Yang “Mengganjal” dari Guyonan Selangkangan

Rifky Pramadani
1 Lelucon Selangkangan

Ilustrator/Oky Dwi Prasetyo

Kira-kira, apakah model bercanda yang sama juga lazim digunakan di masyarakat hari ini? Atau jangan-jangan guyonan selangkangan ini sudah jadi adab baru dalam cara bercanda masyarakat kita?

Ketakjuban saya tidak berhenti ketika melihat seisi ruangan di sebuah lembaga pemerintah, gaduh dengan celometan akibat tingkah laku salah seorang pegawainya. Si pegawai nampak kesulitan menjelaskan pekerjaan yang telah dilakukannya sehari-hari. Ia berkali-kali mengulang kata “anu”, yang menunjukkan bahwa dirinya sedang gugup. Respon dari keramaian itu tentu bermacam-macam. Tapi nyaris seisi ruangan termasuk saya tergelak begitu “anu” tadi direspon dengan guyonan bernada seksual.

Ana-anu-ae, kepingin anu rupane,” satu tukang celometan memulai.

Tukang celometan yang lain menimpali, “suwe ora dijatah anu karo bojone”. Semoga saja saya tidak salah ingat. Tapi memang kira-kira begitu, ruangan riuh dengan pembahasan yang menjurus mesum.

Saya menangkap maksud seksual itu dari konteks lanjutan dari guyonan-guyonan yang dilontarkan tukang celometan lainnya. Saya masih mencuri dengar, kalau makin lama obrolan berlanjut ke urusan ranjang. Meski saya ikutan tertawa, tapi rasa tidak nyaman juga muncul mengingat perlunya membahas urusan ranjang di obrolan publik. Perkara selip lidah dengan mengatakan “anu” jadi ribet, dan guyonan “anu” memang sangat mungkin membikin sebal.

Saya juga memiliki seorang kawan yang kreatif betul perkara melemparkan guyonan ala selangkangan. Kondisi apa pun bisa ia bikin gayeng dengan membawa obrolan lewat guyonan di ranah privat. Makin heran lagi ketika banyak orang tergelak mendengar guyonannya. Saya jadi berpikir, dari mana datangnya guyonan dan kemampuan ajaib itu?

Dalam suatu sesi makan bersama, misalnya, dia mengajak saya dan kawan-kawan lainnya berdo’a sebelum makan. Alih-alih mengucap do’a sebelum makan—sambil cengengesan—dia malah mengucapkan niat untuk mandi besar. Saya paham apa yang dia maksud. Begitu pula kawan-kawan lain yang mengerti. Bukan soal pengucapan niat mandi besarnya yang jadi persoalan. Tapi intensi mengapa perlu mandi besar lah yang ditekankan oleh si pengucap.

Di lingkaran pertemanan saya, guyonan selangkangan memang banyak beredar. Demikian halnya di banyak lingkaran pertemanan kawan-kawan saya. Awalnya saya menganggap tiap lingkaran pertemanan punya cara bercanda yang berbeda-beda. Tapi ternyata, untuk satu hal itu, urusannya tidak jauh beda. Kira-kira, apakah model bercanda yang sama juga lazim digunakan di masyarakat hari ini? Atau jangan-jangan guyonan selangkangan ini sudah jadi adab baru dalam cara bercanda masyarakat kita?

Menyeriusi Guyonan

Ada dua hal yang membuat saya penasaran dengan model guyonan semacam ini. Pertama, mengapa hal-hal yang berkaitan dengan selangkangan menjadi lucu. Bentuk alat kelamin, toh, juga begitu-begitu saja. Posisinya juga di situ-situ saja. Aktivitas dengan menggunakannya, toh, juga nyaris tidak berubah sepanjang sejarah peradaban. Lantas mengapa alat kelamin menjadi lebih “lucu” ketimbang tangan, misalnya?

Penasaran dengan kelamin dan selangkangan, saya kemudian berselancar di internet. Saya mencari artikel yang membahas guyonan semacam ini, juga mencari gambar-gambar untuk dibandingkan, hingga website untuk menonton aktivitas seksual. Beberapa website, saya kunjungi. Porntube, misalnya.

Sialnya, beberapa situs yang saya kunjungi itu tidak membantu untuk menemukan letak kelucuannya. Atau jangan-jangan, kelucuannya hadir ketika sesuatu yang selama ini dianggap saru dan disembunyikan dibicarakan di ruang publik. Yang saru itu kemudian diterjemahkan dalam percakapan sehari-hari melalui penggunaan simbol tertentu. Inilah yang mungkin membuatnya lucu. Pasalnya, apa yang selama ini disembunyikan justru dibuka di publik dan punya makna baru.

Ke-dua, saya kira, guyonan selangkangan ini agak bermasalah karena membuat beberapa kata menjadi bermaksud ganda. Misalnya, “sosis”, “gunung”, “telur”, dan seterusnya, dimaknai dengan intensinya untuk menggambarkan alat kelamin. Daftarnya sangat mungkin bertambah mengingat guyonan ini mengambil saripatinya tidak hanya dari bentuk, tetapi juga pelafalan. Misalnya, lomba adu cepat melafalkan “kontak, kotak, tongkol, ”.

Lain kali, saya akan coba arsipkan ada berapa versi “anu” yang beredar di masyarakat. Atau, jika ada yang telah melakukan riset mengenai guyonan macam ini, saya bersedia membacanya.

Yang Belum Selesai dari Guyonan Selangkangan

Perkara selangkangan ini mengambil bentuk yang cukup unik. Pasalnya, sudah menjadi kesepakatan umum bahwa perkara seksual dianggap tabu. Bahkan, pendidikan mengenai seksualitas yang diajarkan di sekolah, sering membuat orang malu-malu awkward. Ingin menyebut jenis kelamin laki-laki, misalnya, seseorang kudu bersopan-sopan dulu mengucapkan maaf. Betul tidak?

Dalam beberapa kasus, guyonan kemudian menjadi medium perlawanan terhadap pandangan dominan maupun ketidak-beresan. Bentuk-bentuk guyonan seperti meme, hingga standup comedy acap digunakan untuk mengampanyekan sesuatu. Meme yang beredar dari saga #Telenovanto menjadi contoh paling dekat dengan kultur guyonan untuk berkampanye. Dengan catatan, guyonan demikian sudah selesai memberikan pengertian mana yang lucu dan tidak.

Sementara di masyarakat kita, hingga kini, hal ini masih tabu. Hasrat untuk membicarakan selangkangan muncul dan mengambil bentuk yang dapat diterima masyarakat, yaitu melalui guyonan. Meski sudah ada sejak lama, nyatanya guyonan selangkangan ini seperti kesulitan menemukan apa yang dimaknai sebagai kelucuan. Justru yang kerap terjadi, guyonan selangkangan lebih menunjukkan sifat yang agresif dan melanggengkan dominasi.

Komik Gibran Self Driving
Rifky Pramadani
Masih mahasiswa. Kadang-kadang ikut diskusi di Center for Critical Society on Media (Calism). Tertarik mengkaji ruang hidup, dan media.