4 Ciri Moralitas yang Tinggi dan Cara Meningkatkannya

4 Ciri Moralitas yang Tinggi dan Cara Meningkatkannya

ciri moralitas yang tinggi
Polifoto/Pixabay.com

DAFTAR ISI

Seperti yang dijelaskan pada artikel sebelumnya, moralitas melibatkan unsur-unsur psikologis pada manusia: emosi, kognisi, kesadaran, maupun intuisi. Lalu, apa ciri moralitas yang tinggi?

Lebih luas lagi, dimensi moral sebenarnya masih banyak. Tidak sebatas dimensi psikologis, namun juga masuk ke dalam topik kemasyarakatan.

Kendati demikian, perlu digarisbawahi pula, bahwa kunci dari harmonisasi masyarakat itu ada di moral individunya. Sehingga, menjadi sangat penting bagi kita untuk mulai belajar menjadi manusia bermoral.

Selain sebagai individu, kita semua sudah mengamini bahwa kita juga termasuk makhluk sosial. Artinya, setiap individu memiliki hubungan dengan individu lainnya, ke arah positif maupun negatif.

Ciri Moralitas yang Tinggi

Tidak ada manusia yang bertahan tanpa bantuan dari manusia lainnya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk menjadi manusia yang bermoral, agar tetap bisa menjaga keharmonisan bermasyarakat. Dibawah ini adalah beberapa ciri moralitas yang tinggi pada seorang manusia.

1. Terpenuhi kebutuhan psikisnya

Menjadi manusia dengan ciri moralitas yang tinggi, biasanya mampu untuk memenuhi kebutuhan psikis individu. Baron & Byrne (2005), menyebutkan, dalam beberapa kasus menolong orang bisa membuat perasaan menjadi enak. Sebaliknya, jika pertolongannya tidak berhasil justru menimbulkan emosi negatif.

2. Memiliki kontrol perilaku

Orang-orang dengan moralitas tinggi juga memiliki kontrol yang baik dalam mengendalikan perilakunya. Karena, bila dia melakukan sedikit saja tindakan amoral, perasaan bersalah akan menyelimutinya.

Sehingga, dia akan selalu berusaha berbuat baik, agar tidak diselimuti rasa bersalah. Tidak seperti penderita gangguan mental, psikopat misalnya, menikmati perilakunya ketika membunuh. Dia mendapat kepuasan saat melakukan tindakan amoral tersebut (Levin & Fox, 2008)

3. Baik untuk membangun relasi sosial

Nadira Quamira di ruangpsikologi.com dalam artikelnya berjudul “Pentingnya Networking untuk Karir” mengulas pentingnya jaringan untuk menunjang karir. Tapi, apakah ada yang mau membangun relasi sosial dengan orang yang suka merampok, memerkosa, atau membunuh?

Jelas tidak ada yang ingin membangun relasi dengan manusia tidak bermoral, ya kecuali mereka-mereka yang tidak bermoral juga. Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa menjadi manusia bermoral bisa menunjang karir kita di kemudian hari.

4. Keadilan Sosial

Kasus korupsi di Indonesia, ataupun kasus-kasus hukum lainnya, tidak akan terjadi bila moral menjadi landasan penalaran. Karena, bagi mereka yang termotivasi dengan integritas moral, pertimbangan akan kebajikan dan keadilan (Baron & Byrne, 2005). Politisi, pengacara atau aktor negara lainnya, tidak hanya memilih kebijakan yang berguna bagi dirinya, tapi juga bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya (Haidt, 2007).

Barangkali, empat ciri moralitas yang tinggi di atas hanyalah sebagian kecil. Kami sendiri sangat yakin ada lebih banyak ciri lainnya sekaligus manfaatnya yang bisa dirasakan untuk manusia itu sendiri.

Paling sederhana untuk memunculkan ciri moralitas yang tinggi adalah jika dilakukan sejak kecil oleh lingkungan dan keluarga, demikian pula lembaga pendidikan. Akan tetapi, tiada kata terlambat untuk belajar. Kita yang telah menjadi dewasa pun bisa, mulai mengawasi moral diri sendiri agar tidak merugikan orang lain.

Cara Meningkatkan Moralitas

Dari beberapa referensi tentang moralitas dalam sudut pandang psikologi, berikut adalah beberapa rumusan untuk meningkatkan moralitas manusia.

1. Mengubah persepsi sosial ­

Jorge Moll beserta rekan-rekannya (2005), meneliti tentang fungsi otak manusia saat melakukan penilaian moral. Salah satu yang berperan ketika melakukan penilaian moral adalah beberapa bagian otak yang berfungsi untuk membentuk persepsi sosial.

Mereka beranggapan bahwa pandangan seseorang terhadap dunia sekitarnya berpengaruh pada bagaimana orang tersebut melakukan tindakan moral terhadap lingkungannya. Bila kita anggap perlu ada keharmonisan dalam masyarakat, tindakan kita akan tertuju pada harmonisasi masyarakat. Konsekuensinya, kita juga harus bertindak untuk menjaga harmonisasi pada masyarakat.

2. Memotivasi diri untuk bertindak dengan moralitas

Sebagaimana pendapat Carl Rogers bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri (Alwisol, 2009). Manusia juga memiliki kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri untuk bertindak sesuai dengan moralitas.

Memotivasi diri untuk bertindak dengen moral berarti menomorduakan motivasi untuk memenuhi kebutuhan individu (self-interest) (Baron & Byrne, 2005). Konflik antara self-interest dan integritas moral dapat diselesaikan dengan membuat pilihan bermoral. Mendasarkan pilihan atas kebajikan dan keadilan (Baron & Byrne, 2005).

3. Bersahabat dengan alam

Seorang pemimpin spiritual yang juga menjadi politikus di India, Mahathma Gandhi, pernah berkata “The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated” (Kebesaran negara dan kemajuan moralnya dapat dinilai dari cara mereka memperlakukan hewan).

Artinya, manusia bermoral tidak hanya bersikap bijak dan adil pada sesama manusia, namun juga pada hewan, dalam konteks yang lebih luas adalah alam. Maka dari itu, untuk menjadi manusia bermoral, hendaknya mulai sekarang kita juga berlaku adil pada alam. Bila telah adil terhadap alam, akan lebih mudah untuk adil terhadap sesama manusia.

4. Belajar dari negara lain

Di Jepang, seorang menteri transportasi atau perhubungan, misalnya, memilih mengundurkan diri karena ada kereta api tabrakan. Baginya, si masinis sampai mengalami kecelakaan itu adalah kesalahan dirinya. Dalam bukunya Asian Drama, Gunnar Myrdal, mengatakan bahwa bangsa-bangsa Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, adalah bangsabangsa lunak (soft state).

Lunak tidak dalam arti fisik, tetapi dalam arti moral, maksudnya, dalam bangsa ini yang benar dan salah serta yang baik dan buruk tidak begitu jelas perbedaannya. Karena itu, banyak sekali kasus di Indonesia yang kalau diletakkan dalam ukuran negeri-negeri maju akan merupakan skandal, tetapi di sini dianggap biasa saja (Rachman, 2012), contoh kecil saja adalah soal keterlambatan. 

Oleh karena itu, belajarlah dari negara lain, paling tidak akan timbul kesadaran diri akan butuhnya moralitas yang tangguh, sebagai pondasi hidup bermasyarakat. Ciri moralitas yang tinggi bisa kita lihat dan pelajari dari banyak budaya.

Referensi

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi. Malang: UMM Press.

Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid 2. (R. Juwita, & E. Al, Trans.) Jakarta: Erlangga.

Haidt, J. (2007). The New Synthesis in Moral Psychology. Science, 316, 998-1001.

Levin, J., & Fox, J. A. (2008). Normalcy in Behavioral Characteristics of the Sadistic Serial Killer. In R. N. Kocsis (Ed.), Serial Murder and Psychology of Violent Crimes (pp. 3-14). Sydney: Humana Press.

Moll, J., Zahn, R., Souza, R. d., Krueger, F., & Grafman, J. (2005). The Neural Basis of Human Moral Cognition. Neuroscience, 799-809.

Rachman, B. M. (2012). Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban. Jakarta: Democracy Project.

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 25 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut