Josep Maria Bartomeu dan 5 Kesalahannya Saat Jadi Presiden FC Barcelona

Josep Maria Bartomeu dan 5 Kesalahannya Saat Jadi Presiden FC Barcelona

Barcelona, Josep Maria Bartomeu,

Bagaimana mungkin seorang presiden klub yang bertingkah seperti seorang amatir mengelola salah satu klub olahraga terbesar di dunia?

Pendukung Barcelona tidak perlu merengut. Sekalipun minggu lalu kalah dalam El Clasico, permainan Barcelona tidak begitu buruk, La Liga baru dimulai, dan kalah di pekan awal bukan pertanda kehancuran. Lagipula, minggu ini ada kabar baik. Selain berhasil mempercundangi Juventus, Blaugrana akhirnya “terbebas” dari rezim Josep Maria Bartomeu yang sudah berkuasa hampir tujuh tahun.

Tentu ini kabar baik bagi para pendukung. Sejak beberapa musim belakangan banyak pihak mengeluhkan kekacauan manajemen Barcelona. Bartomeu kerap menjadi sasaran kritik, dan yang paling krusial ialah mosi tidak percaya terhadap kepemimpinannya. Petisi untuk menuntut perbaikan menajemen klub dan memaksa Bartomeu mundur pun semakin bertambah pendukungnya.

Rezim Bartomeu memang membawa Barcelona menyandang empat gelar liga Spanyol dan satu trofi Liga Champions. Namun trofi adalah trofi, bukan jaminan keadaan baik-baik saja. Performa Barca di La Liga dan Liga Champions selama rezim Bartomeu membuktikan hal tersebut.

Musim lalu, Barcelona harus menyerahkan gelar La Liga ke tangan Real Madrid. Sementara, dalam tiga musim terakhir, Barcelona tersingkir dari Liga Champions secara mengenaskan. Ingatan yang paling melekat adalah kekalahan 8-2 dari Bayern Munchen di semifinal Liga Champions musim lalu. Saking memalukan, bisa saja skor ini terus terniang hingga tujuh tahun ke depan, waktu usia kemerdekaan Indonesia sudah selevel dengan skor akhir tersebut.

Sudah tidak ada alasan mengherankan Bartomeu yang sering jadi sasaran kritik. Sebagian pihak bahkan sulit mengampuni kelakuannya. Ada saja kesalahan dari setiap keputusan strategis yang ia ambil.  Bahkan tidak cuma satu, kesalahan Bartomeu ketika jadi presiden FC Barcelona sampai lima.

1. Kebijakan Transfer yang Amburadul

Barca memperoleh 222 Juta Euro dari transfer Neymar ke PSG. Mereka menggunakan uang sebanyak itu untuk membeli beberapa pemain dengan nama besar, sayangnya gagal menemukan pengganti Neymar. Ousmane Dembele dibeli seharga 130 juta malah lebih akrab dengan cedera. Antoine Griezman yang datang pada 2019 dengan harga 120 juta Euro, performanya belum memuaskan.

Ada lagi yang lebih komikal, Philippe Coutinho. Dibeli seharga 145 juta Euro, lalu dipakai dan saking mengecewakannya sampai-sampai dianggap “tak layak dihargai mahal”. Lantas, musim lalu Bartomeu meminjamkannya ke Bayern Munchen. Di Bayern Munchen, performa Coutinho meroket dengan kontribusinya pada treble winners Bayern. Dan, semakin tragis lagi karena 2 dari 8 gol bersarang di gawang Barcelona pada pertandingan final Liga Champion musim lalu berasal dari Coutinho, pemain pinjaman Barca.

Amburadulnya kebijakan transfer Barca di bawah Bartomeu tidak hanya itu saja. Awal musim ini, Barca melepas pemain-pemain senior sekaliber Luis Suarez dan Ivan Rakitic dengan amat murah, yang jelas tidak setimpal dengan uang yang mereka keluarkan untuk memboyong mereka ke Camp Nou.

Dalam laporan transfermarkt, selama tujuh tahun Bartomeu menjabat presiden, Barcelona merugi sebanyak 452,3 juta Euro hanya dari transfer pemain. Dengan rincian, hanya dua musim catatan transfer mereka positif, sementara lima sisanya minus.

2. Bartomeu Mengelola Klub Layaknya Seorang Amatir

Barcelona merupakan klub dengan pendapatan tertinggi di dunia dan yang pertama menembus pendapatan tahunan nyaris mencapai satu miliar Euro. Kini, valuasi mereka mencapai 4,2 Miliar Euro, hanya kalah dari Real Madrid di peringkat pertama. Kendati demikian, pendapatan Barcelona nyaris sama besarnya dengan pengeluaran mereka. Untuk gaji pemain saja, mencapai setengah dari pendapatan tahunan mereka. Kebijakan transfer amburadul punya sumbangsih pada gelembung gaji pemain Barcelona.

Tidak cuma pendapatan dan pengeluaran. Mulut besar Bartomeu juga kerap jadi masalah. Ketika performa Barcelona di lapangan tidak stabil, alih-alih mengusahakan sesuatu untuk perbaikan, ia justru mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyinggung banyak pihak di Barcelona, termasuk pemain-pemain senior Barcelona.

Tabiat semacam ini tidak membantu Barcelona melewati krisis demi krisis yang mereka hadapi tiap musim. Malah, membuat mereka kian berpeluang semakin kacau. Bartomeu memang bukan orang yang tepat menjadi nahkoda kapal sebesar Barcelona. Bagaimana mungkin seorang presiden klub yang bertingkah seperti seorang amatir mengelola salah satu klub olahraga terbesar di dunia?

3. Berseteru dengan Lionel Messi

Selain kekalahan memalukan dari Bayern Munchen musim lalu, ingatan paling kentara mengenai Barcelona di bawah kepemimpinan Bartomeu adalah pertikaiannya dengan Lionel Messi. Fans Barca tentu masih ingat, bagaimana gonjang-ganjing yang terjadi di internal Barcelona, ketika Messi dan rezim Bartomeu saling bertukar kritik.

Puncak perseteruan keduanya terjadi ketika Messi berniat meninggalkan Barcelona akhir musim lalu. Ini adalah bencana di tengah bencana, mengingat niatan itu muncul ketika konflik Messi dan Bartomeu setelah pemecatan pelatih Ernesto Valverde belum mereda. Syukur, pemain yang meraih enam gelar Ballon D’Or tersebut mengurungkan niatnya untuk menanggalkan seragam Barcelona.

Bartomeu jelas keliru memilih musuh jika ia berseteru dengan Messi. Pasalnya, Messi adalah wajah dari klub, Katalan, juga dunia sepakbola. Jejak-jejak kejayaan Barcelona selama dekade terakhir sebagian disumbangkan oleh pemain asal Argentina tersebut. Selain itu, Messi merupakan anak kandung filosofi sepakbola Barcelona, dan disebut-sebut sebagai murid terbaik La Masia.

Messi menganggap Bartomeu mengelola klub dengan cara semrawut. Apalagi, Bartomeu juga berperan besar dalam kepergian Neymar dan Luis Suarez, dua konco kntl Messi. Setelah kepergian Suarez, Messi nggrundel di akun instagramnya bahwa kejadian-kejadian belakangan tidak lagi membuatnya terkejut.

4. Kesalahan Bartomeu adalah Mengabaikan Tradisi Barcelona

Johan Cruyyf yang agung memugar La Masia dan membuat akademi tersebut punya peran vital dalam pengembangan klub. Messi, pemain terbaik mereka sepanjang sejarah, adalah lulusan La Masia. Nama-nama besar seperti Carles Puyol, Victor Valdes, Xaci Hernandez, Andres Iniesta, hingga Gerrard Pique juga merupakan hasil didikan La Masia.

Mereka adalah generasi emas Barcelona dan disebut-sebut sebagai generasi terbaik yang pernah mereka miliki. Alumnus La Masia yang telah matang di level senior dan dilatih Pep Guardiola, yang juga alumni La Masia, mendominasi sepakbola Eropa dan Dunia selama beberapa tahun.

Bartomeu mengabaikan pentingnya La Masia dan lebih memilih membeli pemain-pemain jadi. Tradisi yang dibangun sejak era Cruyff tidak lagi dianggap penting. Padahal, Cruyff membuat La Masia sebagai pondasi tim senior Barcelona. La Masia merupakan bukti sahih filosofi sepakbola Cruyff yang menjelma jadi karakter Barcelona di semua jenjang usia: penguasaan bola dominan dan memaksimalkan pemanfaatan ruang.

Tujuh tahun rezim Bartomeu berkuasa, melihat permainan ciamik dengan penguasaan bola dominan lewat operan-operan pendek cepat adalah hal yang sulit. Filosofi ala Cruyff terabaikan. Tak ada tiki-taka ala Barcelona hari ini.

Memang tidak ada yang keliru dengan keinginan mengubah tradisi, tapi mengabaikan dan mengingkarinya adalah hal yang berbeda. Cruyff pun pernah melakukannya dengan mempercayai pemain-pemain akademi, dan merevitalisasi peran akademi bagi sebuah klub sepakbola. Tetapi Bartomeu, sekali lagi, adalah seorang amatir. Banyak fans Barcelona menganggap di otak Bartomeu hanya ada uang, uang, dan uang.

5. Buzzer dan Skandal Barca Gate – I3 Ventures

Empat kesalahan Bartomeu di atas tidak ada apa-apanya ketimbang kesalahan ini: menyewa buzzer demi reputasi da dukungan pada pemilihan presiden klub, sekaligus merundung pemain dan mantan pemain Barcelona, timnya sendiri. Lebih celaka lagi ialah fakta bahwa Bartomeu melakukannya dengan menggunakan duit Barcelona!

Awal februari lalu, stasiun radio besar di Spanyol Cadena SER melaporkan bahwa Barcelona membayar agensi I3 Ventures untuk melakukan pencitraan. Cuan sebanyak 900.000 Euro atau sekitar 15 miliar rupiah keluar dari kantong klub untuk membiayai pencitraan Bartomeu melalui akun-akun media sosial dan website.

Barcelona, Bartomeu, dan I3 Ventures telah menyatakan laporan tersebut mengada-ada. Tetapi krisis yang terjadi dalam tubuh Barcelona tidak lagi bisa disembunyikan. Media-media mengendus konflik internal terjadi tidak hanya beberapa bulan belakangan. Sejak musim-musim sebelumnya, konflik internal Barcelona mengemuka akibat salah kelola rezim Bartomeu dan Pandemi Covid-19 membuatnya makin kentara.


Lima kesalahan Bartomeu di atas sulit diampuni oleh pendukung Barcelona, tetapi dirayakan oleh Real Madrid, seteru abadinya. Rivalitas kedua pendukung klub terbesar di dunia tersebut dirayakan dengan saling olok. Dan kali ini, Bartomeu berperan sebagai badut.

Penulis
Rifky Pramadani

Rifky Pramadani

Masih mahasiswa. Kadang-kadang ikut diskusi di Center for Critical Society on Media (Calism). Tertarik mengkaji ruang hidup, dan media.
Opini Terkait
Fabio Quartarao adalah Billie Eilish-nya MotoGP
opini majalah bola min min optimized
Opini Jojo Selebrasi Buka Baju Asian Games min
Opini Suporter Sepakbola min
Opini kiper rusia min
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp