Mengenal Jahe Gajah, Ukurannya Sebesar Telapak Tangan Orang Dewasa!

Mengenal Jahe Gajah, Ukurannya Sebesar Telapak Tangan Orang Dewasa!

Mengenal Jahe Gajah
Image from Inaexport

DAFTAR ISI

Sediksi.com РApakah pernah mendengar tentang jahe gajah? Jika belum, maka kamu melewatkan satu keajaiban dunia rempah yang luar biasa. Sesuai namanya, jahe ini memiliki penampilan ukuran rimpang yang lebih besar dibanding jenis jahe yang lainnya.

Jahe gajah adalah varietas jahe yang masih belum banyak dibudidayakan. Namun, memiliki potensi budidaya yang menguntungkan bagi petani yang menanamnya.

Tanaman ini punya manfaat luar biasa bagi kesehatan dan kebiasaan orang Indonesia mengonsumsi rempah ini untuk menghangatkan badan membuat jahe, tak terkecuali varietas gajah ini akan selalu dicari orang, entah untuk kesehatan atau keperluan lain.

Karakteristik Umum Jahe Gajah

Image from Inaexport

Jahe gajah juga dikenal sebagai Zingiber officinale var. offcinale termasuk suku Zingiberaceae, yakni salah satu tanaman rempah-rempahan yang telah lama digunakan untuk bahan baku obat tradisional.

Jahe pada umumnya berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari China sampai India. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama untuk obat-obatan tradisional, bahan minuman sampai bumbu masak.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Abdul syukur dan Nur berjudul Kajian Pengaruh Pemberian Macam Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jahe (2006), secara penampilan, jahe gajah ini sangat mudah dibedakan dengan jahe pada umumnya.

Ukuran rimpangnya sendiri sangat besar dengan bobot berkisar antara 1-2 kg per rumpun dengan struktur rimpangnya besar dan berbuku-buku. Untuk tinggi rimpang dapat mencapai 6-12 cm dengan panjang 15-35 cm dan diameter berkisar antara 8,5 cm.

Perbandingannya sangat jauh jika dibandingkan dengan varietas jahe lainnya yang normalnya hanya berbobot setengah kilo atau tidak sampai 1 kilo per rumpun.

Kandungan Jahe Gajah

Rimpang jahe yang besar ini terkandung minyak atsiri 0,82%-1,66%, kandungan minyak atsiri inilah yang membuat jahe memiliki bau/aroma yang khas. Jahe gajah umumnya tidak terlalu pedas.

Minyak atsiri berpotensi sebagai antiinflamasi dan antioksidan yang ampuh untuk menangkal radikal bebas, sehingga mampu memperkuat imun tubuh.

Memang jika dibandingkan varietas jahe lainnya seperti jahe merah dan jahe emprit, varietas jahe gajah memiliki kandungan minyak atsiri paling rendah. Jahe merah dengan 2,6-3,9% dan jahe emprit 1,5-3,5%.

Hitungan tersebut berdasarkan persenan dari bobot. Dengan bobot jahe gajah yang 2-3 kali lipat dari 2 varietas jahe lainnya. Jadi, walaupun persenan lebih sedikit tapi secara kuantitas bobot jahe gajah jauh diatas jahe merah dan jahe emprit.

Kandungan lain pada jahe jenis ini adalah kadar pati sebesar 55,10%, kadar serat 6,89% dan kadar abu 6,6%-7,5% .

Secara umum, jahe dapat tumbuh subur di dataran rendah sampai tinggi 0-1.500 mdpl. Jahe gajah ini tumbuh optimal di ketinggian 500-950 mdpl, dengan curah hujan yang dibutuhkan 2.500-3000 mm per tahun.

Optimal atau tidaknya pertumbuhan jahe tentu juga didukung oleh keadaan tanah, yakni harus mempunyai kandungan unsur hara yang tinggi atau subur dengan tanah tidak boleh tergenang air dengan pH 5,5-7.

Potensi Budidaya Jahe Gajah

Komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi satu prospek yang sangat menjanjikan di bidang biofarma.

Kebutuhan pasar akan jahe gajah sekarang ini tidak hanya pasar dalam negeri saja, bahkan sudah merambah sampai luar negeri. Bumbu masakan, bahan minuman dan bahan baku obat menjadi hilir dari komoditas ini.

Potensi yang ada seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh petani. Dari penelitian dengan judul Analisis Pendapatan Usahatani Jahe Gajah di Kelompok Tani Ridomanah XIIB masih ada beberapa kendala dan resiko yang dihadapi dan seharusnya bisa diatasi dengan baik.

Kendala secara teknis seperti kurangnya ketersediaan bibit yang berkualitas dan fluktuasi harga jual yang tidak pasti tentu akan berdampak pada pendapatan petani itu sendiri.

Resikonya dengan fluktuasi harga jual yang tidak pasti, seringkali petani menerima harga jual yang tidak sesuai dengan biaya produksi sehingga akhirnya tingkat pendapatan rendah.

Namun dalam kasus petani di kelompok tani ridomanah XIIB ini dengan perhitungan biaya variabel atau modal untuk menanam jahe berukuran jumbo ini sebanyak satu hektar menghabiskan dana sekitar 57 juta. Rinciannya, membeli bibit 1 ton, pupuk kandang 20 ton, pupuk kimia, hingga tenaga kerja.

Dengan penerimaan setelah dijual bisa mencapai 180 juta dengan harga jual 12-15 rb/kg. Namun harga jual ini adalah yang tertinggi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 tahun-tahun kemarin yang membuat komoditas biofarmaka naik drastis. Sedangkan harga jual normal jahe gajah ditingkat petani berkisar antara 5-6 rb per kg.

Untuk pasar internasional sendiri, pada awal bulan mei lalu, dikutip dari berita Kemendag langsung, Mesir menandatangani kontrak dagang pembelian jahe gajah sebanyak 120 ton senilai USD 156 ribu atau sekitar Rp. 2,28 miliar.

Pasar internasional sangat terbuka lebar bagi komoditas yang satu ini. Permintaan yang terus meningkat dan kebutuhan akan rempah terkhusus jahe yang tidak akan pernah mati membuat komoditas ini bagus untuk jadi pilihan sebagai tanaman yang menguntungkan untuk dibudidayakan.

Lihat tulisan lainnya di Google News