Membaca Peluang Berdakwah di Whisper

Oleh: Muhamad Erza Wansyah

Whisper dan dakwah

Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

Suatu ketika saya 'bermain peran' sebagai pendakwah di Whisper. Namun, alih-alih punya basis jamaah, saya justru berkali-kali dicaci-maki.

Segenap kru Sediksi.com kebetulan punya mainan baru. Namanya Whisper. Semacam aplikasi media sosial berbasis android. Perbedaan Whisper dari Medsos lain, fitur anonimitasnya.

Mulanya aplikasi ini didaulat sebagai antitesis dari Facebook. Whisper, menjunjung tinggi privasi dan anonimitas. Penggunanya dapat leluasa membagikan pengalaman, gagasan, atau apapun yang tidak mungkin dibagikan di platform media sosial lain. Misalnya, jati diri LGBT, pengalaman menjadi korban pemerkosaan, hingga hal-hal yang berujung pada cyberbullying.

Dilalah, produk digital WhisperText, Inc. ini malah bernasib sama dengan aplikasi jejaring sejenis: Tinder, Badoo, Beetalk, Omegle, dll. Whisper jadi wahana bagi orang-orang ‘haus’ untuk mencari lawan jenis yang juga sama ‘haus’-nya. Baik pria, maupun wanita, semua bisa menuangkan ‘kehausannya’ di sana tanpa perlu khawatir identitasnya terungkap.

Hampir semua kru Sediksi memasang aplikasi tersebut di gawai pintar mereka. Selama beberapa hari, Whisper menjadi topik hangat bagi kami untuk diperbincangkan.

Ada berbagai jenis perbincangan. Mulai dari pengalamannya menggunakan whisper, tipikal para pengguna, kelucuan-kelucuan yang mereka temukan di beranda aplikasi, sampai analisis-analisis tai kucing tentang kebergunaan whisper bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Inti dari perbincangan itu sebenarnya satu. Kami mulai percaya dengan stigma yang menempel pada whisper. Maka pantaslah bagi kami —seandainya kami menjadi bagian dari kelompok alumni 212— menilai bahwa pengguna-pengguna whisper adalah orang-orang jahiliyah.

“Berarti, harusnya kalau mau dakwah ya di Whisper!” ungkap salah seorang kru Sediksi, yang juga merangkap jadi pengguna whisper level newbie.

Dakwah dan Media Sosial

Dakwah dan media sosial kini sedang menjadi tren. Banyak para da’i yang menyiasati perkembangan teknologi informasi dengan cara mulai berdakwah di berbagai media sosial. Bahkan, mungkin ada di antara mereka yang karirnya sebagai pendakwah justru dimulai dari media sosial.

Facebook, Instagram, Youtube dan Twitter (FIYT) adalah platform yang umum digunakan para Da’i untuk berdakwah. Platform-platform tersebut memiliki pengguna melimpah. Sangat cocok apabila digunakan sebagai sarana membangun basis jamaah.

Kendati begitu, apabila merujuk pada pengertian dakwah secara umum yang berarti seruan untuk mengamalkan ajaran agama, berarti dakwah seyogyanya bertujuan ‘mencerahkan’ mereka-mereka yang belum sempat mengamalkan nilai-nilai agama.

Artinya, bila output berdakwah adalah bertambahnya jumlah kelompok-kelompok ‘yang tercerahkan’, maka market yang tepat sebetulnya ada di platform-platform berisikan kelompok-kelompok ‘yang belum tercerahkan’. Sedangkan, FIYT adalah market yang terlalu luas bagi para pendakwah. Platform-platform tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang tak terhitung: kecuali oleh pemiliknya.

Analogi sederhananya seperti ini:

Ada seorang pria, sebut saja Kelengkeng. Ia menjual jasa antar jemput. Target pasar Kelengkeng adalah mahasiswa. Oleh karena itu ia menetapkan kampus sebagai media pemasaran usahanya. Jumlah mahasiswa dalam satu kampus adalah 50 ribu orang dan jumlah mahasiswa yang memiliki kendaraan, lebih banyak daripada mahasiswa yang tak memiliki kendaraan.

Apabila Kelengkeng memasarkan usahanya dengan cara menempel-nempel poster di mading-mading kampus, maka peluang iklannya dilihat oleh mahasiswa yang tak memiliki kendaraan akan beririsan dengan peluang iklannya dilihat oleh mahasiswa yang memiliki kendaraan.

Berbeda apabila Kelengkeng menempel iklannya di angkutan umum. Anggap semesta Kelengkeng belum mengenal Ojol dan angkutan umum masih jadi primadona bagi mereka yang tak memiliki kendaraan. Peluang iklannya dilihat oleh mahasiswa yang tak memiliki kendaraan akan jauh lebih besar. Nilai konversi dari iklan menuju pengguna jasa Kelengkeng, berpeluang melonjak dibandingkan jika Kelengkeng menempel poster dan iklannya di kampus.

Keanekaragaman hayati pada FIYT identik dengan kampus dalam semesta Kelengkeng. Kurang homogen untuk dipergunakan sebagai media dakwah. Ditambah, persaingan di FIYT juga cukup tinggi. Meski ada manfaat lain, yaitu menjaga loyalitas jamaah, tetap saja nilai konversi dari ‘yang belum tercerahkan’ menuju ke ‘yang tercerahkan’ sulit untuk dideteksi.

Lantas, andai kata kami percaya bahwa whisper merupakan salah satu wahana bagi para pemburu FWB (Friend With Benefit), maka sudah sewajarnya media sosial berfitur anonim ini menjadi ‘lahan’ basah bagi para Da’i untuk menyebarkan syiar keagamaan. Namun, apakah mungkin?

Membicarakan Altruisme dan Dakwah

Sejenak, simpan dulu pembahasan tentang dakwah dan media sosial. Mari meluangkan waktu sejenak untuk mengulas altruisme. Altruisme adalah kebalikan dari egoisme. Bahkan, kerap dikatakan bertolak belakang. Semakin tinggi tingkat altruisme seseorang, semakin rendah tingkat egoismenya. Namun, ia berbeda dengan ‘perilaku menolong’ atau ‘prososial’ yang dalam kajian psikologi, memiliki motif bermacam-macam, termasuk unsur egoisme itu sendiri.

Manusia dengan tingkat altruisme yang tinggi tidak akan keberatan menolong orang lain, bahkan jika perbuatan menolong itu harus merugikan dirinya sendiri.

Misalnya, ada seseorang pria, sebut saja Pepaya. Dia sudah melajang 6 tahun lamanya. Dan di usianya yang menjelang senja, Pepaya tertarik dengan seorang wanita, sebut saja Mangga Muda.

Setelah tiga bulan PDKT dengan Mangga Muda, tetiba teman si Pepaya, seorang pria, sebut saja Bengkoang, mendatangi Pepaya. Bengkoang minta dicarikan kekasih. Pepaya ingat bahwa Bengkoang melajang lebih lama dari dirinya: 6 tahun 12 hari lebih 4 jam.

Dengan segenap ketulusan, PDKT Pepaya ke Mangga Muda tersulap menjadi usaha mengenalkan, sekaligus menjodohkan Bengkoang dengan Mangga Muda. Magic!

Pepaya bodoh? Bagi sebagian orang barangkali iya. Apalagi yang usia melajangnya sudah berdigit dua. Bagi mereka, Pepaya mungkin bisa disebut jenius: dengan catatan bahwa derajat jenius jauh lebih rendah daripada derajat bodoh.

Akan tetapi, dari sudut pandang lain, Pepaya bisa dikatakan memiliki level altruisme di atas rata-rata. Menjadi pengecualian tatkala di balik sikap menolongnya itu, ada maksud tersembunyi yang berujung pada keuntungan bagi diri Pepaya. Itu berarti Pepaya telah menolong atas dasar egoismenya.

Lantas, jika menggunakan logika sederhana macam itu, bisakah dakwah disebut sebagai bentuk dari altruisme? Harusnya bisa.

Perilaku menolong dalam bentuk dakwah sangat lekat dengan ajaran agama, dimana itu mengartikan bahwa dakwah syarat akan nilai. Dakwah hanya bisa disebut dakwah, apabila berasal dari ketulusan hati yang paling dalam. Tidak semerta-merta disebut sebagai perilaku menolong yang bisa didasari oleh motif apa saja.

Bila ada sedikit saja keegoisan dalam diri Da’i, terlebih bila keegoisannya berkutat di seputar urusan duniawi, maka dakwah yang dilakukan tidak bisa disebut seideal-idealnya dakwah. Meskipun, tetap bisa disebut sebagai perilaku menolong. Bukan begitu man-teman?

Oleh karena itu, sangat memungkinkan bila dakwah dapat dilakukan di Whisper. Sekalipun, anonimitas di Whisper akan menghambat jalan seorang Dai menjadi terkenal.

Manusia, Whisper dan Dakwah

Persoalannya, pelaku dakwah adalah manusia. Level altruistik pada manusia rentan berubah-ubah dan tak akan lepas dari situasi dan kondisi yang meliputinya. Anonimitas adalah salah satunya. Sebuah eksperimen mengkaji tentang sejauh mana anonimitas berperan dalam perilaku altruisme. Hasilnya menunjukkan, level altruistik pada seseorang yang berada dalam situasi anonim, lebih rendah dibandingkan level altruistik pada non-anonim.

Eksperimen ini meninjau tindakan altruistik dengan cara mengukur sejauh mana pengabaian sosial (dalam penelitian disebut discount social) pada partisipan. Pengabaian sosial sendiri diukur melalui ketersediaan partisipan untuk memberikan bantuan (berupa uang) terhadap 100 orang yang mereka kenal, namun dengan keintiman yang bertingkat.

Partisipan dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni kelompok pengamatan, kelompok anonim dan kelompok standar. Pada kelompok pengamatan, partisipan diberitahu bahwa penerima mengetahui siapa pemberi uang tersebut. Pada kelompok anonim, partisipan diberitahu bahwa penerima tidak akan mengetahui siapa yang memberikan uang tersebut. Sementara pada kelompok terakhir, tidak ada intruksi khusus.

Perbedaan tampak pada jumlah uang yang diberikan oleh partisipan kepada orang dengan tingkat keintiman rendah (jarak sosial jauh). Jumlah uang yang diberikan oleh kelompok pengamatan kepada mereka lebih besar dibandingkan jumlah yang diberikan oleh kelompok anonim dan standar. Dari sinilah, penelitian mendapat kesimpulan bahwa altruisme dengan kondisi non-anonim, lebih tinggi daripada altruisme dalam kondisi anonim.

Berdasarkan hasil penelitian inilah saya menilai bahwa dakwah akan sulit menjadi seideal-idealnya dakwah, apabila dilakukan di whisper. Dakwah sesungguhnya menuntut level altruisme yang tinggi pada seorang Da’i. Sementara Da’i, adalah seorang manusia yang mana ketika dikaji melalui sudut pandang psikologi, sulit mencapai pada titik tertinggi altruisme apabila diliputi oleh anonimitas.

Melalui whisper, identitas seorang Da’i tidak akan terungkap. Sekalipun ia menggunakan nickname Ustadz Somad, seberapa tinggikah tingkat kepercayaan orang-orang kepada dirinya?

Lagipula, sebagaimana disinggung pada laporan eksperimen di atas, penilaian terhadap altruisme seseorang juga menuntut keberadaan komitmen. Berbicara komitmen, maka waktu juga menjadi persoalan yang wajib dipertimbangkan. Karena aktivitas yang hanya dilakukan secara temporal, belum bisa menunjukkan komitmen pada pelaku aktivitas bersangkutan.

Pengalaman saya setelah menginstall whisper dan ‘bermain peran’ sebagai pria agamis memperkuat keraguan-keraguan tersebut. Permainan peran itu saya terapkan dengan cara mencoba menuliskan status-status berisi ajakan untuk menunaikan sholat, hingga seruan ayat-ayat kitab suci yang melarang perbuatan zina.

Alih-alih punya basis jamaah, permainan peran yang berlangsung selama dua minggu itu justru membuat saya berkali-kali dicaci-maki. “lo masih c*li sama JAV aja, bacot dakwah,” begitu salah satu respon pengguna whisper, ketika saya menuliskan terjemahan QS An Nur ayat 30.Agamis gak maen ginian coek! Baca kitab suci!” dan ini salah duanya.

Pun tak mendapat caci maki, membangun kepercayaan di whisper itu juga teramat sulit. Boleh jadi pengetahuan dan wawasan keagaamanmu melampaui Gus Dur. Namun, apabila sudah ambil bagian dalam semesta Whisper, lantas kemudian menyerukan ajakan untuk mengamalkan nilai-nilai agama, paling-paling hanya dianggap modus pria dalam mencari FWB atau teman ONS (one night stand). Hiks.

“Ayat kitab suci kok lu pake buat cari FWB-an,” salah tiganya.

Respon negatif para pengguna whisper seperti di atas tentu bakal menjadi tantangan tersendiri bagi komitmen Da’i yang mulai berdakwah di whisper. Butuh kesabaran dan istiqomah level dewa dalam menghadapi respon-respon negatif tersebut, agar bisa menjaga komitmen untuk berdakwah di sana. Bila hanya dua bulan, kemudian bosan, maka dakwah jadi sebatas ucapan belaka, tidak dapat mencapai level seideal-idealnya dakwah.

Mari Berdakwah di Whisper!

Bukan tidak percaya, hanya saja popularitas, tarif, juga sejumlah kontroversi yang pernah muncul dari kalangan pendakwah, membuat keyakinan tentang altruisme pada para Da’i kondang kerap terganggu. Lebih-lebih jika sudah mendekati momen-momen politik, dimana dakwah dan popularitas Da’i kerap dijadikan “sarana” berkampanye sejumlah pihak.

Pikiran mengganggu ini juga sebenarnya tak hanya berlaku bagi para Da’i terkenal, melainkan juga berlaku pada anak zaman now. Terutama yang gaya pacarannya, mengutip sebuah status di whisper, “saling mengingatkan jangan lupa beribadah kala berjauhan, tapi bercumbu-mesra waktu berdekatan”.

Saya juga pernah mendapat cerita dari seorang wanita pengguna whisper, sebut saja Apel. Begini ceritanya:

Apel sudah beberapa bulan menjadi pengguna whisper. Suatu ketika, ia berkenalan dengan seorang pria, sebut saja Anggur. Apel dan Anggur cukup intens dalam bertukar cerita di whisper. Dalam perbincangannya, si Anggur kerap menasihati Apel dengan berbagai ayat dari kitab suci.

Merasa cocok, Apel dan Anggur bertukar nomor whatsapp, lengkap dengan akun instagram masing-masing. Apel pun akhirnya tahu bahwa nasihat-nasihat bertema dakwah itu juga kerap menghiasi halaman profil instagram si Anggur.

Sampai pada suatu waktu, Apel memutuskan untuk mengakhiri komunikasinya dengan si Anggur. Alasannya, tiada angin tiada hujan, si Anggur mengirimkan foto alat kelaminnya pada Apel. Selang beberapa hari kemudian, si Anggur juga mengirimkan video wanita berjilbab sedang melakukan hubungan seksual dengan seorang laki-laki. “Ternyata tetap aja mesum,” kata Apel kepada saya, “konyolnya, sampai sekarang dia masih sering berdakwah di instagram,” lanjutnya.

Saya memang tidak sepenuhnya percaya kepada cerita si Apel. Ini whisper lur, bukan tempat yang tepat mencari kepercayaan. Di sisi lain, cerita si Apel bukan cerita yang mengejutkan bagi saya. Sebab, saya pun punya kenalan yang kala kami bertemu gemar menceritakan tentang aktivitas seksualnya di tempat-tempat hiburan malam ibukota, namun instagram membingkai dirinya menjadi seorang yang dekat dengan ulama.

Sejujurnya, saya bukan seorang moralis, apalagi pendakwah. Toh ya kalau saya moralis, tak mungkin jua saya memasang whisper pada handphone dan terlarut di dalamnya. Saya cuma ingin menyampaikan pendapat mengenai dakwah yang kemurniannya mulai terganggu. Sekaligus memberi alternatif bagi mereka-mereka yang punya passion di bidang dakwah dan ingin menguji keihklasannya.

Bagaimanapun, ilmu pengetahuan selalu punya celah untuk dibantah. Boleh jadi eksperimen di atas menunjukkan bahwa anonimitas bakal mengurangi kadar altruisme manusia. Namun, bukan tidak mungkin terdapat orang-orang yang bisa melampaui eksperimen macam itu, atau bahkan ilmu pengetahuan.

Dan, satu lagi kenapa whisper patut dipertimbangkan sebagai media dakwah.

Bukankah alasan Kanjeng Nabi diutus ke tanah Arab adalah membawa kemajuan bagi masyarakat di sana yang peradabannya masih tertinggal? Jadi, apa salahnya bila kita mencoba mulai berdakwah di Whisper?

Eh, kok kita. Lo aja deh, gue gak kuat. Sumpah!

CMIIW.

Infografis Whisper
Muhamad Erza Wansyah
Belum selesai berobat jalan, tapi sudah terlanjur lulus dari jurusan psikologi di Universitas Brawijaya.