Tips Jadi Bapak yang Jenaka ala Etgar Keret

Tips Jadi Bapak yang Jenaka ala Etgar Keret

The Seven Good Years: Bapak Jenaka ala Etgar Keret

Alih-alih melompat dari kotak kelaziman, saya kira Keret justru membuat kotaknya sendiri. Menulis sesuatu yang personal tentu tidak memiliki syarat untuk mengikuti kelaziman toh.

Makin bertambah usia, makin banyak pula yang berubah dalam hidup manusia. Masa-masa itu ditandai hal-hal yang bermuara pada bertambahnya tanggung jawab. Bentuknya beragam. Mencari pekerjaan yang enak dengan upah layak, misal. Juga tanggung jawab lain seperti menaruh perhatian lebih pada keluarga. Setidaknya itu yang saya lihat sedang terjadi pada teman-teman saya.

Sebagian teman-teman saya sudah menikah. Sebagian yang lain di fase merawat anak. Sisanya modelan seperti saya, yang, ya begitulah. Di antara mereka yang sedang menjalani tahun-tahun baik dengan kehadiran seorang buah hati, seringkali berbagi kisahnya di media sosial. Sebagai orang yang juga berharap ada di fase menggemaskan itu, saya rajin mengintip kisah-kisah yang dibagikan oleh teman-teman saya.

Meski belum menikah, saya suka membayangkan masa depan saya nanti saat memiliki anak. Entah bagaimanalah kriteria bapak yang baik. Lebih mudah bagi saya untuk bercita-cita menjadi bapak yang jenaka seperti Etgar Keret. Imajinasi menjadi bapak yang jenaka ini muncul setelah saya membaca The Seven Good Years. Sebuah memoar yang ditulis oleh Etgar Keret selama tujuh tahun awal menjadi seorang bapak.

Baca Juga: 5 Novel Wajib Baca Sebelum Wisuda

Tujuh tahun itu ialah tahun-tahun yang baik bagi Keret. Dalam bukunya, Keret, tidak melulu bicara soal apa yang ia rasakan mengenai jadi seorang bapak. Memoar ini juga bicara soal pandangannya sebagai seorang penulis Israel mengenai identitas hingga perdamaian. Bagaimana seorang bapak melihat dunia yang menjadi tempat tinggal baru anaknya dikemas baik seperti dalam paragraf berikut.

“Enam jam kemudian, sosok cebol dengan kabel menggantung dari pusarnya muncul dari vagina istriku dan langsung menangis. Aku berusaha untuk menenangkannya, untuk meyakinkannya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahwa, ketika dia tumbuh, semua yang ada di Timur Tengah sini akan tenteram: kedamaian akan tiba, tidak akan ada lagi serangan teroris, dan meskipun mungkin tak akan pernah terjadi, akan datang seseorang dengan pemikiran orisinal, seseorang dengan visi kecil di sekitarnya, yang dapat menggambarkan segalanya dengan sempurna.”

Hal 5-6

Sebagai keturunan Yahudi, ia mengalami gejolak yang juga dirasakan orang sebangsanya. Namun demikian, sebagai seorang penulis, ia diharapkan punya “pandangan yang orisinal dan memiliki visi”, sebagaimana harapan seorang wartawan yang mewawancarainya di rumah sakit setelah sebuah serangan teror terjadi.

Israel bagaimana pun ialah bangsa yang amat berbeda dengan bangsa-bangsa di sekitarnya. Ia merupakan negara dengan mayoritas Yahudi di tengah-tengah bangsa Arab. Kegelisahan menjadi minoritas di sebuah wilayah yang rawan konflik. Negara itu terang saja menjadi sasaran empuk bagi bangsa Arab yang jengah atas pendudukan di Palestina. Soal ini, telah banyak diulas oleh pemerhati konflik dan perdamaian Timur Tengah, dan Keret rupanya enggan berbicara lebih jauh selain harapan akan hadirnya perdamaian.

The Seven Good Years adalah tulisan yang sangat personel. Pribadi Keret yang jenaka juga nampak dalam memoar-memoarnya yang ditulis penuh dengan kelakar getir. Alih-alih melompat dari kotak kelaziman, saya kira Keret justru membuat kotaknya sendiri. Menulis sesuatu yang personal tentu tidak memiliki syarat untuk mengikuti kelaziman toh.

Tentang Keluarga dan Anaknya

“Sesosok cebol dengan kabel menggantung di pusarnya yang keluar dari vagina istri anda” ia kutip dari seorang wartawan dari proses kelahiran seorang bayi. Ini sesuatu yang cukup ironis dalam sebuah percakapan dengan seorang wartawan. Keret tampaknya cukup terganggu dengan sikap tidak simpatik si wartawan yang salah mengira ia merupakan korban serangan teror. Padahal, di rumah sakit sedang menunggu persalinan istrinya.

Tulisan tentang anaknya, Lev, melengkapi perasaan personal seorang bapak dalam memoar Keret. Mengasuh bocah kecil mungkin menjadi hal menantang dalam hidup seseorang. Seorang bocah kerap menyampaikan pendapat atau pertanyaan yang tidak lazim, dan Keret menulis kisah-kisah ini dengan ciamik.

Dalam memoar berjudul Laki-laki Jangan Menangis, Lev penasaran mengapa ia tidak pernah menjumpai ayahnya menangis. Keret menjelaskan pada anaknya kalau sewaktu masih bocah, Keret pun sering menangis, hingga kemudian ia belajar untuk tidak menangisi hal-hal sedih.

Keret menyarankan tindakan selain menangis ketika kita sedang dilanda sedih. Salah satunya dengan menyanyi, tapi ia rupanya perlu menjaga wibawa seorang ayah di hadapan anaknya. Bukannya bernyanyi, Keret malah memukul seseorang di saat sedih. Sebaliknya sang anak, Lev, memukul orang justru ketika ia merasa senang.

Keduanya sedang menikmati stik keju ketika membicarakan hal itu, dan Keret menyarankan siapapun yang membuat mereka sedih atau senang berhati-hati. Sebab, mereka bisa saja menghajarnya.

Kisah Keret tentang keluarga dan anaknya, tidak hadir dalam ruang hampa. Kesan ceria hingga humor gelap atas situasi silih berganti hadir. Kekuatan memoar Keret ini terletak pada caranya menggambarkan sisi personal yang ia gunakan untuk menembak situasi. Percakapannya dengan wartawan mengenai bayi sebagai sesosok cebol dengan tali menggantung di pusarnya saya kira cukup mewakili humor gelap yang ingin ia tampilkan.

Saya tidak ingin membayangkan apa yang Lev rasakan jika suatu saat ia membaca buku ini. Ia mungkin cengengesan, atau bahkan gembira, dan menonjok ayahnya yang usil.

Baca Juga: Testimoni “Anak SD” untuk Edisi Terakhir Tabloid Bola

Saat Anak-anak Mulai Bercita-cita

Sewaktu masih bocah, saya punya banyak cita-cita yang sayangnya sulit untuk diwujudkan. Saya ingin menjadi pilot, dan cita-cita itu terpaksa diurungkan seketika mengetahui ketinggian membuat saya gemetar.

Keinginan untuk menjadi pemain sepak bola jelas mesti dikubur dalam-dalam. Sebab saya tidak berbakat, dan kata ibu, tubuh saya pendek dan kelewat kerempeng. Saya mengamini pendapat ibu tersebut sebelum kemudian di masa depan saya tahu ada seorang pesepak bole bernama Messi.

Beranjak dewasa, cita-cita saya makin aneh yakni menjadi komedian. Sayang, lelucon saya sulit membuat orang lain tertawa. Mendengar lelucon saya, seorang teman berkata, “rasanya seperti makan kerupuk rambak: garing dan membuat tenggorokan seret”. Beruntung kini banyak meme bertebaran. Dan berbagi meme cukup mewakili mimpi menjadi seorang komedian.

Dalam salah satu memoarnya dalam buku ini, Keret menulis soal kemungkinan anaknya menjadi seorang tentara. Ia berharap anaknya tidak menjadi tentara. Tapi soal itu ialah hal yang tidak bisa ia putuskan. Ia ingin Lev menentukan pilihannya sendiri.

Entah apa alasan Keret berberat hati jika anaknya nanti menjadi tentara. Saya pribadi bersyukur, menjadi polisi atau tentara tidak pernah ada dalam angan-angan. Sejak kecil saya gemar membaca, dan belakangan tahu kalau kegemaran membaca akan menghambat keinginan kita untuk menjadi tukang bedil.

Etgar Keret kira-kira adalah seorang ayah yang saya bayangkan saya akan menjadi. Cara-cara jenaka dalam mengasuh anak sudah ada dalam kepala ini. Salah satunya menjadikan anak sebagai bahan meme.

Penulis
Rifky Pramadani

Rifky Pramadani

Masih mahasiswa. Kadang-kadang ikut diskusi di Center for Critical Society on Media (Calism). Tertarik mengkaji ruang hidup, dan media.
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp