Sediksi di Mata Saya

Sediksi di Mata Saya

Sediksi

Pikiran kok mau diatur-atur?

Ide tulisan ini berasal dari mata istri saya. Suatu ketika ia berkata, sembari membuka dan membaca-baca portal ini, “Jadi sediksi(dot)com ini mau dibawa ke mana sih arah kontennya? Mau ngepop, tapi kok ya ada tulisan yang menurut gue serius banget. Ada yang bikin senyum-senyum, tapi ada juga bikin mikir banget sampe pake footnote segala.” 

Sebenarnya bukan saya yang pantas menanggapi keheranan istri saya itu. Akan lebih pas jika tim redaksi sediksi sendiri yang menanggapi. Tapi rasanya akan konyol jika pada hari itu juga saya langsung menelpon tim redaksi dan bertanya, “Eh Cuk, bojoku takon, sediksi arep digowo nang ndi seh? Jawab, Cuk! Jawab! Jawab!”

Maka sebisa mungkin saya menjawab pertanyaan istri saya, dari sudut pandang saya tentunya dan tanpa pretensi mewakili tim redaksi sediksi. “Sediksi itu kayak warung kopi. Semua jenis orang bisa mampir ke situ dan ikut berdiskusi. Dari yang (terpaksa) menyukai rokok Alami yang murah sampai rokok A Mild yang mahal. Dari yang suka musik deathmetal sampai musik qasidah. Dari yang suka film macam Godfather sampai film traumatis macam A Serbian Film. Tapi tetap dimoderasi lho ya.

Tanpa ambil waktu lama, istri saya menyambar lagi, “Iya. Maksud gue moderasinya itu apa nggak ada standarnya? Kok kayaknya semua tulisan diterima dan dimuat. Lihat yang ini nih”, sambungnya sambil memperlihatkan salah satu tulisan dari seorang kontributor yang kenal, “Udah kayak makalah aja. Hampir nggak ada santai-santainya. Katanya portal opini santai? Kok malah kayak ngegas.”

“Eh kata siapa semua tulisan diterima? Tulisan gue pernah ditolak ya. Dikatain ‘nggak jelas’ sama si (sensor, nggak enak sama suaminya). Bahkan tulisan si (sensor juga) juga pernah nggak dimuat, padahal dia bagian dari tim redaksi sendiri”, sambar saya lagi dengan sedikit emosi karena mengenang sakit hati karena tulisan saya pernah ditolak.

“Okelah kalo gitu. Ada yang ditolak. Tapi ukurannya apa? Disebutin secara terperinci nggak kenapa tulisan si A ditolak, tulisan si B diterima atau tulisan si C perlu sedikit direvisi? Dari segi apa nolak dan nerimanya? Temakah? Topikkah? Teknis dan gaya tulisankah?”

Saya kicep. Nyaris kehabisan kata-kata untuk menjawab. “Wah kalau itu sih ranahnya dapur sediksi. Nggak tahu dah. Kalau tulisan gue ditolak ya sudah. Nulis yang lain”, jawab saya diplomatis sebelum perdebatan memanas dan mempengaruhi kehidupan rumah tangga saya. 

Sejujurnya, saya tak pernah bagus menulis non-fiksi. Saya akui itu. Jikalau pun seumpama misalnya tulisan saya diterima dan dimuat, saya pikir itu lebih dikarenakan ide yang bawa saja. Bukan karena tulisan saya enak dibaca dan perlu. Bukan. Teknis dan cara saya menyusun argumen demi argumen buruk.

Susunan ide paragraf saya melompat-lompat (bisa dilihat di bawah nanti). Sedari dulu, portal ini saya harapkan bisa jadi ajang untuk saya pribadi berlatih menulis non-fiksi dan berdiskusi saja. Namanya berlatih, ya nggak dibayar nggak apa-apa. Malah saya yang seharusnya bayar. Sekali lagi, saya tidak bagus menulis, apalagi sampai ke taraf ahli.

Saya selalu menolak disebut (apalagi menyebut diri saya sendiri) sebagai penulis. Ya namanya juga masih berlatih, sebutan itu belum pantas untuk saya. Okelah saya sering menulis, tapi tetap saya menolak sebutan sebagai penulis. Apakah hanya karena saya sering memotret, lantas saya bisa disebut sebagai fotografer? Selama ini, dalam hal menulis, saya lebih mengandalkan cara bercerita yang biasa saya bawa di tulisan fiksi, dengan jokes yang garing ala bapak-bapak dan gaya obrolan di warung kopi.

Ah mengenai warung kopi (nah kan!), saya ingat beberapa tahun lalu ketika tim sediksi masih punya badan usaha mandiri berupa warung kopi dengan nama ‘Omah Diksi’, setelah sebelumnya gagal berbisnis kaos karena alatnya rusak. Saat itu saya lumayan sering setor tulisan ke tim redaksi dan kontribusi saya dihargai secangkir kopi (sebelum-sebelumnya dihargai kaos yang tak laku).

Sehabis setor tulisan dan tulisan saya dimuat, biasanya saya akan bertandang ke Omah Diksi untuk mengambil jatah kopi saya, sembari ngobrol-ngobrol ringan sampai serius di sana atau sambil bermain dengan kucing-kucing liar yang jinak.

Omah Diksi ketika itu masih di dekat kuburan (sungguh tempat yang bagus untuk merenungi falsafah kehidupan). Belum ada jam malam ketika itu. Obrolan bisa ngalur ngidul hingga subuh menjelang. Tengah malam saat warung kopi sudah sepi, biasanya pramusaji (ceileh!) Omah Diksi urun mengobrol juga. 

Suatu malam, salah satu dari mereka (sebut saja Erza) menawarkan kepada saya, “Ham, kamu nggak mau ikut lomba?” katanya dalam bahasa Jawa.    

“Lomba apaan?” balas saya balik bertanya.

“HUT Sediksi. Temanya nyinyirin Sediksi. Tulis di blog”, jawab Erza.

“Males ah!” timpal saya singkat.

“Cuk!” umpatnya. “Kenapa? Biar rame dan banyak,” tanyanya lagi, masih dalam bahasa Jawa.

“Males aku kalo temanya sudah ditentuin gitu. Nggak bebas rasanya”, jawab saya dengan bahasa Jawa bercampur sedikit logat Madura, tapi lebih sering disangka aksen Padang. Ya, bagi saya menulis adalah cara saya mengungkapkan isi pikiran saya.

Pikiran kok mau diatur-atur? Portal ini bagi saya adalah tempat bagi saya untuk mengungkapkan isi pikiran saya tanpa harus diatur-atur ide apa yang harus dikeluarkan. Soal teknis tulisan yang diatur, itu hal lain. Itulah yang saya suka. Perkara ide saya disukai pembaca atau tidak, ya sudah biarkan saja. Resiko di ruang publik ya begitu. “Aku males juga bikin blog”, sambung saya menjawab lagi.

“Halah, bikin blog kan gampang! Tak bikinin deh”, tawar Erza lagi.

“Ya kenapa harus di blog? Demi SEO? Demi trafik?”

“Ya iyalah”, sambar Erza dengan tawa.

Amat sangat wajar jika tim redaksi memakai strategi itu untuk memperluas jangkauan pembaca sediksi(dot)com. Saya memakluminya, tapi sejujurnya saya tidak menyukainya. Saya takut sediksi(dot)com tercinta ini (jilat terus!!!) ini jadi pelacur trafik yang mau melakukan cara apa pun demi meningkatkan pengunjung websitenya, salah satunya dengan memuat konten-konten clickbait yang sebenarnya cuma berisi sampah.

Saya takut portal ini kehilangan jati dirinya yang sejati. Yah walaupun sebenarnya masih bisa diperdebatkan lagi, bagaimana dan apa jati diri sebenarnya sediksi(dot)com. Mungkin kita perlu jawaban dari The Founding Father, The Initiator, and The First Writer of the Portal Sediksi(dot)com, Fadhrin Fadlan Bya.

“Gini lho, Za”, sambung saya lagi, sembari membenarkan posisi duduk saya di bangku kayu Omah Diksi yang kekecilan, bermaksud untuk memperjelas penolakan saya atas tawarannya, “Kalau cuma mau nyinyiri atau roasting Sediksi, ngga usahlah aku tulis. Sekarang juga aku bisa.”

“Coba gimana?” tantang Erza.

“Aku lihat akhir-akhir ini Sediksi jarang update. Tulisannya sudah jarang ada yang baru. Mungkin perlu portal ini perlu ditambahi tagline dibawah tulisan SEDIKSI: SEDIKIT SEKALI.”

Erza tertawa.

“Lagi?” tanya saya menawarkan.

“Coba lagi sini!”

“Suatu saat, mungkin aku akan sakit hati pada salah satu anggota tim Sediksi, seperti kasusnya si anu itu. Lalu aku akan memusuhi orang-orang di sini, jarang nongkrong lagi di sini dan lebih memilih nongkrong di tempat lain. Lalu akan ku bikin website tandingan sediksi(dot)com, namanya KONTRADIKSI(dot)ID.”

Erza tertawa lagi. “Garing! Kurang lucu, Cuk!” katanya. Sungguh kontradiktif sekali dengan tawanya. “Weslah! Tulis ajalah! Ikut lomba itu.”

“Sudah aku bilang, aku males ikut lomba yang temanya ditentuin, meski hadiahnya gede”, jawab saya tegas.

Lalu kenapa di HUT Sediksi tahun ini saya ikut lomba menulis opini? Sederhana saja. Kebutuhan rumah tangga. Istri saya mendesak. “Ikut gih! Lumayan hadiahnya buat bayar tagihan listrik, air, cicilan dan perawatan muka gue.”

“Tapi…”

“Nggak ada tapi-tapian. Kalau nggak ikut, nggak ada uang rokok buat lu selama 2 minggu. Titik!”

Maka mendaftarlah saya. Menulis soal ‘Quarter Life Crissis’ atau apalah itu. Sebenarnya tulisan ini bisa saja masuk ke tema itu. Kehidupan seorang suami yang tak berdaya memenuhi tuntutan rumah tangga (baca istri) dan meninggalkan segala sikap yang ada selama ia masih bujangan. Tapi saya malas.

Biarkan saja tulisan ini saya khususkan untuk mengenang portal ini dengan cara saya sendiri, tanpa mengharap hadiah atau imbalan apa-apa. Ikhlas! Toh selama ini saya diupah kopi saja mau kok, bahkan pernah jatah kopi saya nggak saya ambil, Akhir kata, selamat ulang tahun portal opini santai Sediksi(dot)com. Mohon jangan menjadi pelacur trafik! Salam!

Penulis

Ilham Vahlevi

Penikmat Masa Muda
Opini Terkait
peringatan hari dongeng
Ilustrasi Peringkat Media Online di Malang
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp