Kasak-Kusuk Media Online di Malang

Kasak-Kusuk Media Online di Malang

Ilustrasi Peringkat Media Online di Malang

Tidak banyak orang menyadari bahwa mereka punya kartu menarik dalam permainan poker.

Membuat pertanyaan tidak masuk akal, bagi saya, adalah perkara gampang. Beri waktu dua menit, dan saya akan buat lima pertanyaan tidak masuk akal.

Kalau Anda memiliki banyak waktu luang, silakan dengar. Tapi saya merekomendasikan untuk tidak berusaha menjawab. Sebab, sekali pun saya membuatnya, saya ogah menjawab. Sejak awal, saya cuma berjanji memberikan pertanyaan. Bukan jawaban.

Saya sempat merasa itu merupakan sebuah bakat alamiah. Disebut anugerah juga boleh. Tidak banyak orang menyadari bahwa mereka punya kartu menarik dalam permainan poker.

Pernah suatu kali, saya coba mengajukan pertanyaan melalui cerita ke sekitar 800 pengikut saya di Instagram, “Jika benda mati bisa berbicara, kamu ingin mengajukan pertanyaan dan kepada benda apa?” Ada satu respon menggelitik. “Ke deodorant. Gimana rasanya setiap hari mencium bau ketek?”.

Celakanya, bukti-bukti ide aneh itu lenyap setelah akun itu saya hapus tahun lalu. Enam bulan kemudian, saya membuat akun lagi dan itu membuat saya menyadari bakat itu ikut lenyap. Ternyata bakat membuat pertanyaan tidak masuk akal dimiliki banyak orang. Saya enggan menjadi seragam.

Saya pernah mendengar kalimat berbunyi “jika tidak bisa menjadi luar biasa, maka jadilah berbeda.” Kalimat ini memengaruhi cara pikir saya sejak remaja. Puncaknya, meledak saat memutuskan berhenti menjadi wartawan. Untuk menjadi berbeda, saya perlu membuat sesuatu. Untungnya, paska mengundurkan diri sebagai wartawan, saya punya banyak waktu luang dan menemukan hobi baru: eksperimen.

Anda boleh membuktikannya ke beberapa kru Sediksi macam Ali, ilustrator Sediksi dan orang dibalik proyek @kartungabud. Atau ke Fajar, editor Sediksi dengan segudang pengalaman sebagai wartawan terakota.id. Mereka berdua pendengar setia ide-ide aneh bikinan saya. Portal ini termasuk salah satu korban eksperimen saya, dan mengutak-atiknya justru mendatangkan lebih banyak ide aneh.

Belakangan, tidak cuma perkara utak-atik tampilan, obsesi saya melebar kemana-mana. Misalnya strategi meningkatkan trafik, hingga desain web ramah pengguna. Gara-gara itu saya bisa belajar mainan baru: Alexa.

Saya pernah bekerja sebagai wartawan media cetak selama kurang lebih dua tahun. Saat itu, platform media online belum begitu dilirik, dan tentu saja Alexa belum didewakan oleh sebagian media lokal. Kini banyak hal berubah dan pegiat media daring, hampir semua mengimani ‘harta, tahta, Alexa’.

Dewa Bernama Alexa dan Peringkat Media Online di Malang

Cerita ini barangkali relevan untuk membuktikan bagaimana Alexa dipuja-puja. September 2018, Tribunnews, anak perusahaan Kompas, bikin geger karena peringkatnya di Indonesia mempecundangi Google. Dahlan Dahi, sang direktur, piawai memanfaatkan momentum. Melalui jaringan tribunnews.com di daerah-daerah, ia mengatakan, “Tribunnews adalah satu-satunya website di dunia berbasis berita dan dapat mengalahkan Google.”

Jika doyan membaca berita, apa lagi akrab dengan dunia jurnalistik, citra Tribunnews cukup unik. Mereka punya strategi tertentu untuk mengemas produk mereka dan perusahaannya. Peringkat di Alexa mencerminkan hal ini. Justru tidak memanfaatkan statistik Alexa itu untuk kepentingan branding merupakan blunder.

Per tanggal 5 Oktober 2020, berdasarkan peringkat di Alexa, Okezone berada di peringkat pertama. Salah satu teman wartawan saya masih menganggap Tribunnews menempati posisi pertama.

Di liga media lokal Malang, beberapa media juga piawai memanfaatkan momentum. Malangtimes, misalnya. Di tahun ketika Dahlan Dahi dan Tribunnews unjuk gigi dengan ranking Alexa, Malangtimes juga melakukan hal serupa.

Melalui sebuah berita, dilengkapi infografik, Malangtimes menobatkan diri sebagai media nomor satu di Malang. Berdasar peringkat Alexa, pada berita itu, Malangtimes menduduki peringkat 291 Indonesia dan membuatnya menjadi media online dengan peringkat Alexa tertinggi di Malang. Setelah lewat dua tahun, apakah klasemen media online di Malang mengalami perubahan?

Rasa penasaran ini membuat saya bertanya ke salah satu rekan wartawan. Ia membalas dengan mengirim infografik Malangtimes terbitan 2018 itu. Dih, ini mah data lama, pikir saya.

Jawabannya kurang memuaskan dan saya memutuskan mencarinya lewat mesin pencari di internet. Tak ada data terbaru bisa ditemukan, dan Alexa adalah jawaban. Tentu saja ini sekaligus memenuhi hasrat main-main saya dengan Alexa. Berikut ini secara singkat gambaran media online dengan rank Alexa tertinggi di Malang.

Rumusannya sederhana, untuk menentukan peringkat media online di Malang saya membandingkan beberapa media online di Malang berikut ranking Alexa mereka. Ada dua ranking, dunia dan Indonesia. Pilihan jatuh di ranking Indonesia.

Saya memeriksa ulang ranking 38 media online di Malang, membuka satu per satu situs mereka, memeriksa kapan terakhir kali mempublikasikan berita, dan terpenting adalah berapa peringkat mereka di Alexa.

Kejutan pertama adalah situs media tempat saya bekerja sebagai wartawan dulu sudah tidak aktif lagi. Kedua, jumlah situs tidak aktif lebih dari satu. Sembilan dari 38 media tidak dapat diakses lagi dan/atau tidak ada berita terbaru. Kejutan ketiga ialah jumlah media baru di Malang justru bertambah 8. Hal keempat ialah klasemen tiga besar berubah. Meski peringkat pertama tetap diduduki Malangtimes, posisi dua dan tiga diambil alih media lain. Malangtimes justru naik ke posisi 241 ranking Alexa di Indonesia per 5 Oktober 2020 . Dua media pesaingnya di tahun 2018, Malangtoday.net dan Ngopibareng.id turun drastis.

Sebelumnya, Malangtoday.net berada di posisi kedua dengan rank Alexa 322, dan kini situs Malangtoday tidak lagi bisa diakses. Sementara Ngopibareng.id di posisi ketiga dengan ranking Alexa 374 turun ke  ranking 16.010. Posisi kedua dan ketiga saat ini diisi oleh Beritajatim.com di peringkat 356 dan jatimtimes di peringkat 373. Keduanya merupakan media arus utama berskala provinsi.

Saya mahfum ketika menilai keberadaan malangtimes.com di puncak klasemen itu masuk akal. Kecuali jika saat itu Malangtimes melibatkan Surya Malang. Situs web Surya Malang menginduk pada tribunnews sehingga anak perusahaan Kompas ini tidak memiliki ranking independen di Alexa.

Alexa sebagai platform pemeringkat website terbesar di dunia tidak menghitung secara khusus ranking untuk masing-masing subdomain. Sehingga Surya Malang dengan domain suryamalang.tribunnews.com-nya akan berada di puncak. Bahkan, hanya ada dua kemungkinan bagi malangtimes.com untuk menggusur Surya Malang dari puncak klasemen Alexa: menunggu Surya lepas dari tribunnews.com atau menanti Alexa meranking subdomain secara terpisah.

Kendati demikian, melibatkan media-media berskala jatim di liga media lokal Malang rasanya tidak fair bagi media-media di lingkup Malang Raya. Pasar pembaca di wilayah Jawa Timur tentu lebih luas. Sejauh penghitungan saya, jika diurutkan tanpa melibatkan media dengan lingkup provinsi, beberapa media Malang memiliki peringkat cukup tinggi.

Media-media berskala Jawa Timur diseleksi, kemudian menyusun dan mengamati kembali hasilnya. Data media-media beserta peringkatnya bisa dibaca lewat infografis ini.

Infografik Peringkat Media di Malang
Peringkat media online di Malang berdasarkan Alexa (05/10/20)

Selisih peringkat antara malangtimes.com dengan kanal24.co.id di peringkat ke-2 ternyata cukup jauh: 3.641. Apalagi selisih peringkat kedua dengan peringkat ketiga, lebih jauh lagi, hampir dua kali lipat: 6.855. Selisih peringkat itu barangkali merupakan alasan kenapa malangtimes.com pada Oktober 2018 lalu turut menyertakan media online berskala Provinsi.

Keberadaan kanal24.co.id dan blok-a.com juga menarik perhatian. Keduanya belum genap dua tahun beroperasi, tapi telah masuk ke jajaran lima besar klasemen media online di Malang. Media arus utama baru lain seperti satukanal.com, kabarmalang.com, atau newmalangpos.id, peringkat Alexanya masih di atas 25 ribu dan pemain lama seperti ngalam.co, infokampus.news, aremamedia.com,  dan lainnya tertinggal cukup jauh.

Adakalanya dalam imajinasi saya, Sediksi bertengger dan ikut berdinamika dalam klasemen itu, namun jelas tidak mungkin. Sebab, Sediksi bukan media arus utama, dan bukan perusahaan pers. Meski peringkat Indonesia Sediksi sejak dua minggu lalu sudah terindeks di Alexa, tidak relevan menyertakan Sediksi ke dalam klasemen.

Ibarat klasemen sepak bola, sediksi adalah tim futsal. Sediksi lebih cocok berada di klasemen media alternatif, seperti pucukmera.id, transisi.org, gubuktulis.com, atau terakota.id. Meski topiknya berbeda, jenis informasinya identik: sama-sama alternatif dan berpusat di wilayah Malang.

Mempertandingkan sesama produsen konten berisi informasi alternatif membuat saya merasa tidak nyaman. Maka lebih baik, tidak perlu ada klasemen media alternatif dan saya berharap kami bisa saling menguatkan.

Menjalankan media semacam ini tidak mudah dan banyak tantangan. Sediksi baru tiga minggu ini bisa memproduksi konten secara rutin. Itu pun karena kami terpantik oleh sesuatu dari luar. Tidak perlu dijelaskan secara detil, intinya saat itu kami bergejolak. Hatinya. Bukan anunya.

Untungnya, portal alternatif ini berisi orang-orang menyebalkan dan bingung cari pekerjaan. Bukannya cari duit, malah belajar. Giliran waktunya belajar, malah belajar cari duit. Haduh.

Ada Rifky, si sekretaris redaksi, lulusan Hubungan Internasional, malah belajar bercocok tanam sambil menjajal cara bikin artikel ramah mesin pencari. Terus si Dhani, penulis dan ilustrator Sediksi, disuruh daftar PNS sama emaknya, malah sibuk baca banyak jurnal Bahasa Inggris cuma untuk mempopulerkan karya ilmiah ke dalam bentuk opini.

Oky, ilustratornya, sudah dikasih tahu kalau UI/UX Design tidak begitu diperhatikan oleh kebanyakan media online di Indonesia, tapi kok ya ngotot belajar bikin begituan cuma gara-gara baru lihat design.theguardian.com. Ia baru paham kalau The Guardian melakukan riset dan bikin font sendiri demi memanjakan pembaca mengakses beritanya.

Sedangkan tiga orang lainnya, Mita, Tasia dan Rico, bikin saya ndak abis pikir. Sudah tahu dunia ini kejam, DPR-nya budeg, RUU Cipta Kerja disahkan, kok ya masih mau diajak belajar main-main di Sediksi. Padahal, dibanding Sediksi, Covid-19 berkembang pesat, berlipat ganda dan proyek-proyeknya jelas lebih menjanjikan.

Kalau memang begitu, jelas saya tidak mau kalah. Saya terobsesi jadi orang paling menyebalkan dan tidak masuk akal. Dan karena sudah merasa bukan satu-satunya pemilik bakat mengajukan pertanyaan tidak masuk akal, maka saya berlatih untuk makin menyebalkan dengan melakukan eksperimen paling remeh:

Menulis artikel ini sepanjang lebih dari 1600 kata tanpa menggunakan “yang” cuma karena lagi pengen membisikkan sebuah pertanyaan:

“Kenapa baru tiga minggu Sediksi aktif, rank Alexa-nya sudah 9.389?

Jadi, yuk, push rank bareng kami! Gogogo!

Penulis
Muhamad Erza Wansyah

Muhamad Erza Wansyah

Terlanjur lulus dari jurusan psikologi di Universitas Brawijaya. Pengen punya kerajaan bawah laut.
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp