Sediksi – Dunia kesehatan global kembali dihebohkan oleh klaster kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Kapal berbendera Belanda milik Oceanwide Expeditions ini membawa 147 penumpang dan awak dari 23 negara. Hingga 6 Mei 2026, tercatat tiga kematian dan beberapa kasus terkonfirmasi serta suspek, memicu perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas kesehatan internasional.
Kapal berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 menuju Kepulauan Canary via berbagai destinasi termasuk Antartika, South Georgia, Tristan da Cunha, Saint Helena, dan Ascension Island. Gejala pertama muncul sejak awal April. Kasus indeks (kasus pertama) adalah pria dewasa yang mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April, kemudian memburuk menjadi gagal napas dan meninggal di kapal pada 11 April. Jenazahnya diturunkan di Saint Helena.
Istrinya (kasus kedua), yang sempat turun di Saint Helena dengan gejala gastrointestinal, memburuk selama penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan, dan meninggal di rumah sakit pada 26 April. Tes PCR kemudian mengonfirmasi infeksi hantavirus. Kasus ketiga adalah pria dewasa yang dievakuasi ke Afrika Selatan dan dirawat di ICU dengan konfirmasi positif hantavirus. Kasus keempat, wanita dewasa, meninggal pada 2 Mei setelah gejala dimulai 28 April. Beberapa kasus suspek lain masih berada di kapal dengan gejala demam dan masalah gastrointestinal.
Laboratorium di Afrika Selatan (NICD) mengonfirmasi setidaknya dua kasus positif, dan strain yang teridentifikasi adalah Andes virus — satu-satunya spesies hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia, meski jarang terjadi. Hal ini menjadi sorotan karena hantavirus biasanya bersifat zoonosis (dari hewan pengerat ke manusia) melalui urine, feses, atau air liur tikus, bukan penularan langsung antar manusia seperti COVID-19.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus menyebabkan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Gejala awal mirip flu: demam, sakit kepala, mialgia, mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Kemudian cepat progres menjadi pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), syok, dan kegagalan multiorgan. Angka kematian (case fatality rate) bisa mencapai 30-50% di Amerika, tergantung strain dan akses perawatan intensif.
Tidak ada pengobatan antiviral spesifik atau vaksin yang disetujui. Pengobatan bersifat suportif: oksigen, ventilasi mekanik, pengaturan cairan ketat, dan perawatan ICU. Ribavirin kadang digunakan untuk tipe lain tapi kurang efektif untuk HCPS.
Respons Internasional dan Risiko Saat Ini
WHO menilai risiko bagi populasi global rendah saat ini. Wabah tampak terbatas di kapal. Dilansir dari Reuters, kapal kini sedang menuju Tenerife, Kepulauan Canary (Spanyol), setelah beberapa pasien dievakuasi untuk perawatan lanjutan ke Belanda dan negara lain. Penumpang diminta isolasi di kabin, jaga jarak, dan higiene ketat. Investigasi sedang berlangsung untuk menentukan sumber paparan — apakah dari kontak dengan rodent di daratan sebelum atau selama pelayaran, atau kemungkinan penularan terbatas antar manusia di lingkungan tertutup.
Africa CDC, ECDC, dan otoritas negara terkait (Cabo Verde, Belanda, Spanyol, Afrika Selatan, Inggris) berkoordinasi. Argentina menyatakan tidak ada kasus hantavirus sebelumnya di wilayah keberangkatan, tapi virus ini endemik di sebagian Amerika Selatan.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan diimbau meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk internasional, terutama bandara dan pelabuhan yang melayani wisatawan dari area endemik atau kapal pesiar. Meski risiko penyebaran luas rendah, gejala mirip penyakit pernapasan lain membuat deteksi dini penting.
Wabah ini mengingatkan betapa rentannya lingkungan tertutup seperti kapal pesiar terhadap penyakit menular, meski hantavirus bukan penyakit yang mudah menyebar seperti norovirus atau influenza di kapal. Ekoturisme ke area liar (seperti Antartika dan pulau-pulau terpencil) membawa risiko zoonosis baru. Pakar menekankan pentingnya pengendalian rodent, higiene, dan surveillance kesehatan pelancong.
WHO menegaskan: “Ini bukan COVID berikutnya.” Penularan antar manusia terbatas dan tidak berkelanjutan seperti virus pernapasan biasa. Namun, kejadian ini jadi pengingat perlunya kesiapsiagaan global menghadapi penyakit emerging, terutama di era perjalanan internasional yang masif.
Masyarakat diimbau tidak panik berlebihan. Pantau perkembangan resmi dari WHO dan Kemenkes. Bagi traveler, hindari kontak dengan tikus atau kotorannya di area pedesaan, gunakan masker dan higiene tangan yang baik jika ada gejala setelah bepergian.
(Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi WHO per 4-6 Mei 2026, Africa CDC, dan sumber kredibel terkait. Situasi masih berkembang; total kasus dan detail investigasi dapat berubah.)

