Adu Bacot dalam Debat Presidensial AS 2020

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on email
Donald Trump Debat Pandemi Biden
ilustrasi: Oky Dwi Prasetyo

Sebetulnya tidak perlu kaget ketika mendengar Donald Trump terinfeksi Covid-19. Kita tahu, sejak awal ia memang meremehkan pandemi, menganggap virus ini tidak berbahaya sebab hanya flu belaka. Trump hanya manusia biasa, dan tak ada seorang pun yang kebal dari virus ini. Tapi kita tahu, Trump adalah presiden Amerika Serikat (AS).

Jabatan presiden itu membuatnya jadi orang penting. Malah amat penting sebab ia menjabat presiden negara yang disebut-sebut paling kuat di muka bumi ini. Sebagaimana seorang presiden, Trump berkewajiban menghadirkan rasa aman bagi warga negaranya. Tapi, tentu saja itu tidak ia lakukan. Cara Trump menangani pandemi adalah bencana di tengah bencana, dan kini ia merasakan akibatnya.

Untuk mengetahui kabar terbaru maupun sikap Trump, bahkan nyaris untuk semua urusan, silakan tengok Twitternya. Ia cukup aktif menulis di Twitter dan menghabiskan banyak waktu di sana. Tapi perlu diingat untuk tidak kaget jika isinya desas-desus hingga omong-kosong belaka.

Baca Juga: Donald Trump Dalam Bingkai The Simpson

Adu Bacot Trump dan Biden

Dua hari sebelum dinyatakan terinfeksi Covid-19, ia menjalani debat pertama pemilihan presiden AS (29/9). Anda tidak keliru jika membayangkan debat calon presiden AS itu berjalan baik sebagaimana lazimnya debat dalam situasi resmi. Tapi sesungguhnya debat malam itu bukan debat yang enak ditonton. Petahana Donald Trump dan penantangnya Joe Biden adu bacot alih-alih berdebat soal gagasan maupun program-programnya kelak.

Adu bacot di antara keduanya terjadi berkali-kali. Trump berulang kali menyela waktu bicara Biden, dan kita tahu, menyela menunjukkan seseorang tidak memiliki sopan-santun. Cara Trump menyela waktu bicara Biden tampak seperti bocah yang tak mau kalah.

Biden tak terima diinterupsi dan kemudian dengan jengkel mengatakan “sulit berbicara dengan badut ini”. Biden beruntung memperoleh amunisi yang cukup untuk menghajar Trump dengan telak: skandal pajak. Salah satu media di AS melaporkan bahwa selama beberapa tahun Trump mengelak dari kewajiban membayar pajak.

Di lain sisi, moderator debat Chris Wallace gagal menengahi debat kusir di antara keduanya. Lengkap sudah. Debat itu akan dikenang sebagai aib.

Baca Juga: Jangan “Berak” di Amerika

Masker dan Simbol Polarisasi

Debat pemilihan presiden AS itu bisa dimaknai sebagai cerminan mengenai bagaimana AS dalam menghadapi pandemi. Trump mengaku tidak gagal sebagai pimpinan selama pandemi berlangsung. Biden menyindirnya dengan mengatakan bahwa penanganan yang serampangan membuat AS kehilangan dua ratus ribu nyawa karena Covid-19.

Selain penanganan pandemi, moderator Chris Wallace juga mengajukan pertanyaan soal perlunya memakai masker. Pertanyaan ini relatif penting untuk mengulik pandangan keduanya soal pandemic.

Trump menjawab bahwa masker tidak penting-penting amat untuk digunakan. Ia akan mengenakan masker jika diperlukan, tetapi masalahnya ia percaya ia tidak benar-benar membutuhkannya. Trump kemudian mengolok-olok Biden yang mengenakan masker. Bagi Trump, tidak mengenakan masker adalah sebentuk machoisme.

Sementara Biden menganggapnya penting dan ia belum selesai bicara ketika Trump kembali menginterupsinya.

Masker mencerminkan polarisasi masyarakat AS dalam menyikapi pandemi, sekaligus mewakili sebagian sikap politik seseorang. Pemilihan presiden AS kali ini digelar di masa pandemi, dan masker merupakan aksesori yang membantu kita memahami proses ini.

Sebagian masyarakat AS tidak menganggap Covid-19 berbahaya. Sementara sebagian lainnya memilih mematuhi anjuran-anjuran penting di masa pandemi.

Kelompok pertama punya kedekatan ideasional dengan Trump dan sikap ignorant. Kampanye Trump kerap digelar tanpa mengenakan masker. Mereka tidak hanya menolak mengenakan masker, tetapi juga menolak lockdown, dan menganggap bahaya Covid-19 dibesar-besarkan.

Sedangkan Biden memperoleh dukungan yang cukup besar dari kelompok kedua. Umumnya mereka memercayai fakta-fakta ilmiah soal pandemi yang diungkapkan oleh para ahli. Biden beruntung memperoleh dukungan dari warga AS yang enggan kembali memiliki presiden kroco.

Soal siapa yang memenangi debat, sediksi.com punya pandangan: Biden memenangi debat presidensial kali ini jika tolok ukurnya ialah ketahanan meladeni omong-kosong.

Baca Juga

Terkini
25 Oktober 2020
Ramai-ramai berharap naskah UU Ciptakerja-Fix-Paling-Fix ini tidak direvisi lagi.
Redaksi
3 Menit
23 Oktober 2020
Emily in Paris berhasil membuktikan bahwa kelucuan dalam sebuah film komedi romantis tidak hanya dapat ditampilkan melalui tingkah laku sepasang kekasih saja.
Anatasia Anjani
4 Menit
21 Oktober 2020
Reina, Raja dan Cipta Kerja: tiga latar mengapa di bulan Oktober 2020 ini 3 negara ASEAN kompak melakukan kampanye sipil yang tidak lain dipantik oleh penguasa.
Redaksi
3 Menit
20 Oktober 2020
Tidakkah uji materi produk legislasi bermasalah itu terkesan seperti menguji apakah air selokan layak diminum?
Redaksi
3 Menit
18 Oktober 2020
Dengan suaranya berat-berat-pasrah, pasti anda ingin segera mengingat Tuhan, segera mengambil air wudhu, atau setidaknya mengucap istighfar.
Irfan R. Darajat
7 Menit
14 Oktober 2020
Memungkinkah kita membandingkan slogan kerja, kerja, kerja dengan tiga tahun kolonialisme Daendels?
Redaksi
3 Menit
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp