Duka-ku yang Lahir Tahun 1997

Oleh: Rani Masida

kesialan generasi 1997

ilustrasi/Oky Dwi Prasetyo

Pengen gitu ngomong ke ibu, “lahirin aku tujuh tahun lagi aja, Bu.”

Ada-ada saja sama kelahiran 1997 ini.

Memangnya ada apa?

Mereka yang lahir tahun 1997 di Indonesia, rasanya seperti lahir di tahun paling krisis, sepanjang hidupnya juga krisis. Sudah dilahirkan, pas lagi kacau-kacaunya, pengen gitu ngomong ke ibu, “lahirin aku tujuh tahun lagi aja, Bu.”

Segitunya? Iya. Jadi gini,

Film Titanic rilis akhir tahun 1997, film ini masih berdiri tegap di nomor dua cabang film terlaris sepanjang masa dengan nomor satunya milik Avatar yang warna biru itu. Menurut situs Box Office Mojo , penghasilannya mencapai $ 2.187 yang nol di belakangnya ada enam. Angka yang fantastis! Tapi, garis besar film ini adalah tragedinya yang diambil dari kejadian nyata tenggelamnya kapal titanic tahun 1912. Kebayang kan? Film terlaris sepanjang masa itu rilis saat angkatan 1997 baru mencicipi oksigen, dan itu film menceritakan salah satu tragedi yang tidak akan dilupakan hingga berabad-abad kemudian. Awal kisah hidup yang menyedihkan.  

Kedua, krisis keuangan Asia. Kalau googling ‘Indonesia 1997’, yang muncul di halaman pertama adalah persoalan krisis ini, sedangkan satu berita lainnya terkait kebakaran. Sebelum Indonesia tereksekusi pada pertengahan tahun, didahului oleh Thailand. Ya apapun itu, Indonesia kena juga. Kemudian upaya untuk menangani masalah tersebut, Soeharto pada saat itu sepakat berhutang pada International Monetary Fund (IMF). Yang mungkin akhirnya bikin kondisi keuangan jadi nggak karu-karuan. Dampak dari krisis ini adalah semakin banyaknya pengangguran dan kemiskinan menjadi tinggi. Apa itu miskin?

… apa itu pengangguran?

Katanya pada saat itu kondisi ekonomi sangat berantakan lah. Kenapa katanya? Karena pada hari itu terjadi, aku yang lahir tahun 1997, kayaknya lagi sibuk gumoh.

Selanjutnya, terpilih kembali Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia dengan jumlah persentase yang lebih besar dari biasanya. Sekaligus jadi kali terakhir dia mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia. Betapa kami ini adalah pembawa sial. Pas kita lahir, pas terakhir Soeharto bisa mencalonkan diri sebagai presiden. Paham kan? Karena diam itu e-Mas, bawel itu Mbak.

Ditambah ada berbagai protes yang mengiringi terpilihnya kembali Soeharto. Puncaknya di tahun 1998 sampai akhirnya Soeharto mundur. Tenang, dia nggak akan sampai jatuh ke belakang, kan mundurnya mundur dari jabatan.

Bayangkan! Ketika aku mungkin baru bisa jalan dengan lancar, ayah, ibu, nenek, kakek, tante, paman, sepupu, tetangga lagi nobar berita mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenannya, tenang, jadi nggak sampai jatuh ke belakang sekali lagi. Yang seharusnya ayah ibuku bahagia dan bangga melihatku berjalan dengan lancar untuk pertama kali, mereka fokus nonton TV. Yang seharusnya mereka bersorak melihatku bisa jalan, mereka malah bersorak untuk TV.

Nasib lainnya adalah ketika hendak melewati Ujian Nasional (UN) pas SMA. Dari semua angkatan, kenapa angkatanku? Hah? Kenapa???

Yakni, fakta bahwa angkatanku adalah angkatan pertama yang UN nya menggunakan sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer. Kita ujian pake KOMPUTER! KOMPUTER! KOMPUTER GUYS!!! Kenyataan lainnya, tidak semua sekolah memberlakukan sistem itu, dengan salah satu alasan mutlaknya adalah soal fasilitas. Sampai 2018 aja, sekitar 12 ribu daerah di Indonesia masih ada yang belum mendapatkan akses listrik. Lalu, itu komputer mau dicolok dimana? Pakai pembangkit listrik tenaga cemburu?

Di tempatku nggak menggunakan komputer, tapi laptop merek ASUS dan itu barang masih baru. Sialnya, untuk ukuran tinggal di kota yang sama sekali nggak ada masalah dengan akses listrik, nggak semua sekolah menggunakan sistem ini. Karena faktor fasilitas tadi. Sesederhana beli laptop atau komputer juga butuh uang. Meskipun aku juga nggak tahu uang darimana untuk beli laptop, semoga bukan dari SPP-ku. Di antara faktor yang juga sama pentingnya dengan laptop baru, mental siswa!

Udah gugup seperempat mati karena UN, gugup seperempat lagi karena ujiannya menggunakan laptop, setengahnya mati lagi gugup karena listrik padam. Ketakutan tersebut menjadi nyata. Listrik padam sampai tiga jam. Siswa yang belum gilirannya masuk ujian ya jajan aja dulu di kantin sambil ngobrol hingga akhirnya hafalan rumus itu menguap bersama desis minyak penggoreng tempura dan menyengatnya fajar siang hari.

Setelah nilai keluar, ternyata nilaiku sangat mepet sama batas nilai minimal lulus. Tapi kalau ada hal yang bisa aku apresiasi dari hal ini, betapa sekolahku sangat YOLO terhadap siswanya.

Jadi, bisa bayangin kan? Udah mahal dan capek ikut bimbel, ikut Try Out dimana-mana, pas UN listrik padam.

Krisis lain yang aku rasakan sebagai kelahiran 1997 adalah penikmat terakhir kurikulum 2006. Perbedaan mencoloknya bahwa aku penjurusan di kelas 11, sedang anak-anak yang satu tingkat di bawahku sudah penjurusan sejak kelas 10. Tapi ya soal kurikulum ini masih banyak dibicarakan oleh orang-orang, sebaiknya kurikulum pendidikan di Indonesia itu bagaimana. Masih kok dibahas sampai sekarang.

Dari sini ada yang bisa aku syukuri.

Cukup UN yang berantakan, kurikulum belajar jangan. Buat anak kok coba-coba.

Terakhir, tahu siapa yang sekarang jadi buzzer di Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya? Yang dengan segala komentar atau postingannya mampu memengaruhi penurunan penjualan koran? Itu temen-temen seangkatan kita loh. Tentu harapanku untuk angkatan 1997 lewat tulisan ini adalah jangan berpikir bahwa kita generasi paling krisis. Karena tinggal beberapa lebaran lagi, kita yang jadi pengambil kebijakan.

Sodik Tentang Generasi Tragis
Rani Masida
Diplomat Comboran