5 Hal yang Dapat Kamu Lakukan Saat Depresi (Bukan Psikolog)

5 Cara Mengatasi Depresi
Ilustrasi by: Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

“Aku tak bisa menunggu hingga kapitalisme hancur untuk bisa bahagia, dan aku tebak kamu juga begitu..”. -Hidup Untuk Melawan di Lain Hari

HIDUP dengan depresi bisa menjadi sebuah perjuangan dan dalam kondisi paling akut mampu melumpuhkan aktivitas hidup kita sehari-hari. Membuat kita takut hidup, seolah ada badai emosional yang mengaburkan segalanya. Depresi juga dapat sangat menguras waktu dan tenaga, sehingga kita mudah menyerah dan membiarkan diri kita terjerumus lebih dalam lagi ke dalam lubang emosional tanpa dasar.

Sebagian orang akan mengalami suatu bentuk depresi yang disebabkan oleh banyak hal. Entah itu karena kisah percintaan yang gagal, kematian anggota keluarga tercinta, penyakit yang tak kunjung sembuh, dan lain sebagainya.

Depresi sepertinya sudah menjadi masalah umum. Akan tetapi, pada tingkat sosial maupun interpersonal, masalah kesehatan mental ini seringkali diabaikan. Lebih buruk lagi, justru disepelekan dengan menyalahkan penderita yang dianggap lemah atau bereaksi lebay.

Banyak orang, tak terkecuali penderitanya, percaya bahwa depresi terjadi karena ketidakmampuannya secara personal menghadapi masalah. Respon masyarakat pun penuh dengan pesan yang bersikeras bahwa kesedihan dan kesepian adalah masalah yang diciptakan karena cacat karakter individu dan bukannya cacat struktural.

Langkah awal untuk melawan stigma tersebut tentu saja dengan membicarakannya. Sebagai peneliti yang menghabiskan dua dekade terakhir mempelajari keberanian, kerentanan, rasa malu, empati, dan resiliensi, Brene Brown mengatakan, “malu membutuhkan tiga hal untuk tumbuh secara eksponensial dalam kehidupan kita: kerahasiaan, keheningan, dan penilaian.”

Tuntutan masyarakat supaya orang ‘membangkitkan diri sendiri dan melanjutkan hidup’ justru membuat mereka lebih terasing dari lingkungan dan semakin tenggelam dalam depresi. Apalagi, masyarakat dunia tontonan (spectacle society) konsumeris modern mengajarkan kita untuk membenci diri sendiri karena depresi.

Tidak terhitung jumlah individu penderita depresi yang tidak mencari bantuan profesional karena takut dicemooh dan diasingkan. Jika kamu merasa depresi sekarang, jangan merasa itu adalah kesalahanmu sendiri.

Penyakit mental adalah biologis, genetik, lingkungan, dan sosial budaya. Tapi, saya percaya jika kita hidup di masyarakat yang benar-benar sosialis kita bisa melihat penurunan drastis akan penderita depresi dan bahkan bisa mencegahnya.

Jadi apa yang harus dilakukan?

Sistem kesehatan mental kita jauh dari sempurna, terlalu terbebani dan terlalu mahal bagi kebanyakan orang. Itulah bagian dari mengapa sebagain orang ingin mengubah sistem hari ini menjadi sistem yang berfungsi untuk semua orang. Sayangnya, sementara kita harus berurusan dengan bagaimana keadaan sekarang. Saya tak bisa menunggu hingga kapitalisme hancur untuk bisa bahagia, dan saya tebak kamu juga begitu.

Satu hal yang saya anjurkan adalah menghubungi bantuan profesional dan melakukan terapi, yang seringkali berbiaya mahal. Jika tidak dapat menemukan terapi dengan biaya murah, simak lima hal di bawah ini untuk membantu kamu dalam rencana penanganan depresi.

1. Keterlibatan dalam Komunitas

Banyak orang menemukan bahwa membantu orang lain membantu mereka dalam mengatasi depresi. “Memberi, menyenangkan hati…” begitu kata Iwan Fals.

Cobalah untuk terlibat dalam proyek yang sudah ada.Yang perlu diingat: jangan mengambil lebih dari yang secara emosional berkelanjutan untuk kamu. Jangan membawa terlalu banyak tanggung-jawab dalam komunitas karena itu bukan praktik yang baik dalam hal kesehatan mental.

Bersikaplah realistis tentang berapa banyak waktu yang kamu dapat untuk mengabdikan diri untuk sebuah proyek dan terbukalah dengan orang lain ketika kamu membutuhkan bantuan. Juga, cobalah untuk tidak membuatnya secara eksplisit menjadi politis. Idenya disini adalah untuk membantu orang lain, bukan mengubahnya menjadi proyek politik.

Terkadang, terlibat dalam politik kelas membawa rasa solidaritas dan tujuan. Bagi banyak orang, membantu komunitas dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik membawa kepuasan pribadi yang luar biasa. Namun, jika politik membawa lebih banyak stres daripada kesenangan, mundurlah selangkah. Kamu berhak membutuhkan beberapa bulan untuk menjauh dari proyek politik atau komunitasmu.

Ada banyak pilihan untuk memulai keterlibatan pada sebuah atau beberapa komunitas yang non-politis. Menjadi relawan di perpustakaan, relawan pada kegiatan memungut sampah, relawan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

2. Olahraga

Anekdot serta penelitian klinis sering mengklaim bahwa olahraga sama efektifnya (jika tidak lebih) dengan anti-depresan. Cobalah mengajak kawan-kawanmu, laki-laki atau perempuan, untuk bermain futsal atau bermain raket bersama. Siapkan jadwal, pilih waktu khusus.

Kamu tidak perlu melakukan olahraga berat dan, amit-amit mahal. Seperti kata kawan saya ini, “berjalan-jalan bersama kawan-kawan di sore hari itu menakjubkan, ini olahraga, yang dapat melibatkanmu dengan dunia nyata… apalagi masih bisa berdiskusi sambil jalan-jalan, ehehe.

3. Bercocok Tanam dan/atau Memelihara Hewan

Anjing, kucing, marmut atau ikan cupang bisa jadi sahabat baik yang menemani dan menghibur kamu. Pertimbangkan untuk mengadopsi satu hewan untuk kamu rawat dan jaga. Ini remeh, tapi terkadang cukup signifikan. Bagaimana hewan peliharaan dapat menjadi sahabat baik yang dapat membuatmu menjadi lebih hidup digambarkan pada film berjudul “A Street Cat Named Bob”. Itu kisah nyata di London yang mempertautkan James Bowen, seorang pengamen jalanan yang depresi karena perceraian orang tua dan mencandu heroin secara berlebihan dengan seekor kucing bernama Bob. Coba tonton deh film itu.

4. Membaur

Salah satu penyebab depresi ‘mereka yang telah tersadarkan’ adalah karena mereka semakin terisolasi dari kehidupan sosial. Mereka merasa jijik pada birokrasi, konsumerisme, atau kepalsuan apapun yang ditawarkan oleh masyarakat hierarkis dan kapitalis saat ini. Kita mencari perkawanan yang paling tidak memiliki kesamaan pandangan dan semakin lama, kita semakin sadar bahwa kita juga mengalami ‘alienasi revolusioner’. Monoton sekali.

Berbincang-bincang terkadang mengingatkan kita kembali akan ‘peradaban’ yang sekarang kita jalani. Misalnya saja, menggosipkan selebritas macam Vicky ‘hosaistu no jutsu’ Prasetyo dan Angle ‘wikwik’ Lelga. Ini jadi pengalaman yang menyenangkan untuk tertawa bersama, heran, dan membantu kita untuk memulai mengetahui apa kabar hari ini setelah mengalami hambatan sosial akibat terlalu lama tercerabut dari ‘kehidupan sosial’.

5. Gunakan Mariyuana atau Minuman Beralkohol Secara Proporsional

Meskipun tidak ada yang salah dengan mariyuana dan minuman beralkohol dalam arti luas, menggunakannya harus terpahami, karena pengaruhnya pada kesehatan mental kamu adalah bagian yang sangat penting dalam mengelola keadaan emosimu.

Setiap orang, dengan tubuhnya, bereaksi secara berbeda terhadap mariyuana dan minuman beralkohol. Dan semua orang menemukan cara mereka yang berbeda dalam mengatasi. Kuncinya adalah menyadari dan sadar efek kedua barang tersebut terhadap tubuh dan kondisi mental kamu sendiri. Banyak penelitian melaporkan, bila digunakan secara proporsional, alkohol atau mariyuana dapat membantu kamu untuk bersantai di penghujung hari. Tapi, jika kamu menemukan dirimu tidak dapat melewati hari tanpa mariyuana ataupun minuman beralkohol, atau jika penggunaan keduanya malah memperburuk depresimu, mungkin sebaiknya dihindari.

Sekali lagi, saya ingin menekankan bahwa tulisan ini bukanlah pengganti bantuan profesional. Sementara saya berharap membaca ini dapat membantu, jauh lebih penting adalah untuk menemukan seseorang untuk diajak bicara. Idealnya, bicaralah dengan seseorang secara pribadi. Jika kamu mempunyai masalah akan kepercayaan (trust issues), teleponlah keluarga atau kawanmu yang telah kamu percayai. *pelukonline*

Referensi tulisan:
1. Hidup untuk Melawan Di Lain Hari, palanghitam.noblogs.org
2. Perangi Bayangan Kelam Depresi: Upaya Mengelola Depresi dengan Cognitive Behaviour Therapy (CBT), Therrie Rosenvald, Tian P.S. Oei, Marco Schmidt.

PENULIS

Artji Ananta

Tulisan-tulisannya dapat dilihat di https://medium.com/@artji.ananta

One Response

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.