Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia hampir selalu identik dengan warna merah, angpao, barongsai, kue keranjang, dan tentu saja jeruk.
Yang paling bikin penasaran ialah kenapa jeruk identik dengan imlek. Soalnya, hal-hal lain memang sangat identik dengan tradisi Tionghoa. Lalu, apa arti jeruk Imlek?
Buah ini juga termasuk makanan khas Imlek yang hadir di meja tamu, altar sembahyang, hingga bingkisan saat berkunjung ke rumah keluarga atau kerabat. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun, namun tidak sedikit orang yang menjalaninya tanpa benar-benar memahami alasannya.
Jika ditelusuri, jeruk bukan sekadar buah musiman yang kebetulan mudah ditemukan saat Imlek. Ternyata, alasan kenapa jeruk identik dengan Imlek juga berkaitan dengan tradisi soal pemaknaan simbolis. Jadi, apa arti jeruk dalam Imlek?
Kira-kira apa ya?
Kenapa jeruk identik dengan Imlek
Jeruk menjadi simbol yang tidak terpisahkan dari perayaan Imlek karena memiliki akar budaya dan makna yang kuat dalam tradisi Tionghoa.
Salah satu alasan utamanya berasal dari permainan bunyi dalam bahasa Tionghoa. Dalam beberapa dialek, kata untuk jeruk terdengar mirip dengan kata yang berarti keberuntungan dan kekayaan. Kesamaan pelafalan ini membuat jeruk dianggap membawa nasib baik, terutama saat memasuki tahun yang baru.
Jeruk memiliki makna simbolis yang kuat dalam budaya Tionghoa, mulai dari lambang keberuntungan, kemakmuran, hingga harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Selain itu, warna jeruk yang cerah menyerupai emas juga memperkuat makna kemakmuran. Dalam budaya Tionghoa, warna memiliki peran simbolis yang penting, dan warna emas melambangkan rezeki, kejayaan, serta kesuksesan. Jeruk pun menjadi pilihan alami sebagai buah yang disajikan atau diberikan saat Imlek.
Tradisi saling memberi jeruk ketika berkunjung ke rumah kerabat bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk doa dan harapan agar penerimanya mendapatkan keberuntungan sepanjang tahun. Dari sinilah jeruk akhirnya melekat kuat sebagai simbol Imlek, bukan karena kebiasaan semata, tetapi karena makna yang dikandungnya.
Arti jeruk dalam Imlek

Dalam perayaan Imlek, jeruk dipandang sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran. Makna ini tidak muncul secara kebetulan, melainkan berakar pada kepercayaan masyarakat Tionghoa yang sangat memperhatikan simbol dan filosofi hidup. Jeruk dianggap membawa energi positif yang diharapkan bisa mengalir sepanjang tahun baru. Karena itulah, jeruk sering diletakkan di meja tamu atau altar sebagai bagian dari persiapan menyambut Imlek.
Warna jeruk yang cerah dan menyerupai emas juga memiliki arti tersendiri. Emas dalam budaya Tionghoa melambangkan kekayaan, kesuksesan, dan keberlimpahan rezeki. Dengan menyajikan jeruk saat Imlek, keluarga berharap tahun yang akan datang dipenuhi kemajuan dan kesejahteraan. Tidak hanya warna, bentuk jeruk yang bulat juga dimaknai sebagai lambang keutuhan dan keharmonisan dalam keluarga.
Selain sebagai simbol, jeruk juga berfungsi sebagai media doa dan harapan baik. Memberikan jeruk kepada orang lain saat Imlek berarti mendoakan penerimanya agar mendapatkan keberuntungan dan hidup yang lebih baik.
Biasanya jeruk diberikan dalam jumlah genap atau sepasang, yang melambangkan keseimbangan dan keberlanjutan. Tradisi ini memperlihatkan bahwa jeruk dalam Imlek bukan sekadar buah, melainkan sarana untuk menyampaikan harapan dan nilai kebersamaan.
Jenis jeruk yang populer saat Imlek
Dalam perayaan Imlek, tidak semua jeruk diperlakukan setara. Ada beberapa jenis jeruk yang lebih sering dipilih karena makna simbolis, tampilan, dan kebiasaan yang sudah terbentuk dari tahun ke tahun. Berikut tiga jenis jeruk yang paling populer saat Imlek.
Jeruk Mandarin
Jeruk mandarin adalah jenis jeruk yang paling identik dengan Imlek. Ukurannya sedang, warnanya oranye cerah, dan mudah ditemukan menjelang Tahun Baru Imlek.
Dalam bahasa Tionghoa, sebutan jeruk mandarin memiliki bunyi yang diasosiasikan dengan keberuntungan dan kemakmuran. Karena itulah jeruk ini sering dijadikan buah utama untuk hantaran, sajian tamu, maupun persembahan.
Secara visual, jeruk mandarin juga dianggap paling “Imlek” karena warnanya yang menyerupai emas.
Jeruk Ponkam
Jeruk ponkam sekilas mirip dengan jeruk mandarin, tetapi ukurannya sedikit lebih besar dan kulitnya lebih tebal. Jenis jeruk ini cukup populer karena rasanya manis dan tampilannya menarik.
Jeruk ponkam sering dipilih sebagai bingkisan saat berkunjung ke rumah keluarga atau relasi, karena dianggap lebih premium. Maknanya tetap sama, yaitu simbol rezeki dan keberuntungan yang berlimpah.
Jeruk Sunkist
Meski bukan jeruk tradisional Tionghoa, jeruk sunkist juga banyak digunakan saat Imlek, terutama di Indonesia. Ukurannya besar, warnanya cerah, dan mudah ditemukan di pasar modern. Jeruk ini dipilih karena tampilannya yang mencolok dan kesan kemakmurannya yang kuat.
Dalam konteks Imlek, jeruk sunkist berfungsi sebagai simbol harapan hidup yang lebih baik dan sejahtera, meski tanpa filosofi bahasa sedalam jeruk mandarin.
Jeruk menjadi identik dengan Imlek bukan sekadar karena tradisi, melainkan karena maknanya sebagai simbol keberuntungan, kemakmuran, dan harapan baik yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

