Friendster Kembali, Akankah Bersinar atau Mengulang Sejarah?

Friendster Kembali, Akankah Bersinar atau Mengulang Sejarah?

Friendster Kembali, Akankah Bersinar atau Mengulang Sejarah?

DAFTAR ISI

Sediksi – Siapa yang tidak kenal dengan Friendster? Kabarnya, Friendster kembali. Media sosial yang satu ini pernah menjadi primadona di era 2000-an, sebelum akhirnya tersingkir oleh medsos Facebook dan lainnya. Di puncak popularitasnya, Friendster memiliki jutaan pengguna di seluruh dunia.

Namun, apa yang terjadi dengan Friendster? Mengapa media sosial ini tiba-tiba menghilang dari peredaran? Dan bagaimana Friendster bisa kembali setelah bertahun-tahun mati suri? 

Nah berikut ini sudah Sediksi kutip dari berbagai sumber tentang sejarah singkat Friendster, alasan kejatuhannya, dan kabar kebangkitannya yang sedang viral di media sosial akhir-akhir ini.

Friendster kembali

Friendster Kembali, Akankah Bersinar atau Mengulang Sejarah? - 1000017262 1024x576 jpg
Friendster

Kapan friendster kembali?

Setelah hampir 10 tahun menghilang dari peredaran, Friendster kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama di X dan TikTok. Hal ini disebabkan oleh adanya kabar bahwa Friendster akan kembali aktif sebagai media sosial, setelah sebelumnya hanya menjadi situs game online.

Kabar ini bermula dari munculnya laman friendster.com, yang menampilkan kolom email untuk mendaftar sebagai daftar tunggu atau waitlist. Laman ini juga menampilkan logo Friendster yang baru, yang berbeda dari logo sebelumnya. 

Selain itu, laman ini juga menampilkan slogan “Friendster is back” dan “The original social network is back“. Namun, belum ada informasi resmi terkait kembalinya Friendster, baik dari pihak pengelola maupun dari sumber lain. 

Akan tetapi, dari penelusuran yang sudah Sediksi lakukan, per tanggal 30 januari 2024 sudah ada 131.853 orang yang sudah ikut serta dalam waitlist pada website Friendster ini.

Alasan friendster kembali

Setidaknya ada beberapa alasan yang mungkin menjadi dasar Friendster kembali. Beberapa alasan tersebut seperti:

  • Friendster ingin memanfaatkan tren nostalgia, yang sedang marak di kalangan generasi milenial dan Z, yang dulu pernah menggunakan Friendster sebagai media sosial favorit mereka.
  • Friendster ingin menawarkan alternatif media sosial, yang lebih sederhana, bersahabat, dan bebas dari konten negatif, yang sering ditemukan di media sosial lain, seperti hoax, hate speech, dan cyberbullying.
  • Friendster ingin mengambil peluang pasar, yang sedang terbuka karena adanya kejenuhan dan kekecewaan pengguna terhadap media sosial lain, yang dianggap terlalu komersial, politis, dan manipulatif.

Sejarah Friendster tutup

Ngomong-ngomong soal kembalinya Friendster, emang kapan sih media sosial ini tutup? Nah berikut ini sedikit sejarah tutupnya Friendster yang harus kamu ketahui. Friendster lahir pada Maret 2002 di Kanada, yang dibuat oleh seorang programmer bernama Jonathan Abrams.

Awalnya, Friendster adalah sebuah situs kencan online yang menghubungkan orang-orang berdasarkan kesamaan minat dan hobi. Namun, seiring berjalannya waktu, Friendster berkembang menjadi sebuah platform jejaring sosial yang lebih luas dan fleksibel.

Friendster mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2004-2005, ketika media sosial ini memiliki lebih dari 100 juta pengguna, terutama di Asia. Friendster bahkan sempat mendapat tawaran akuisisi dari Google sebesar 30 juta dolar AS, namun ditolak oleh Abrams.

Sayangnya, keputusan ini menjadi bumerang bagi Friendster, karena media sosial ini mulai mengalami kemunduran sejak tahun 2006.

Beberapa faktor yang menyebabkan Friendster kehilangan pamornya adalah sebagai berikut:

  • Masalah teknis, seperti lambatnya loading, seringnya error, dan buruknya desain interface.
  • Persaingan ketat dengan media sosial lain, seperti Facebook, MySpace, dan Twitter, yang menawarkan fitur-fitur lebih menarik dan inovatif.
  • Kurangnya inovasi dan adaptasi, seperti gagalnya mengembangkan fitur mobile, mengintegrasikan dengan media sosial lain, dan menggaet pengguna baru.
  • Perubahan kepemilikan, seperti dijualnya Friendster ke perusahaan Malaysia MOL Global pada tahun 2009, yang mengubah fokus Friendster dari media sosial menjadi platform game online.

Akibat dari faktor-faktor di atas, Friendster mengalami penurunan drastis dalam jumlah pengguna, trafik, dan pendapatan. Pada tahun 2011, Friendster menghapus semua data pengguna, termasuk foto, video, dan pesan.

Kemudian, mengubah situsnya menjadi sebuah situs game online. Pada tahun 2015, Friendster resmi menutup layanannya dan mengalihkan penggunanya ke situs game lain yang dimiliki oleh MOL Global.

Pertanyaanya, apakah Friendster akan berhasil kembali bersinar sebagai media sosial terpopuler? Ataukah Friendster hanya akan menjadi sejarah yang berulang? Hanya waktu yang akan menjawabnya. 

Yang pasti, kamu semua menantikan kehadiran Friendster yang baru, yang semoga bisa memberikan pengalaman media sosial yang lebih menyenangkan terutama bagi angkatan lama yang dulu pernah menjadi penggunanya.

Baca Juga
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-artikel-retargeting-pixel