Paradoks Dangdut: Makin Ambyar, Makin Joget

Paradoks Dangdut: Makin Ambyar, Makin Joget

Paradoks Dangdut: Makin Ambyar, Makin Joget
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Lagu-lagu dangdut menyimpan paradoks: makin ambyar, makin joget. Tak peduli seberapa pedih dan perih syairnya, joget adalah jalan satu-satunya. Orang seolah-olah digoyangkan oleh kenikmatan rasa sakit pada lirik musik dangdut.

Mungkin tak berlebihan jika kita menyebut dangdut sebagai primadona musik Indonesia. Meski tak pernah benar-benar diakui sebagai genre populer di kalangan anak muda, dangdut selalu berhasil melintasi dekade demi dekade tanpa kehilangan peminat. Artinya, ini cuma soal waktu: yang muda lama-lama bakal dangdut juga.

Dalam konteks politik hari-hari ini, dangdut tak luntur sebagai senjata pamungkas kampanye politik. Misalnya, bagaimana tiap paslon capres-cawapres pada pemilu kemarin yang pasti punya satu atau dua lagu kampanye yang dibalut dengan genre dangdut.

Terminologi dangdut mulai akrab di masyarakat pada awal 1970-an. Juga setelah Rhoma Irama, si Raja Dangdut, menciptakan lagu sekaligus album berjudul “Dangdut” pada 1974.

Lagu itu bertutur tentang sebuah musik berirama Melayu, yang ditingkahi suling bambu dan gendang kulit lembu. Nah, “dangdut” adalah tiruan bunyi gendang, dang dan dut, yang bikin pinggul bergoyang.

Istilah itu kemudian menjadi penegas perbedaan antara dangdut dan orkes Melayu, yang merupakan genre musik cikal bakal dangdut dan berkembang pada era 1950an.

Secara musikal keduanya memang mirip. Namun, dari segi instrumentasinya, dangdut adalah turunan orkes Melayu yang lebih ramai, rampak, dan pepat. Tentu saja dengan irama dan bunyi gendang yang lebih medok.

Syair musik dangdut ala Rhoma juga tak hanya berhenti pada problem-problem umum yang biasa disiarkan oleh orkes Melayu.

Ia melangkah lebih jauh: menciptakan syair yang menjurus pada masalah-masalah yang spesifik dan tak kalah runyam.

Lagu “Mandul”, misalnya. Lagu yang ada di album Ke Monas (1974) itu bercerita tentang sepasang suami-istri yang bersedih karena belum dikaruniai anak, padahal sudah 10 tahun rumah tangga mereka bergulir. 

Buat sebagian orang, kehadiran momongan adalah puncak kebahagiaan. Bahtera rumah tangga yang berlayar tanpa kehadiran buah hati, bagi mereka yang mengidamkannya, bisa jadi merupakan sebuah perjalanan yang murung, kering, dan penuh nestapa.

Kata mandul sendiri menyimpan tragedi hidup dan harapan buntu, antara kepasrahan dan keputusasaan. Mandul adalah vonis yang tak main-main.

Orang yang ditimpa musibah ini cuma punya satu fakta di antara dua perkara: ini hanya mimpi buruk atau benar-benar kenyataan pahit.

Namun, di tangan Rhoma, kisah muram itu berubah menjadi ritual joget yang abadi. Sampai sekarang, lagu “Mandul” terus dinyanyikan oleh para pedangdut dari generasi yang lebih muda.

Tak jarang pula musiknya diaransemen ulang, temponya dibikin lebih cepat, gendangnya dibikin lebih pulen, dan vokalnya dibikin lebih dramatis. Semua itu bermuara pada satu hal: joget.

Musik Paradoks Orang Pinggiran

Sejak awal, musik dangdut adalah milik kaum pinggiran. Karier Rhoma mencapai puncaknya menjelang akhir 1970an. Saat itu, Rhoma telah merilis sedikitnya 9 album.

Rhoma dan Soneta Group adalah antitesis dari gelombang musik rock yang mekar di Indonesia sepanjang dekade yang sama.

Musik dan gaya hidup yang nge-rock lebih banyak digandrungi anak muda perkotaan berwatak keras, bergairah, berambut gondrong, dan eksentrik.

Para penggawa dan penggila dangdut saat itu juga berambut gondrong dan eksentrik. Jogetnya saja yang beda.

Tema lirik yang digarap dua aliran musik itu pun sebetulnya juga sama. Gaya ungkapnya saja yang beda. Misalnya, tema patah hati pada musik rock lazimnya akan berhenti pada fenomena putus cinta kelas menengah perkotaan.

Entah ditinggal pacar, ditikung teman sendiri, atau konflik batin karena kesengsem orang lain, yang biasanya juga ditulis dengan simbolisme-simbolisme romantik.

Rhoma dengan dangdutnya mengelaborasi tema semacam itu ke dalam kerangka problem yang lebih spesifik. Selain “Mandul”, coba dengar lagu “Baju Satu Kering di Badan” pada album Berbulan Madu (1974).

Lagu bertema patah hati itu bercerita tentang seseorang yang dilanda miskin akut sehingga merasa inferior dengan kekasihnya sendiri.

Apakah yang engkau harapkan / Dariku, orang yang tak punya? / Bagiku patutlah kiasan / Baju satu kering di badan

Liriknya klop dengan persoalan orang-orang melarat dan pra-sejahtera. Ia memikat bukan karena liriknya yang ultra-melankolis, melainkan karena terlampau jujur dan terang-terangan; nelangsa lagi ambyar.

Lagu “Gelandangan” dan “Pengangguran” punya kemalangan yang sama: miskin yang spesifik dan penuh detail.

Kesulitan itu kemudian dipadu dengan irama Melayu, desingan suling, dan tetabuhan gendang. Semuanya terdengar riang. Orang bisa saja berhenti menangis, tapi badannya belum tentu bisa berhenti berjoget.

Fitrah paradoks pada dangdut pun tidak pernah pudar. Lagu-lagu dangdut di masa kiwari justru menyimpan paradoks yang lebih brutal: makin ambyar, makin joget.

Tak peduli seberapa pedih dan perih syairnya, joget adalah jalan satu-satunya. Orang seolah-olah digoyangkan oleh kenikmatan rasa sakit pada lirik musik dangdut.

Dalam cakrawala kontemporer, mendiang Didi Kempot adalah contoh paling cemerlang. Lord Didi memang bukan berasal dari trah dangdut, melainkan campursari, musik turunan dari karawitan Jawa yang pertama kali diramu oleh Anto Sugiartono alias Manthous (1950-2012).

Campursari awal racikan Manthous menggunakan kendang karawitan Jawa dengan pola ritme yang masih tradisional.

Sedangkan campursari yang dibawa Didi menguatkan aspek perkusi tersebut dengan penggunaan gendang yang biasa dipakai musik dangdut, yang karakter bunyinya punya kedekatan dengan tabla dari India. Pola ritme tradisional pun diganti dengan pola ritme varian-varian dangdut. 

Dengan “menjogetkan” aspek perkusi ini, The Godfather of Broken Heart berhasil membawa campursari versinya ke tahap trans yang sempurna.

Ingatan orang yang mendengarkannya bisa langsung melayang ke sudut-sudut tergelap; menuju kenangan pahit nan traumatis; sampai akhirnya kembali ke kenyataan untuk kemudian menangis sekaligus berjoget sejadi-jadinya.

Dangdut adalah Katarsis

Dangdut bukanlah wahana eskapisme untuk kabur dari kenyataan. Sebab dangdut tidak menyiarkan jalan keluar potensial bagi problem ambyar yang dihadapi pendengarnya. Tidak juga mengalihkannya.

Namun, dangdut bisa sangat potensial menjadi semacam katarsis atas alienasi yang tengah dihadapi manusia. 

Sakitnya dangdut meneguhkan orang bahwa hidupnya memang sedang tidak baik-baik saja. Sisanya adalah pilihan: apa yang harus kita lakukan jika sudah hancur begini?

Kalau sebuah tembang dangdut berkisah tentang kemiskinan, kita seharusnya bisa menghindar untuk tidak terjengkang ke lubang yang sama.

Kalau kisahnya tentang patah hati, kita seharusnya bisa bangkit dari kemuraman abadi yang tak ada habis-habisnya.

Maka, para pelaku dan pendengar dangdut cuma punya satu jalan: bergerak untuk melanjutkan hidup dan memperbaiki keadaan.

Dangdut pada akhirnya justru merupakan alarm agar kita segera berbenah dan melawan—paling tidak—diri kita sendiri.

Editor: Ahmad Gatra Nusantara
Penulis

Muhammad Almer Sidqi

Kuli tinta. Tinggal di Jakarta.
Opini Terkait
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel