BUMIAJI – Di tengah pesatnya modernisasi Kota Batu sebagai jujukan wisata utama, sebuah gerakan kultural nan hangat justru sedang menyala di sudut Rest Area Desa Bumiaji, Kamis (25/6/2026). Bukan lewat beton atau gemerlap lampu neon, melainkan melalui kepulan asap dari belasan tungku tanah liat (pawon) dan aroma gurih rempah yang menguar dari wajan tembaga raksasa (kencheng).
Lewat Festival Pawon Biyen dan Jenang Suro 2026, Desa Bumiaji memilih jalur yang berbeda: mereka melawan lupa dengan cara mengumpulkan seluruh generasi untuk duduk bersama di depan tungku tradisi.

Sejak fajar menyingsing, Jalan Kastubi riuh oleh arak-arakan para ketua RT dan RW yang menggotong kencheng raksasa. Di tempat inilah, ritual utama dimulai. Beras, santan, dan racikan bumbu rahasia diaduk tanpa henti selama lima jam penuh di atas kayu bakar. Proses melelahkan ini menjadi simbol kerja keras kolektif yang tak bisa digantikan oleh mesin instan modern. Jenang Suro yang dihasilkan bukan sekadar panganan pengisi perut, melainkan doa berbentuk rasa syukur atas berkah bulan Muharam dan kesuburan tanah Bumiaji. Keberagaman lauk yang dipadukan di atasnya—mulai dari suwiran telur hingga perkedel—menjadi manifestasi nyata dari indahnya hidup rukun berdampingan di tengah perbedaan.
Sudut pandang menarik dari festival tahun ini adalah misi besarnya sebagai jembatan antargenerasi. Di era gempuran gawai dan kuliner cepat saji, anak-anak muda dan forum anak setempat justru dilibatkan aktif untuk melihat, merasakan, dan menyerap langsung bagaimana leluhur mereka merawat kebersamaan. Tidak ada sekat sosial yang tersisa; setelah penilaian usai, ribuan porsi Jenang Suro dibagikan secara merata. Seluruh warga Bumiaji, tanpa terkecuali, berhak menikmati sendok demi sendok kebahagiaan yang dimasak bersama tersebut.

Kehadiran Wali Kota Batu di tengah-tengah warga yang sedang berkeringat mengaduk jenang kian menegaskan posisi penting acara ini. Walikota memberikan apresiasi tinggi terhadap keteguhan Desa Bumiaji yang enggan kehilangan identitas agraris dan gotong royongnya, meski berada di pusaran industri pariwisata modern.
Ketua Panitia Festival, Abdul Hamid, mengungkapkan bahwa konsistensi adalah kunci dari lestarinya sebuah tradisi. Langkah konkret ini terbukti telah membawa dampak kultural yang kuat di wilayah Batu.
“Kami mendapatkan dukungan penuh, baik dari pemerintah desa maupun seluruh warga. Festival ini sudah berjalan untuk keempat kalinya, dan kami bangga karena Desa Bumiaji merupakan pelopor peringatan Muharam berbasis kearifan lokal di Kota Batu. Secara adat, kehadiran acara ini membuat perayaan jadi jauh lebih meriah, sekaligus menjadi sarana efektif untuk menurunkan nilai-nilai adat istiadat luhur ini kepada anak-anak muda setempat,” ujar Abdul Hamid mantap.
Senada dengan hal itu, Wahyu Eko Purwanto selaku Koordinator Acara, menekankan pentingnya edukasi kultural lewat media kuliner tradisional ini kepada generasi penerus.
“Festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan wujud syukur warga Desa Bumiaji atas berkah hasil bumi, sekaligus komitmen kami untuk mengenalkan kembali kuliner tradisional dan budaya ‘pawon’ zaman dulu kepada generasi muda,” tambahnya.
Melalui festival yang puncaknya akan ditandai dengan rebutan gunungan hasil bumi raksasa pada Sabtu (27/6) lewat Pawai Murak Berkat, Desa Bumiaji telah mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru daerah: bahwa kemajuan zaman tak harus dibayar dengan matinya api tradisi.

