Surat Terbuka Kepada Tim Kisah Tanah Jawa

Surat Terbuka Kepada Tim Kisah Tanah Jawa

Kisah Tanah Jawa di Madura

Ada pulau Madura yang tampil di animasi intro Kisah Tanah Jawa, tapi memangnya kapan mereka pernah kesana?

Salam hormat.

Yang terhormat tim Kisah Tanah Jawa. Perkenalkan, saya Ilham Vahlevi. Di kawasan Tapal Kuda, saya biasa dipanggil Tumang oleh kawan-kawan. Nama panggilan itu yang saya gunakan sebagai nama akun Twitter saya. Jika berkenan, mohon follow akun @toemang, sukur-sukur kalau dipromosikan. Saya tahu akun saya kecil. Umur akun saya sudah 8 tahun, tapi follower tidak pernah lebih dari 300 biji. Kalah dengan akun-akun buzzer yang pernah saya ternak dulu, meski hanya berumur hitungan bulan.

Sudah lama saya follow akun Twitter tim Kisah Tanah Jawa (selanjutnya saya sebut KTJ). Saya mulai follow KTJ sejak masih membujang di Malang, hingga sampai status di Kartu Keluarga baru saya kini berubah jadi Kepala Keluarga. Meski sudah lama follow, saya tak mau mengklaim diri sebagai penonton atau pembaca setia KTJ. Tidak. Sebab saya jarang buka Youtube. Sedangkan di Twitter, seringkali utas-utas akun KTJ tenggelam oleh kemunculan twit lain yang super cepat. Saya menyukai hampir semua konten-konten KTJ di media sosial, meski sejujurnya, jarang menyumbang like di Youtube atau Twitter.  

Menurut saya pribadi, KTJ telah mengubah dunia gaib. Maksud saya, menciptakan trend baru dalam dunia gaib. Jika kebanyakan dunia gaib melulu menakutkan, berisi hal-hal seram penyebab hilang nafsu makan, KTJ saya lihat berbeda. KTJ menampilkan konten-konten dunia gaib dengan cara yang bersahaja dan elegan.  Meski demikian, saya merasa, konten gaib KTJ tetap memiliki sisi seram yang anehnya, terasa edukatif tanpa tendensi menggurui. Saya jadi berpikir, alam gaib ala KTJ harus dimasukkan sebagai matakuliah dasar wajib di pendidikan. Andai saya mas Menteri.. 

Satu lagi apresiasi, saya merasa konten KTJ lebih naratif nan sastrawi. Ini tentu nilai KTJ dibanding produsen konten (content creator) lain yang mengambil tema serupa. Membaca utas-utas twitter KTJ, selayaknya membaca cerita pendek yang ditulis sastrawan. Tapi bukan berarti saya menganggap cerita-cerita yang ditulis KTJ itu fiktif. Tidak. Jika diibaratkan, cerita-cerita hasil investigasi itu adalah jurnalisme sastrawi dalam ranah konten dunia gaib. Ketika banyak video-video yang membahas dunia gaib hanya berkutat pada sensasi penampakan tak jelas (rekamnya pakai HP buluk sih) dan berusaha menakut-nakuti saja, tim KTJ berani beda dengan menampilkan cerita yang mendalam dan menampakkan sisi ‘manusiawi’ mahluk-mahluk tak kasat mata. Sering saya merasa kasihan pada demit layaknya ketemu pengemis di pinggir jalan, sesaat setelah menikmati konten KTJ.

Cukup sekian pujiannya. Langsung saja saya sampaikan dua hal yang menjadi uneg-uneg saya selama mengikuti konten-konten KTJ. Bukan masukan dari sisi konten gaib atau supranatural. Saya buta soal dunia gaib. Adik saya di Madiun, Catur, lebih tahu soal hal-hal gaib dibanding saya. Dia adalah penasihat spiritual pribadi saya yang mau diupah dengan seekor ayam bakar utuh, hanya untuk membantu memasang pagar gaib warung orang tua saya. Dia bahkan ikut balap liar dengan bantuan dorongan‘teman-teman’nya (motornya diguyur air kembang). 

Baiklah, Mas-mas tim KTJ dan Om Hao, cukup sudah basa-basinya. Dua hal saja, Mas-mas dan Om. Tak usah banyak-banyak. Apa itu? Pertama, intro konten video KTJ. Kedua, buku yang pernah ditulis dan diterbitkan KTJ.

Baca Juga: Main-Main ke Gili Raja

Intro di Konten Video Kisah Tanah Jawa

Jadi begini Mas-mas sekalian dan Om Hao. Pada semua intro video KTJ, seringkali tampil animasi pulau Jawa yang merepresentasikan nama channel sekaligus wilayah kerja petualangan investigasi tim KTJ. Tapi intro tersebut tidak hanya Jawa, juga ada pulau Madura juga yang tampil di animasi itu.

Pertanyaan saya sederhana saja, kapan tim KTJ ke Madura? Atau jangan-jangan sudah pernah ke Madura, rekaman tapi tidak ditampilkan karena suatu sebab? Jangan-jangan tim KTJ sudah pernah nyebrang Suramadu, singgah di Bebek Sinjay lalu kembali ke Surabaya karena Madura dirasa terlalu panas sampai-sampai kemampuan gaib Om Hao menguap bersama terik matahari? Atau ada sebab lain? Katakan, Mas-mas dan Om Hao. Katakan! Katakan!

Kalaulah tim KTJ memang tidak pernah ke Madura dan juga tidak pernah mempertimbangkan untuk mengulik konten gaib di Madura, ya tidak apa-apa. Tapi ijinkanlah saya, yang pernah melewati kisah pahit kasih SMA di Madura ini, memberi pertimbangan. Bukan dari sisi gaibnya, melainkan sisi potensi cerita sejarahnya.

Aih, saya ingat sekarang kalau sebenarnya saya masih buta soal sejarah Madura. Pengetahuan saya soal itu hanya dari buku sejarah masa sekolah yang terlalu banyak membahas dinamika politik di Pulau Jawa. Yang saya ingat hanya soal Trunojoyo dan kaitannya dengan kerajaan Mataram Selain itu, saya hanya ingat-ingat lupa soal Babad Tanah Madura yang menceritakan petualangan Jokotole dan Potre Koneng yang menyinggung juga soal Gadjah Mada serta Majapahit. Sedangkan buku soal Madura yang saya baca akhir-akhir ini hanyalah buku yang ditulis oleh Kuntowijoyo. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa merekomendasikan konten dari sisi cerita.

Bagaimana kalau dari sisi potensi penonton? Tertarik? Tapi ada syaratnya lho Mas-mas tim KTJ dan Om Hao. Syaratnya, tim KTJ harus kolaborasi dengan content creator asli Madura. Tretan Muslim? Bukan. Sudah biasa kalau itu. Lagi pula, Tretan Muslim juga sudah punya konten dunia gaib sendiri. Yang saya sarankan adalah Sahudi, seorang DJ dengan bakat nge-rap yang mungkin diasah karena sering melihat orang Madura jual obat, MC, pelawak dan bakat-bakat lainnya yang belum terungkap.

Kalau mas-mas tim KTJ dan Om Hao tak percaya, sila tengok, cari nama ‘Sahudi’ di youtube. Total viewersnya sudah melewati angka tiga, JUTA. Mohon pertimbangkan masukan saya ini, Mas dan Om. Tolong. Perkara DJ Sahudi punya bakat gaib atau tidak, saya tidak tahu. Saya tidak urus. Tapi yang jelas, KTJ feat Sahudi adalah konten video yang jelas sangat dinantikan oleh saya.

Baca Juga: Bram Stoker’s Dracula dan Setan-Setan Indonesia

Buku Kisah Tanah Jawa

Mas-mas tim KTJ dan Om Hao, ketika dulu KTJ mengumumkan akan menerbitkan buku, saya senang sekali. Saya tunggu buku itu terbit dan kesampaian juga saya menyentuh buku pertama KTJ di acara bazar buku Patjar Merah di Malang beberapa waktu lalu. Saat itu saya hanya menyentuh saja. Tidak membeli. Karena keuangan saya masih agak seret waktu itu. Bukunya agak mahal menurut saya.

Saya baru beli saat saya sudah di Jakarta beberapa bulan kemudian, ketika keuangan saya agak membaik meski saya membelinya dengan potongan harga. Sehabis dari toko buku, langsung saya baca habis isinya dalam waktu kurang dari dua jam.

Serius. Kurang dari DUA jam. Tidak bermaksud berbangga hati dengaan kecepatan membaca saya. Bukan saya skip-skip juga seperti baca buku diktat perkuliahan yang membosankan itu. Sekilat waktu tersebut karena memang bukunya terlalu tipis, ukuran font terlalu besar dan spasi terlalu lebar. Bagi saya, ini menyeramkan. Meski demikian, setidaknya, saya sangat mengapresiasi gambar-gambar yang ada di dalam buku.

Tapi kembali lagi, saya kesal. Sebagai penikmat teks, saya merasa bukunya agak kopong. Seperti makan onde-onde sebesar kepalan tangan tapi kacang hijaunya seukuran kelereng. Konten tulisan pada buku itu menurut saya akan lebih pas jika ditampilan di internet saja. Di website mungkin. Barangkali tim KTJ bisa mempertimbangkan untuk membuat website dengan memasang iklan atau membuat konten berbayar seperti di karyakarsa misalnya.

Tapi lagi-lagi, setelah saya renungkan, buku tipis ini bagi saya kok tetap menyeramkan ya. Harganya cukup mahal di pasaran, isinya penuh spase kosong. Saya kemudian berusaha mengambil hikmah, apakah memang di sela-sela spasi lebar itu ada hal gaib yang memang ditujukan untuk anak indiehome? Jika memang iya, saya bukan segmen pembaca buku ini. Tapi, saya tetap pengen baca Om Hao.

Tapi semua kembali pada kebijaksanaan tim KTJ. Saya hanya memberi masukan saja sebagai penonton dan penikmat, bukan sebagai ahli. Demikianlah surat terbuka ini saya sampaikan kepada tim KTJ. Kurang lebihnya tak usah diambil hati. Biasa saja. Tak usah diseriusi.

Salam.

NB: Kalau tim KTJ butuh tambahan orang untuk memperkuat tim KTJ, saya merekomendasikan adik saya, Catur. Setidaknya dia bisa membuat pagar gaib di sekeliling lokasi investigasi.

Penulis

Ilham Vahlevi

Penikmat Masa Muda
Opini Terkait
Bangkitnya PKI dan Kemunafikan Kita
Jika Saya menjadi Seorang Pustakawan
Menengok Sejarah Toilet
The Seven Good Years: Bapak Jenaka ala Etgar Keret
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp