hibernasi sampai tahun 2020 berakhir. “Wake Me Up When 2020 Ends” jadi ekspresi yang mudah kita jumpai di tahun berat ini. Saya dan mungkin banyak di antara pembaca sekalian, jengah dengan kondisi ini. Apalagi di negaranya Attar Halilintar, belum nampak tanda-tanda kurva persebaran covid-19 akan menurun dalam waktu dekat.

Sementara Atta Halilintar terus bikin konten youtube, seperti kebanyakan sobat millenials saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk overthinking. Apalagi setelah nonton video-video teori konspirasi. Duh. Jangan-jangan kiamat memang sudah dekat. Jangan-jangan kita semua sedang terjebak dalam proyek percepatan kiamat. Banyak hal yang makin sulit dinalar dan tentu saja, bikin kaget.

Baca Juga: Atta Halilintar dan Sebuah Kesombongan

Ngomong-ngomong soal kiamat, tahun ini sudah ada dua kali wacana kiamat. Pertama, pendapat para ahli teori konspirasi yang mengatakan kalau tahun 2020 yang sedang kita jalani ini adalah tahun 2012 menurut kalender Suku Maya Kuno. Syukurlah kita sudah melalui wacana kiamat yang dijadwalkan pada tanggal 21 Juni 2020 tersebut. Wacana thok bos!

Jauh sebelum para ahli teori konspirasi menyebarkan wacana kiamat, konspirasi agama-agama sudah lebih dulu memperingatkan kita soal kiamat. Mengimani hari akhir adalah wajib, setidaknya di agama yang sedang saya anut.

Mei lalu, di pertengahan bulan ramadan saya menerima pesan berantai di grup whatsapp keluarga. Katanya, akan terjadi Dukhan atau kabut asap gelap pada 15 Ramadhan 1441. Sebuah meteor atau benda langit dikabarkan akan menabrak bumi pada malam Jumat di pertengahan bulan ramadan. Tidak ada tanggal pastinya kapan kiamat terjadi. Tapi fenomena Dukhan, menurut penjelasan berantai tersebut adalah tanda-tanda menjelang kiamat.

Takut pada kiamat wajar saja saya pikir. Pun ketika ahli konspirasi overthinking dan mengatakan kalau kiamat terjadi di tahun ini. Belakangan, ketidakpastian datang beruntun menguji kemampuan survival manusia. Pandemi covid-19 adalah satu ketidakpastian itu, yang belum jelas jadwal buyarnya. Virus ini telah mampu menggoyangkan posisi manusia sebagai makhluk paling adidaya selama dunia berlangsung.          

Google mencatat, ada lebih dari tiga juta kunjungan per detik yang menggunakan kata kunci “kapan kiamat terjadi”.  Saya berada di antara mereka yang menanyakan kapan kiamat terjadi pada tuhan google. Hidup di akhir zaman adalah satu ketakutan dalam hidup saya. Ketakutan yang lain dan paling sering meneror saya tikus. Karena saya tidak bisa bikin konten youtube seperti Atta Halilintar, agar overthinking ini lebih produktif saya akan menjabarkan alasan takut pada tikus dan kenapa kamu sebaiknya tidak kasih hati pada hewan pengerat ini.

Baca Juga: Selamat Tinggal September Ceria

Kiamat dan Ancaman Populasi Tikus           

Soal kiamat, para ilmuwan telah lama mengeluarkan prediksi terkait. Yang paling populer adalah kehancuran bumi yang disebabkan oleh perubahan iklim. Mereka yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), 2018 lalu menerbitkan laporan mengenai pemanasan global yang mencapai 1,5 derajat celsius pada 2030 diikuti bencana katastropik berupa panas ekstrim dan kekeringan.

Masih dengan alasan pemanasan global, ditambah program senjata nuklir di beberapa negara, Bulletin of the Atomic Scientist kemudian memajukan jarum jam kiamat. Jam kiamat merupakan alarm yang mengukur sisa waktu dunia menuju apocalypse. Jam ini dibuat dua tahun pasca Amerika Serikat mengebom kota Hiroshima dan Nagasaki. Pada tahun 1947, kiamat diramalkan sejarak waktu tujuh menit dari tengah malam. Kini, jam kiamat maju menjadi 100 detik menuju pukul 00.00

Tidak peduli pandemi maupun perubahan iklim. Kerabat satu spesies kita, tikus, sedang mengumpulkan kekuatan untuk mendominasi dunia. Rasa jijik bukan satu-satunya alasan untuk takut pada si pengerat ini. Giginya memang tajam, rakus, pemakan segala, tapi yang paling mengkhawatirkan adalah kemampuannya beranakpinak dengan cepat.

Bobby Corrigan, seorang pakar tikus dari Cornell University, menjelaskan bahwa kenaikan suhu global ini adalah kondisi berkembangbiak paling subur bagi tikus. Masa kehamilan mereka terhitung pendek, hanya 14 hari. Di usia satu bulan pasca dilahirkan, tikus juga sudah bisa bereproduksi. Dalam kurun waktu setahun, hanya dari seekor tikus hamil sebuah kota akan dipenuhi belasan ribu ekor tikus. Saking banyaknya, tikus barangkali satu-satunya mamalia yang tidak bisa dipastikan jumlahnya di seluruh dunia. Meski tanpa penilitian para ilmuwan meyakini kalau populasi tikus luar biasa banyaknya.

Kita Hidup di Antara Tikus Yang Berbahaya

Tikus memiliki banyak kemiripan dengan manusia baik secara genetik maupun biologis. Wajar dalam aktivitas rekayasa genetika untuk kepentingan manusia, tikus menjadi alat percobaan pertama sebelum diterapkan langsung pada manusia. Sebuah penilitian bahkan menyebutkan kalau tikus merupakan nenek moyang semua mamalia termasuk manusia.            

Fakta ini memang menggelikan, tapi yang jelas apa yang kita makan juga dimakan tikus, dan yang dimakan tikus belum tentu kita makan. Bahkan saat manusia bersembunyi di rumah, tikus-tikus berkeliaran di jalanan kota saat pandemi ini. Ketahanan pangan para tikus lebih terjamin dari manusia. Berebut makanan  dengan tikus di rumah mungkin jarang terjadi. Tapi sebelum makanan itu tiba di meja makan kita, para petani sudah lebih dulu berperang dengan populasi tikus agar stok pangan manusia aman.

Saya berkesempatan ngobrol dengan calon mertua saya, yang juga berprofesi sebagai petani. Bulan maret lalu, hasil panennya merosot hingga 50%. Biasanya dalam sekali musim tanam, dia ini bisa memperoleh 1ton gabah padi tapi kemarin hanya setengah ton. Petani lain juga mengalami kerugian yang serupa. Dari hasil panen normal memperoleh 4 ton gabah padi, sekarang hasilnya hanya 2,5 ton.

Mereka bukan tidak berpengalaman menghadapi serangan hama tikus. Berbagai cara telah dilakukan, mulai dari gropyok-an berburu tikus hingga menebar racun. Semuanya tidak efektif membendung populasi tikus. Bagi petani ini adalah wabah yang nyata di depan mata. Tikus telah menyerang lebih dari 100 hektar lahan pertanian di Madiun. Tidak hanya padi, tapi juga tanaman lain seperti cabai dan jagung. Akibatnya tahun 2020 ini Madiun gagal panen. Ancaman krisis pangan yang disampaikan Jokowi beberapa waktu lalu sepertinya benar dan pandemi covid-19 hanyalah lain hal dari musabab utama.

Baca Juga: Museum Koruptor, Proyek Wisata Menjanjikan di Malang

Masalah lain yang tak kalah penting, sawah-sawah sudah banyak bergeser menjadi perumahan, bandara, dan tambang. Biasanya ini disebabkan jenis tikus berdasi yang juga tak kalah rakus. Jenis tikus satu ini, akan mempermudah kita melihat gambaran kemiripan manusia dari segi perilaku. Tikus berdasi terbukti juga berperan mewujudkan proyek percepatan kiamat. Jadi bagaimana? Masih mau berdamai dengan tikus seperti presiden tailan yang mau berdamai dengan corona?

Penulis

Fajar Dwi Ariffandhi

Penjual gorengan abal-abal.
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp