Dua Syarat Kerja Paling Jancuk

Oleh: Mikail Gibran

2. Syarat Kerja Paling Jancuk

Ilustrator/Ahmad Yani Ali R.

Lah lapo perusahaan ngurusi asumsi, tapi lupa esensi. Lak jancuk i seh? Ancen.

Uang, uang, uang. Sebagai manusia modern dengan gengsi yang semakin mahal karena kurs rupiah yang semakin anjlok, kita perlu kumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Untuk dapat uang, kita perlu yang namanya kerja, kerja, kerja! Tapi kalau diri masih seorang pengangguran dan bingung kerja apa, maka perlulah sebelumnya kita cari, cari, cari pekerjaan itu.

Semua orang tentu berharap mendapat kerja sesuai minatnya, dan syukur-syukur gajinya lumayan. Meski lumayan itu tak pernah jelas seberapa besar. Begitu juga perusahaan, mereka butuh karyawan yang potensial. Karena dalam otak perusahaan kekinian, tenaga kerja adalah aset perusahaan. Jadi kepala kita ada label harganya, seperti halnya aset-aset yang lain.

Namun sayang, ketika karyawan dinilai sebagai aset perusahaan, yang sering dilupakan adalah mereka juga manusia. Mereka turut ikut campur dalam hal-hal yang sifatnya personal.

Setidaknya dalam mencari pekerjaan, ada dua syarat yang umum ada di pengumuman lowongan kerja. Kedua syarat kerja yang saya paparkan di bawah ini adalah gambaran bahwa perusahaan sudah bertindak terlalu jauh alias kebacut.

Opini Terkait: Pemburu Lowongan Kerja Mencari Harapan Palsu

Usia Maksimal

Banyak ditemui perusahaan menerapkan batas usia bagi pelamar kerja. Umumnya antara 24 hingga 27 tahun. Artinya jika usia mereka lebih dari itu, perusahaan akan menolak lamarannya.

Ada banyak alasan yang menjadikan persyaratan ini ada. Pertama semakin tua seseorang, tenaganya akan semakin terbatas untuk diperas. Mereka dianggap sudah tidak lagi cekatan. Kemampuan seseorang untuk belajar hal baru juga semakin dipengaruhi usia. Semakin tua usia, semakin sulit belajar. Kesulitan belajar ini dianggap akan berimbas pada kemampuannya menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari.

Para aktivis mahasiswa, yang biasanya lulus kuliah setelah teman-temannya beranak-pinak, sering terbentur masalah ini. Pengalaman mereka diskusi panjang lebar tentang urusan-urusan yang katanya tentang rakyat, akhirnya terbentur masalah usia ketika akan bergabung dengan kapitalisasi rakyat. Sing tuwek ora payu!

Opini Terkait: Prahara Mencari Kerja Sebelum Tes CPNS

Diutamakan Belum Menikah

Ini syarat paling keterlaluan yang sering ada dalam lowongan kerja. Syarat ini berarti, jika kita telah menikah, lamaran kita akan dinomorduakan. Urusan ranjang ditanyakan dalam mendaftar kerja. Sungguh terlalu.

Perusahaan memandang, orang yang sudah menikah akan terganggu fokusnya. Antara tugas-tugas di kantor dan tugas rumah tangga. Mereka dianggap akan mengorbankan urusan kantornya demi urusan keluarga.

Padahal kalau boleh jujur, yang justru fokusnya akan terganggu justru para jomblo. Sembari kerja mereka sibuk mbribik rekan kerja. Pulang kerja, ketika orang yang sudah menikah akan pulang ke rumah ngurus pasangan dan anak, para jomblo pilih nongkrong untuk urusan cari pasangan berkembang biak.

Tidak ada yang salah dari pola orang yang sudah menikah ataupun para jomblo itu. Semuanya manusiawi. Yang salah justru kenapa perusahaan memikirkan hal semacam ini? Memangnya mikir strategi marketing dan neraca keuangan belum cukup bikin pusing?

Perusahaan-perusahaan itu lupa, bahwa masih banyak orang baik-baik yang pikirannya tidak hanya melulu uang, uang, uang atau kerja, kerja, kerja. Melainkan juga berpikir tentang cinta, cinta, cinta. Lalu jika menikah itu dianggap sebagai ibadah karena menjauhkan seseorang dari zina, maka perusahaan telah mendiskriminasi orang yang taat beribadah. Jancuk ancene.

Opini Terkait: Walau Misqien, Mahasiswa Jangan Lakukan Pekerjaan Ini

Dua hal tadi, usia dan status, tidak selayaknya ditanyakan perusahaan kepada pelamar kerja. Jika katanya mendapat penghidupan yang layak adalah hak setiap warga negara, maka perusahaan itu telah membatasi warga negara memperoleh haknya. Tidak peduli tua atau muda, jomblo, beristri empat, duda, janda, mereka semua punya hak yang sama.

Apakah tidak lebih baik jika seleksi itu dilakukan berdasarkan performa? Biar saja orang itu tua dan istrinya banyak, tapi kalau kinerjanya baik umak ate lapo? Perkara faktor ini dan itu yang dianggap bisa mengurangi performa, itu kan cuma asumsi. Lah lapo perusahaan ngurusi asumsi, tapi lupa esensi. Lak jancuk i seh? Ancen.

Toh kurang lengkap bagaimana proses penerimaan karyawan di perusahaan. Ada wawancara, lanjut tes psikologis, ada lagi masa training. Kalau proses-proses itu tidak bisa mengetahui performa karyawan, lalu apa esensinya?

Yang jelas, dari syarat kerja yang pertama: tukang ngaduk kopi di Omah Diksi dan redaksi Sediksi sama sekali tidak diuntungkan. Untuk syarat kerja yang kedua mereka lebih diuntungkan, tapi ya sama saja, kasep!

sodik di halte2
Mikail Gibran
Perokok aktif. Pernah jadi pegiat persma.