Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius milik Oceanwide Expeditions memicu kekhawatiran terhadap industri pariwisata bahari Indonesia. Meski kejadian utama berlangsung di Samudra Atlantik, dampaknya berpotensi merembet ke sektor cruise tourism yang sedang tumbuh pesat di Tanah Air. Dilansir dari World Health Organization (WHO), hingga 6 Mei 2026 tercatat delapan kasus terkait kapal tersebut, termasuk tiga kematian.
Indonesia sedang agresif mempromosikan wisata kapal pesiar di destinasi unggulan seperti Bali, Labuan Bajo (Komodo), Raja Ampat, dan berbagai pelabuhan bahari lainnya. Target devisa pariwisata nasional tahun 2026 mencapai USD 22-24 miliar, dengan kontribusi signifikan dari segmen cruise tourism yang menyerap jutaan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung di sektor perhotelan, restoran, transportasi, dan UMKM.
Dilansir dari CNBC Indonesia, pakar pariwisata yang juga ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Eko Saputro, menyatakan bahwa berita wabah seperti ini dapat menimbulkan sentimen negatif di kalangan wisatawan mancanegara. Pasar utama seperti Eropa, Amerika, dan Australia sangat sensitif terhadap isu kesehatan pasca-pandemi. Pembatalan booking bisa terjadi secara cepat dan berdampak pada okupansi hotel serta aktivitas wisata pendukung di pelabuhan singgah.
Efek domino dari kekhawatiran ini berpotensi menyebabkan penurunan kunjungan wisatawan kapal pesiar, yang selama ini menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tinggi di Indonesia. Pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa satu isu kesehatan di kapal pesiar saja mampu menyebabkan kerugian triliunan rupiah bagi industri pariwisata nasional dalam waktu singkat.
Protokol Biosecurity Kapal Pesiar yang Harus Diperkuat
Wabah ini menjadi pengingat penting akan perlunya peningkatan protokol biosecurity di kapal pesiar yang berlabuh di Indonesia. Dilansir dari panduan WHO dan praktik industri maritim internasional, beberapa protokol utama yang perlu diperketat meliputi:
- Pengendalian Rodent (Integrated Pest Management): Pemasangan perangkap, umpan, dan inspeksi rutin di seluruh area kapal, terutama penyimpanan makanan dan dek bawah. Semua celah di lambung dan ventilasi harus ditutup rapat.
- Sanitation dan Disinfeksi: Prosedur pembersihan basah menggunakan disinfektan yang tepat, penghindaran penyapuan kering, serta penggunaan APD bagi kru kebersihan. Ventilasi ruangan harus optimal.
- Surveillance Kesehatan: Monitoring gejala harian bagi penumpang dan awak, isolasi cepat bagi yang bergejala, serta pelaporan wajib ke otoritas pelabuhan sebelum tiba di Indonesia.
- Hygiene dan Pre-Arrival Inspection: Penerapan higiene ketat, sertifikasi kesehatan kapal, dan pemeriksaan mendalam sebelum memasuki perairan Indonesia.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Kementerian Kesehatan RI diharapkan memperkuat standar CHSE (Clean, Health, Safety, Environment) khusus untuk kapal pesiar. Sertifikasi biosecurity dan pelatihan rutin bagi operator lokal maupun internasional menjadi langkah krusial.
Dr. Eko Saputro menambahkan, “Wabah ini justru bisa menjadi momentum bagi Indonesia. Dengan transparansi informasi dan penerapan protokol biosecurity yang unggul, kita bisa menjadikan ‘safe tourism’ sebagai nilai jual utama. Wisatawan premium saat ini semakin mencari destinasi yang tidak hanya indah, tapi juga terbukti tangguh terhadap risiko kesehatan.”
Pemerintah perlu menyeimbangkan perlindungan kesehatan publik dengan keberlanjutan ekonomi pariwisata. Dengan langkah antisipatif yang kuat, Indonesia diharapkan tetap menjadi destinasi wisata kapal pesiar yang aman dan menarik di mata dunia.
Masyarakat dan pelaku industri pariwisata diimbau mengandalkan informasi resmi dari Kemenkes dan Kemenparekraf. Situasi global masih berkembang, dan kesiapsiagaan dini akan sangat menentukan ketahanan sektor pariwisata nasional ke depan.

