Dua Sikap yang Dapat Menyelamatkan Kita dari Ancaman Covid-19

Dua Sikap yang Dapat Menyelamatkan Kita dari Ancaman Covid-19

Bukan cuci tangan, jaga jarak atau rajin mandi. Tapi, dua sikap ini yang kita harus tiru agar terhindar dari jahatnya virus Covid 19. Huehehehe.
Virus Covid-19 dan Ilustrasi Suntikan
ilustrasi: Oky Dwi Prasetyo

Wabah virus Covid-19 di Indonesia tak kunjung melandai. Per 21 September, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 248 ribu, dengan penambahan 4176 kasus baru. Jumlah penambahan kasus itu menjadi yang tertinggi selama ini. Kendati penambahan kasus harian fluktuatif, kurva penambahan kasus harian cenderung meningkat.

Kemarin (21/9), Menteri Agama Fachrul Razi dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan tes swab 17 September lalu. Fachrul menjadi Menteri ketiga yang terpapar virus ini. Sebelumnya, ada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Kabar tersebut melengkapi bagaimana kantor-kantor kementerian terpapar virus yang kali pertama merebak di Wuhan.

Klaster Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang per 18 September jumlahnya mencapai 252 kasus positif Covid-19 membuat kita patut bertanya: masihkah kita konsisten dan disiplin menerapkan protokol kesehatan? Pertanyaan ini mengemuka mengingat Kemenkes merupakan garda terdepan dalam menangani pandemi.

Sebagaimana dilansir Tirto.id, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahardiansah melihat Kemenkes mestinya menjadi teladan bagi masyarakat. Menurut Trubus, Kemenkes justru terlalu banyak mementingkan citra, dan mengabaikan pentingnya edukasi. Ketika ada beberapa tenaga kesehatan terpapar Covid-19, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebut mereka tidak disiplin.

“Tiap hari berkoar dan membuat syahwat pencitraan dengan menyebut masyarakat tidak patuh, tapi abai itu justru pada mereka sendiri,” ujar Trubus.

Baca Juga: Klaster Kemenkes dan Kelakar-Kelakarnya

Kesempatan ini, kata Trubus, perlu dijadikan bahan evaluasi penanganan Covid-19. Selain itu, Trubus juga menganjurkan pemerintah mengakui banyak kelemahan penanganan pandemi dan perlu bersikap terbuka pada masyarakat.

Disiplin adalah Kunci

Sebelumnya, ketika jumlah kasus positif mencapai 100 ribu, pernyataan serupa juga diungkapkan ketua Gugus Tugas Doni Monardo. Kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan merupakan kunci penanganan pandemi. Doni menganggap masyarakat tidak cukup disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Dalam beberapa minggu terakhir angka kasus positif rata-rata 1.000 per hari, bahkan bisa lebih dari 2.000 kasus. Inilah pentingnya kita semua saling mengingatkan kalau kita tidak cukup disiplin sendiri, tanggung jawab kita ajak yang lain disiplin,” ujar Doni.

Tiga pilar utama protokol kesehatan yakni menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak diharapkan mampu dijalankan oleh masyarakat. Dari tiga pilar tersebut, Doni mengakui bahwa menjaga jarak adalah hal yang sulit dilakukan. Doni menyatakan pihaknya mengimbau dan mengajak semua komponen masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan.

“Kalau bisa mengontrol diri menjaga jarak, satu sama lain jaga jarak dan tidak mendekati ke tempat kerumunan, maka proses penularan bisa dikurangi dan dicegah,” terang Doni Monardo.

Ujian Konsistensi

Dalam menangani pandemi, pemerintah juga telah berbuat banyak dengan membikin serangkaian kebijakan. Respon pemerintah ketika pandemi membikin perekonomian babak belur juga tidak bisa diabaikan. Mereka konsisten untuk tetap malanjutkan pembahasan Omnibus Law hingga RUU Cipta Kerja yang tujuannya menggerakkan kembali perekonomian.

Masyarakat yang kehilangan pekerjaan atau tidak bekerja direspon dengan membuat kartu prakerja yang memungkinkan mereka memperoleh skil tambahan. Demikian pula dengan berbagai kebijakan penting lain yang membuat ekonomi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Setidaknya, ini mencerminkan konsistensi pemerintah untuk membantu membuat dapur masyarakat mengepul.

Anjuran untuk mematuhi protokol kesehatan dikampanyekan secara terstruktur, sistematif, dan masif. Pemerintah di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten menerapkan pembatasan sosial. Tempat-tempat yang memungkinkan kerumunan terpaksa tutup agar masyarakat tidak seenaknya jalan-jalan.

Untuk hal ini, kampanye mematuhi protokol kesehatan tidak lagi menjadi domain pemerintah. Nyaris semua pihak berupaya mengampanyekan perlunya memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Di sisi lain, masyarakat kesulitan untuk bersikap konsisten. Di awal pandemi, jalan-jalan lengang, dan keramaian berkurang. Sementara saat ini, mereka keluyuran ke mal, nongkrong di kafe-kafe atau pun pelesiran ke tempat wisata. Situasi macam ini tidak bisa diabaikan mengingat potensi munculnya kerumunan makin besar yang sekaligus memperbesar risiko penularan.

Jangankan disiplin dan patuh pada protokol kesehatan, menahan diri tidak keluar rumah jika tidak diperlukan saja sulit. Setidaknya dari obeservasi singkat, kepatuhan memakai masker cukup tinggi.

Mencuci tangan dan menjaga jarak lain soal. Menjaga jarak perlu diakui amat sulit, sementara mencuci tangan tampaknya dilakukan hanya sepanjang ingat.

Masyarakat jenis yang tidak disiplin dan tidak patuh macam mereka memang perlu banyak belajar untuk disiplin dan konsisten. Ketika jumlah kasus positif terus meningkat, mereka bisa belajar konsistensi pada pemerintah, terutama untuk cuci tangan sampai bersih.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp