Mobil Tanpa Sopir, Mungkinkah?

Oleh: Mikail Gibran

-Mobil-Tanpa-Pengemudi-Mungkinkah-Oki

Ilustrator/Oky Dwi Prasetyo

Menerawang masa depan dunia tranportasi. Dulu, diramal akan ada burung besi yang bisa terbang, dan terbukti. Mungkinkah mobil tanpa sopir? Di Indonesia?

Berdasarkan pantauan dari Google Maps, Omah Diksi berada di suatu jalan buntu yang ujungnya adalah sungai. Jadi setelah sampai di Omdik, pengemudi perlu putar balik untuk pulang. Untuk menuju kafe kumuh yang banyak mahasiswa lapuknya ini, pengemudi juga harus melalui gang-gang yang mungkin hanya cukup berpapasan dua mobil. Itu pun dengan asumsi tidak ada mobil parkir di pinggir jalan. Juga tidak ada marka jalan disana. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa menuju dan balik dari UB ke Omah Diksi menggunakan teknologi Self Driving membutuhkan waktu yang mungkin 2-3 kali lebih lama dari bersepeda.

Mobil tanpa pengemudi adalah perkembangan terbaru yang mengintegrasikan dunia otomotif dan IT. Sebenarnya pengemudinya tetap ada, cuma kerjaannya hanya memantau komputer dan sensor-sensor yang ada di mobil.

Sistem ini bekerja dengan tiga komponen utama. Navigasi untuk memantau lokasi dan mengetahui jalur untuk sampai tujuan. Sensor-sensor di sekujur bodi mobil untuk mengetahui keberadaan kendaraan lain, halangan, dan pejalan kaki di sekitar. Pemindai marka jalan supaya mobil tetap melaju konstan di lajur yang sama.

Hampir semua pabrikan mobil besar telah mengembangkan teknologi ini. Beberapa bahkan sudah dipasarkan. Pemerintah negara-negara maju pun mendukung sistem ini karena potensinya mengurangi kecelakaan. Dan sistem di mobil tadi lebih taat peraturan lalu-lintas ketimbang manusia.

Baca Juga Nih: Lucunya Jakarta dan Mobil-Mobilnya

Sebagai calon konsumen yang bermimpi menjadi kaya raya, semua tentu bermimpi bisa beli mobil macam ini. Jika mobil bisa jalan sendiri, maka sempurna sudah kita bisa indehoi di dalam mobil sembari mobil mengantarkan kita ke tujuan. Tapi apa mungkin itu bisa berjalan di indonesia?

Seperti umum diketahui, saat teknologi sudah berupaya mendaratkan manusia di Mars, birokrasi Indonesia masih berusaha memahami apa itu teknologi. Berjalan selalu terlambat. Beberapa tahun lalu, mobil listrik buatan dalam negeri dinyatakan tidak lulus uji emisi. Padahal anak SD juga tahu, yang namanya mobil listrik itu emisinya NOL. Karena tidak punya gas buang sama sekali.

Saat di luar sana mobil-mobil ramah lingkungan diberi keringanan pajak berlimpah, di Indonesia malah dianggap tidak layak jalan. Demikian pula nasib mobil hibrida (gabungan mesin konvensional dan listrik) yang di Indonesia malah dikenakan pajak barang mewah. Kira-kira begitulah nantinya mobil tanpa pengemudi akan bernasib, terkena pajak barang mewah.

Padahal bayangkan betapa banyak perkelahian di jalanan bisa berkurang karena teknologi ini. Jika terjadi kecelakaan, cukup katakan robotnya yang salah. Tidak perlu adu jotos lalu viral di Youtube. Biar mobilnya saja yang dijotosi sampai tangan bengkak. Toh ketok magic masih banyak.

Belum lagi potensi kecelakaan yang berkurang. Sudah umum diketahui pengemudi Indonesia adalah pengemudi yang tidak sabaran dan suka gatal kalau lihat jalan kosong: langsung gas pol. Hak-hak pejalan kaki, yang jumlahnya amat sangat sedikit itu, juga sering tertelikung.

Itu baru dari segi regulasi. Dari segi teknologi tampaknya mobil ini semakin tidak berguna di Indonesia. Jalanan di Indonesia bukanlah jalanan yang terencana. Karena pola pembangunan yang mendahulukan pemukiman daripada insfrastruktur, maka tata letaknya tidak jelas. Jalanan bisa menjadi sangat membingungkan. Di negara asalnya, mobil ini bisa berjalan sempurna karena jalanan benar-benar teratur. Diantaranya karena di sana jalanan dan sarana-sarananya dibangun dahulu baru kemudian pemukiman di kiri-kanannya mengikuti.

Dengan demikian kinerja navigasi akan lebih baik di sana. Jalan-jalan terpindai dengan nyaris sempurna. Sedangkan di Indonesia, masih sangat banyak jalanan yang belum terdeteksi dalam peta digital atau bahkan sebaliknya, ada jalan-jalan gaib yang ditunjukkan dalam peta tapi tidak terlihat oleh mata. Belum lagi jalan yang tiba-tiba berubah jadi panggung dangdut.

Pemindai marka jalan juga mengalami nasib serupa. Karena masih banyak jalan seperti di Omah Diksi tadi yang tidak memiliki marka jalan. Terkadang marka jalan juga dibikin tanpa ukuran lebar yang jelas. Tiba-tiba saja ada menjelang perayaan 17 Agustus.

Baca Dulu: Emak-Emak Naik Motor dan Filosofinya

Masalah terbesar justru menerpa sensor-sensor yang memindai keadaan sekitar mobil. Mobil tanpa pengemudi milik Mercedes misalnya, akan otomatis berhenti ketika sistemnya memindai ada orang berdiri dipinggir jalan yang berpotensi menyeberang. Padahal di Indonesia orang berdiri di pinggir jalan untuk berbagai kemungkinan. Mulai mengamen, jaga parkir, nongkrong, atau antri beli nasi goreng. Dari UB ke Omah Diksi saja, berapa kali Mercedes itu perlu berhenti di sepanjang Jalan Sigura-gura, apalagi kalau malam.

Juga masih belum jelas bagaimana respon sensor-sensor itu terhadap pengemudi sepeda motor. Mobil tanpa pengemudi ini berjalan dengan kecepatan yang sama dalam lajur yang tetap. Begitu dalam jarak beberapa meter dipindai ada kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan yang lebih lambat, sistem akan mencari kemungkinan untuk mendahului atau mengurangi kecepatan. Sedangkan, sepeda motor seringkali datang dari segala penjuru dan tiba-tiba ada di depan.

Di Indonesia, dongeng itu tampaknya masih akan menjadi dongeng. Mobil tanpa pengemudi yang selama beberapa dekade memenuhi fantasi kita tentang masa depan, hanya selangkah lagi menjadi kenyataan. Jika kenyataan itu menandakan bahwa umat manusia telah hidup di masa depan, maka kita masih terbelakang. Bagaimana tidak, keteraturan dari segi insfrastruktur lalu-lintas, regulasi, dan perilaku pengguna jalan belum memadai. Makannya, kerja…kerja…kerja… Dan jangan lupa Revolusi Mental!

Komik Gibran Self Driving
Mikail Gibran
Perokok aktif. Pernah jadi pegiat persma.