Xi Jinping Akan Memimpin KTT Tiongkok-Asia Tengah Pertama Kali

Xi Jinping Akan Memimpin KTT Tiongkok-Asia Tengah Pertama Kali

Xi Jinping akan memimpin KTT Tiongkok-Asia Tengah
Feng Yongbin/chinadaily.com.cn

DAFTAR ISI

Sediksi.com – KTT Tiongkok-Asia Tengah akan diselenggarakan selama dua hari pada 18-19 Mei 2023 di Xi’an, Provinsi Shaanxi, Tiongkok. Selain sebagai tuan rumah, Presiden Tiongkok, Xi Jinping juga untuk pertama kalinya akan memimpin pertemuan tersebut.

Profil Xi Jinping sebagai presiden dan pemimpin negara sebesar Tiongkok jelas sangat berpengaruh. Perekonomian negeri tirai bambu merupakan salah satu yang terkuat di dunia.

Apa itu KTT Tiongkok-Asia Tengah?

Kantor Presidensial Kyrgyz

KTT Tiongkok-Asia Tengah yang bisa juga disebut C+C5 (China-Central Asia Summit) atau 5+1 adalah agenda Tiongkok dan lima negara Asia Tengah untuk membahas kerja sama ekonomi dan perdagangan.

Kombinasi negara-negara ini merupakan bentuk dari kemajuan hubungan diplomatik antara Tiongkok dengan lima negara Asia Tengah yang sudah dibangun sejak 31 tahun lalu. Adapun kelima negara Asia Tengah tersebut adalah Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.

Tahun ini akan menjadi tahun yang bersejarah bagi C+C5, utamanya masing-masing negara yang berpartisipasi dalam acara ini. Sebab tahun 2023 ini menjadi tahun pertama KTT ini berlangsung secara tatap muka.

Sebelumnya, mereka sudah pernah melaksanakan KTT ini sebanyak dua kali pada tahun 2022 dan 2020. Hanya saja, keduanya dilaksanakan secara daring akibat pandemi.

Format 5+1 dimana satu negara mengadakan pertemuan dengan negara-negara dari satu kawasan bukanlah hal baru. Format ini diawali Jepang pada tahun 2004. Kemudian diikuti oleh Korea Selatan, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan akhirnya Tiongkok saat ini. 

Meskipun terkesan terlambat karena baru diinisiasi 31 tahun sejak hubungan diplomatik terbentuk, hubungan antara Tiongkok dengan kelima negara Asia Tengah tersebut sangat baik. Bahkan peran Tiongkok di hubungan diplomatik tersebut sangat penting dan berhasil menjaganya selama lebih dari tiga dekade. 

Itulah mengapa pembentukan agenda KTT Tiongkok-Asia Tengah ini menjadi bukan hal yang terlalu sulit untuk disiapkan.

Alasan Tiongkok memperkuat hubungan dengan Asia Tengah

Tiongkok memanfaatkan Asia Tengah sebagai daerah transit untuk aktivitas perdagangan antara Tiongkok dan Eropa. Untuk tujuan tersebut, Tiongkok telah menggelontorkan dana hingga triliunan rupiah agar dapat mengakses cadangan gas alam di kawasan tersebut. 

Tiongkok juga sudah membangun jalur kereta yang menghubungkan Tiongkok dengan Eropa melalui kawasan Asia Tengah. Jalur kereta ini memungkinkan perjalanan langsung dari Tiongkok ke Eropa dan sebaliknya.

Agenda ini sudah dimulai sejak 2013 dan masuk dalam proyek besar dan ambisius Tiongkok untuk menghubungkan Tiongkok dan kawasan Eropa dengan membangun infrastruktur dan jalur transportasi darat maupun laut. Hingga tahun ini, proyek ini berjalan sesuai dengan rencana Tiongkok.

Hal ini semakin didukung dengan sanksi yang diberikan kepada Rusia karena menginvasi Ukraina. Sebelum Rusia menginvasi Ukraina, Rusia dianggap sebagai yang memberikan keamanan di kawasan Asia Tengah. 

Di sisi lain, Tiongkok juga sudah menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan Asia Tengah. Sehingga terbangunlah rasa saling percaya di antara kedua pihak tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Niva Yau kepada Deutsche-Welle (16/5), tim dari lembaga think-tank Atlantic Council yang meneliti tentang Pusat Global Tiongkok.

“Ketika Rusia tidak dapat memberikan Asia Tengah sebanyak sebelumnya, Tiongkok masuk dan memberikan para pimpinan Asia Tengah banyak kesempatan untuk berinvestasi dan yang paling penting lagi, kepastian.”

Rencana bebas visa Tiongkok-Asia Tengah

Salah satu kesepakatan yang bisa dinantikan dari pertemuan ini nanti adalah pengesahan kebijakan bebas visa antara Tiongkok dengan beberapa negara Asia Tengah.

Sejauh ini, negara-negara di kawasan Asia Tengah yang sudah menyepakati kerja sama ini adalah Kazakhstan dan Uzbekistan. Sedangkan Kyrgyzstan masih dalam proses negosiasi mengenai hal tersebut.

Secara umum, kabar bebas visa ini disambut dengan baik. Sebab kerja sama bebas visa ini akan semakin mempermudah aktivitas yang melibatkan kedua negara, utamanya di bidang ekonomi dan perdagangan.

Potensi pembahasan konflik Rusia-Ukraina

Untuk saat ini, hampir tidak mungkin pembahasan konflik Rusia-Ukraina dilewatkan begitu saja dari pertemuan yang mempertemukan pimpinan-pimpinan negara. Apalagi Rusia memiliki peran besar kepada kawasan Asia Tengah. 

Namun perang Rusia – Ukraina mau tidak mau berdampak pada kawasan tersebut, lebih tepatnya melemahnya peran Rusia di kawasan Asia Tengah. Sebuah kondisi yang menjadi alasan utama Tiongkok dapat memperkuat perannya di kawasan tersebut.

Sehingga topik tentang konflik perang Rusia-Ukraina sangat mungkin dibahas dalam KTT nanti. Tentu saja tanpa mengesampingkan topik-topik utama seperti ekonomi dan politik kawasan.

Lihat tulisan lainnya di Google News

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM