Dua Pendapat Soal Rekreasi Meningkatkan Produktivitas

Dua Pendapat Soal Rekreasi Meningkatkan Produktivitas

Sejumlah orang merasa perlu rekreasi untuk meningkatkan produktivitas kerja. Sebagian yang lain mengatakan rekreasi tak ada urusannya dengan pekerjaan.
Dua Pendapat Soal Rekreasi Meningkatkan Produktivtas Kerja
Image from Pixabay

Bagi sejumlah orang, waktu senggang ataupun rekreasi merupakan anugerah untuk sejenak mengisi ulang energi sebelum kembali bekerja. Mereka membayangkan produktivitas sebagai sesuatu yang mesti mereka capai dalam hidup, terutama untuk urusan studi, pekerjaan, dan selanjutnya untuk kehidupan. Tidak mengherankan jika mereka kemudian memanfaatkan rekreasi untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Di sisi sebaliknya, ada pula orang-orang tidak sepakat bahwa rekreasi adalah langkah untuk meningkatkan produktivitas kerja. Mereka berpendapat bahwa rekreasi adalah rekreasi. Urusan pekerjaan minggir dulu dan tak punya tempat untuk diperbincangkan dalam waktu senggang.

Umumnya, orang-orang membagi waktu dalam sehari menjadi tiga bagian, yakni: bekerja, bersenang-senang atau rekreasi, dan istirahat. Waktu senggang agaknya cocok belaka dianggap sebagai jatah untuk bersenang-senang. Ia bisa dilakukan saat seseorang terbebas dari tuntutan pekerjaan.

Mengacu pada Ensiklopedi Britannica, leisure atau rekreasi atau waktu senggang dapat dipahami sebagai “kebebasan yang tersedia dari berhentinya kegiatan yang dipaksakan, terutama waktu bebas dari pekerjaan atau tugas yang tidak menyenangkan”.

Meski demikian, mereka juga menilai bahwa orang-orang juga mengalami masalah untuk menyadari apakah mereka sedang senggang, sekalipun mereka mengalaminya. Persoalannya, bukan pada mana yang bisa disebut rekreasi atau mana yang bukan, tetapi soal pengertian rekreasi itu sendiri.

Dengan mengesampingkan pengertian rekreasi, selama bebas dari tuntutan kerja, pendapat umum menyebut aktivitas semacam menonton televisi, menonton konser, membaca buku dan seterusnya digolongkan sebagai rekreasi.

Tetapi, bagaimana seseorang memaknai rekreasi adalah lain soal. Di satu sisi, sejumlah orang merasa perlu memanfaatkan rekreasi demi meningkatkan produktivitas. Sebagian yang lain mengatakan rekreasi tak ada urusannya dengan pekerjaan.

2 Pendapat Soal Rekreasi Meningkatkan Produktivitas Kerja
Image from Pixabay

Rekreasi untuk Meningkatkan Kesehatan Mental, Produktivitas

Mereka yang ada di kelompok ini punya hasrat untuk menjadi produktif sebagai bagian dari kehidupan. Waktu senggang dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menunjang harapan mereka untuk meningkatkan produktivitas. Mereka berpikir bahwa stres yang dialami dapat teralihkan saat mereka bersenang-senang. Kira-kira ini agak senada dengan mengambil jeda sebelum melompat lebih tinggi.

Dalam penelitian berjudul Viewing leisure as wasteful undermines enjoyment itu, para responden dimintai pendapat soal bagaimana mereka menilai waktu senggang. Selain itu pendapat responden juga diukur untuk menentukan tingkat kebahagiaan, depresi, kecemasan, dan stres mereka.

Penelitian itu mengatakan mereka yang percaya bahwa rekreasi itu sia-sia punya peluang untuk menjadi lebih stres dan depresi. Sementara mereka yang memanfaatkannya berpeluang memperoleh keuntungan untuk kesehatan mental mereka dan bisa membuat mereka lebih produktif dan tingkat stresnya berkurang.

“Kita hidup di sebuah masyarakat global dan ada banyak orang di mana-mana mendengar pesan yang sama bahwa penting untuk menyibukkan diri dan menjadi produktif,” ujar Rebecca Reczek, salah satu peneliti dalam penelitian itu.

Ia melanjutkan, saat seseorang berpikir bahwa rekreasi itu sia-sia, “kesimpulan kami menyatakan mereka bakal menjadi lebih depresi dan kurang bahagia”.

man in red jacket and black pants holding white stick
Photo by Vitolda Klein

Rekreasi Adalah Rekreasi. Titik.

Kelompok ini memahami bahwa waktu senggang dan rekreasi mesti benar-benar terbebas dari pekerjaan. Selama masih terkait dengan pekerjaan, waktu senggang bukanlah upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja. Jika melulu terkait urusan pekerjaan, waktu senggang berada dalam posisi terancam.

Kendati mereka percaya bahwa waktu senggang itu bermanfaat, mereka menilai ada paradoks jika waktu senggang dikaitkan dengan pada tujuan meningkatkan produktivitas. Bagi mereka, waktu senggang itu bermanfaat sepanjang ia benar-benar waktu senggang. Hanya dengan itu, manusia akan menjadi manusia paripurna.

Ini adalah isyarat agar waktu senggang atau rekreasi dimaknai sebagai aktivitas untuk diri mereka sendiri. Rekreasi yang sebenar-benarnya rekreasi mestinya tidak terkontaminasi oleh aktivitas non-rekreasi lainnya. Dengan kata lain, kita mesti mengupayakan agar makna rekreasi tidak terbatas pada cara-cara menjadi produktif.

Ya, waktu senggang barangkali menghasilkan manfaat tersembunyi untuk pengetahuan ekonomi. Ia mungkin mendorong perkembangan, inovasi, maupun kultur, dan para pembuat kebijakan mungkin perlu mendengar manfaat-manfaat tersebut. Tetapi sebagai individu, banyak keuntungan yang akan diperoleh dari melestarikan ruang untuk melakukan sesuatu demi kepentingan mereka sendiri. Singkatnya, “kerja merupakan sarana kehidupan, dan rekreasi adalah tujuannya”.

Itu dua pendapat soal rekreasi atau waktu senggang dalam hubungannya dengan produktivitas. Kamu tim bubur diaduk atau tidak diaduk?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp