Compassion fatigue adalah kondisi kelelahan emosional akibat terlalu lama memberi empati. Banyak orang mengalaminya tanpa sadar, terutama saat peran menolong jadi rutinitas harian.
Istilah ini sering muncul di konteks kesehatan mental dan caregiver. Namun, siapa pun yang terus menyerap beban emosi orang lain berisiko mengalaminya.
Artikel ini hendak mengulas apa yang dimaksud dengan compassion fatigue, apa penyebabnya, contoh keadaan ini, dan cara pencegahannya.
Memahami kondisi ini penting agar empati tidak berubah menjadi kelelahan berkepanjangan. Peduli tetap perlu, tapi tanpa mengorbankan kesehatan mental sendiri.
Apa yang Dimaksud dengan Compassion Fatigue?

Menurut Canadian Medical Association, Compassion fatigue adalah kondisi kelelahan emosional yang muncul ketika seseorang terlalu lama memberikan empati, perhatian, dan dukungan kepada orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Empati yang terus-menerus dipakai tanpa jeda akhirnya terkuras.
Berbeda dengan stres biasa, compassion fatigue berkaitan langsung dengan hubungan emosional. Seseorang tidak hanya lelah karena pekerjaan, tetapi karena terus menyerap rasa sakit, trauma, atau masalah orang lain.
Kondisi ini sering dialami oleh:
- Caregiver,
- tenaga kesehatan,
- relawan sosial,
- atau siapa pun yang berperan sebagai pendengar dan penolong.
Dalam banyak kasus, compassion fatigue berjalan pelan dan nyaris tidak terasa.
Apa yang menyebabkan Compassion Fatigue?

National Institute of Health AS mencatat sejumlah penyebab Compassion Fatigue bisa terjadi.
Penyebab utama compassion fatigue adalah paparan emosi negatif orang lain secara terus-menerus. Kesedihan, trauma, kemarahan, atau keputusasaan yang didengar setiap hari perlahan menguras energi emosional.
Faktor lain adalah tuntutan untuk selalu hadir dan kuat. Banyak orang merasa tidak punya pilihan selain terus membantu, meski kondisi mentalnya sendiri sudah lelah.
Kurangnya batasan emosional juga berperan besar. Ketika masalah orang lain dianggap sebagai tanggung jawab pribadi, empati berubah menjadi beban psikologis.
Selain itu, minimnya waktu istirahat, dukungan sosial, dan apresiasi membuat kelelahan semakin menumpuk. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi caregiver burnout yang lebih berat.
Tandanya bisa berupa:
Fisik
- Perasaan kelelahan,
- tidur yang terganggu,
- kecemasan,
- sakit kepala,
- perut terasa tidak enak,
Psikis
- Mati rasa emosional,
- sulit peduli,
- mudah tersinggung,
- atau muncul sikap sinis.
Inilah yang membuat compassion fatigue sering disamakan dengan caregiver burnout, meski fokus utamanya ada pada kelelahan empati.
Cargiver Action Network menerangkan, Compassion fatigue dan caregiver burnout merupakan hal yang berbeda. Meski kerap disamakan, perbedaan pentingnya ialah compassion fatigue bisa terjadi pada siapa saja, sementara caregiver burnout terjadi pada individu yang mengalaminya.
Selain itu, caregiver burnout juga menekankan pada ‘tanggung jawab’ untuk merawat. Mengenai tanggung jawab inilah yang kemudian jadi salah satu penanda penting bagaimana burnout bisa terjadi. Seringkali, burnout terjadi secara gradual, tetapi kadar empati tetap sama.
Penting dipahami bahwa compassion fatigue bukan tanda kurang peduli. Justru sebaliknya, kondisi ini muncul karena seseorang terlalu peduli, terlalu lama, tanpa ruang untuk memulihkan diri.
Apa Contoh dari Caregiver Burnout?

Caregiver burnout sering muncul dalam situasi merawat orang lain dalam waktu lama. Misalnya, anggota keluarga yang merawat orang tua sakit kronis tanpa bantuan dan jarang beristirahat.
Contoh lain terlihat pada tenaga kesehatan yang mulai merasa datar saat menghadapi pasien. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena empati mereka sudah terlalu terkuras.
Relawan sosial juga rentan mengalaminya. Awalnya penuh semangat, lalu perlahan kehilangan motivasi, mudah lelah, dan merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna.
Dalam hubungan personal, caregiver burnout bisa muncul pada pasangan atau teman yang selalu menjadi tempat curhat. Mereka tetap mendengar, tetapi di dalam merasa kosong dan lelah secara emosional.
Kondisi ini sering diabaikan karena dianggap bagian dari tanggung jawab. Padahal, jika dibiarkan, caregiver burnout dapat memperburuk kesehatan mental dan kualitas hubungan.
Apa yang Harus Dilakukan untuk Mencegah Compassion Fatigue maupun Cargiver Burnout?
Kedua hal di atas sering terjadi dengan gejala yang serupa. Kita tahu kalau empati adalah bagian dari perasaan manusia, dan wajar belaka kita tidak ingin kehilangan empati.
Jika mulai merasa itu membebani, bisa melakukan beberapa hal seperti:
- Langkah pertama mencegah compassion fatigue adalah mengenali batas diri. Tidak semua masalah orang lain harus ditanggung sendiri, meski niatnya membantu.
- Membangun jarak emosional yang sehat penting agar empati tidak berubah menjadi beban. Peduli tidak berarti menyerap seluruh penderitaan orang lain.
- Waktu istirahat mental perlu diperlakukan sama seriusnya dengan istirahat fisik. Berhenti sejenak bukan tanda menyerah, tetapi bentuk perawatan diri.
- Belajar berkata “tidak” tanpa rasa bersalah juga krusial. Menolong orang lain seharusnya tidak membuat diri sendiri hancur.
- Jika kelelahan terus berlanjut, mencari dukungan dari orang tepercaya atau profesional adalah pilihan bijak. Compassion fatigue bisa dicegah, asal disadari sejak awal.

